Renyahnya Luka yang Berdenyut
(ini bukan puisi…)
Harus berubah, lumatlah-lumat, runtuhlah-runtuh apa yang telah bercokol dikepala sekian lama. Jalan yang dititi penuh besi panas yang selalu mendesak kita untuk mundur. Tapi tidak, nyalakanlah sumbu keberanian dengan lebih anjing lagi! Kita baru menanam tiang pancang sedalam setengah meter, harus lebih dalam lagi.
Lihatlah tanganmu, perhatikan, dengarkan ia bicara. Proses, hujan dan debu telah menggilasnya berkali-kali, dan ia hidup, ia tetap menggenggam sampai detik ini. Haruskah kita menghianatinya?
Jadilah lebur dengan tanah, biarkan membumi, hingga rumput tumbuh subur dan menghijau. Jangan dimanja sakit yang berdenyut-denyut itu, tekan, lalu telan. Anggaplah seperti goresan silet yang yang melukai jari. Lantas tersenyumlah, senyumlah dengan ikhlas, buahkan bunga pada hati orang-orang, bahkan pada hati para keparat sekalipun. Luka itu penanggungan kita sendiri, snack kita, hasil tangan kita. Hahahaa, tak ada yang peduli padanya kecuali kita, mamah saja, seperti kambing memamah rumput, seperti gelandangan mengunyah sampah, seperti kita kunyah jamu terpahit, mentah-mentah, tanpa air, rasakan pahitnya, yakinkan pada dirimu bahwa luka itu manis, lupakan pahitnya, telanlah tanpa pikir panjang. Bila setelahnya tak kau temukan air, sekali lagi, senyum saja.
Senyum yang ikhlas.
Pikirkan rasa yang menyenangkan…
membuahkan bunga pada hati orang keparat….. gimana cara??
di hati orang keparat bisa tumbuh bunga yang lebih wangi dari bau melati
gimana caranya menurutmu? aku gak nanya wanginya