‘KUN’
( Jadi, maka jadilah )
‘KUN’
( Jadi, maka jadilah )
Mahasiwa Baru (bahasa puitis, sementara ini libur dulu)
Ok, hari ini gw kumpul di Kampus buat perkenalan perpus. Ini catatan log kasarnya:
– Dateng ke Aula langsung ngerokok, kenalan-kenalan-kenalan (rata-rata mukanya tegang). Tiba-tiba ada yang deketin, minjem korek terus ngomong:
Q : “Emangnya boleh ngerokok ya?”
A : “Hehehe, iya, cuma di pom bensin aja yang dilarang”
setelah kumpul, baru gue tau, dia itu panitia ospek, sukur kagak rese.
– Kita digiring kayak bebek ke perpus jurusan dan kampus. Panitia pengiring : Cewek 2 (1 Jungkis dan atraktif, 1 sok jutek), 1 cowok (sumpah! lebih imut dari kunye!). Tololnya, gue orang pertama yang manggil ‘kakak’ di rombongan itu.
– Perkenalan dimuka umum (nama, asal sekolah, tujuan masuk FSRD, bla-bla-bla).
– Balik
Total durasi : 1,5 jam keliling-keliling, 1,5 jam duduk.
Terhitung beberapa kali gue ketawa / cengar-cengir sendirian, mengingat posisi gue yang berpura-pura tolol waktu itu.
To Be Continued…
(“Lembaran yang Terjaga”)
%heaven //skrip qadha $fid=”42352612″; heaven% |
====================================
FILE : YOU CAN’T README!
CORE:
Lauh Al-Mahfudz = Core, inti utama Skrip Agung Kehidupan. Tingkat sekuriti tertinggi.
Skrip Qadha = Sekumpulan variabel-variabel utama yang memiliki nilai-nilai mutlak bagi setiap user kehidupan.
Skrip Qadar = Library (lengkap) kondisi-kondisi yang menentukan bagaimana variabel-variabel dari Skrip Qadha akan dieksekusi.
MODUL-MODUL DALAM SKRIP QADAR:
Modul Usaha : Handler yang mengurusi penghitungan energi usaha seseorang yang hasilnya akan ditambah dengan hasil penanganan request yang diajukan di Modul Doa.
Modul Doa : Sebentuk handler yang menangani request langsung kepada Super Admin untuk mendukung kestabilan dan kelancaran Modul Usaha.
====================================
Lewat para penyihir, diturunkan kode-kode yang dapat memanipulasi variabel-variabel (bukan variabel mutlak) yang tengah berjalan, begitu juga kepada para wali. Hanya saja yang satu berjalan pada koridor ‘hacker’ dan satu lagi sebagai ‘sub-administrator’ skrip-Mu. Hebatnya, semua kode itu (hitam dan putih) baru bisa berjalan setelah mendapat izin dari Super Admin.
Tuhan, jangan marahi saya karena coba menguraikan kecanggihan teknologi pengelolaan ‘kehidupan’ yang Kau punya. Aku cuma menjalankan perintahMu:
“…. mereka yang memikirkan penciptaan langit dan bumi, dalam keadaan duduk, berdiri, atau tidur…”
*Percobaan_1 menguraikan dengan singkat Skrip Agung Kehidupan.
Mungkin…
Pasir itu remuk ditanganku. Menyerpih mengikuti bahasa bumi; jatuh ke tanah. Kuambil satu-persatu, kuperhatikan; ada masa lalu, ada sejarah, ada asal-muasal dunia. Dalam bodoh kutanya:
“Dari mana asalmu?”
“…( angin membawanya pergi )…”
Kutarik yang lain:
“Kamu pernah ke luar angkasa? Atau kau berasal dari sana?”
“…( dia berguling, jatuh )…”
Kuraup kawanannya:
“Apakah Nabi Adam pernah menginjak kalian??”
“…( sial! satu-persatu merosot kebawah )…”
Kuambil tanah dan pasir (kanan-kiri):
“Oke, gue nanya yang norak sekarang. *berbisik* Ente berdua, pernah liat dinosaurus belum?”
“…( hakikat mereka cekikikan, mungkin mereka jawab; Sering! )…”
Aku tak main-main bertanya, memang penasaran setengah budek! Mereka cuma pasir, ya! Mereka cuma tanah, ya! Tapi mereka adalah perangkat keras yang telah dirancang Tuhan agar selalu ada, semenjak awal penciptaan hingga akhirnya mereka harus di-upgrade dengan tanah sorga atau tanah neraka. Time of Service mereka lebih panjang dibanding umur kita, tapi kerendah-hatian mereka jauh lebih tinggi dari kita *prototype yang mengedepankan kesombongan setiap mengalami ‘kejayaan sesaat’*.
Mereka mengalami hampir semuanya; detik-detik penciptaan semesta, keadaan sunyi, panas berlebih, dingin yang kelewatan, diinjak kaki malaikat, kaki setan, kaki manusia mulia, manusia hina, raja-raja, para budak yang menangis, dan menyaksikan jasad-jasad membusuk. Mereka hanya bagian kecil, dan kita selalu meremehkan hal yang terlihat sepele, coba pandang lagi, mereka adalah storage sejarah terawet dan terpanjang umurnya.
*rahasia! Barusan, aku melihat nabi Adam pada salah satu dari mereka…*
die Veränderungen sing im Gang, das Neue ist hier,
du kannst nicht zurück.
“perubahan sedang berproses, yang baru akan menghampiri, tidak ada jalan balik”
Seorang kawan mengirimkan kata-kata itu. Terbayang jalan gelap dan panjang, sikap yang keras, kemauan yang mantap dan teguh. Keyakinan, sepertinya itu yang memang harus kita pegang erat-erat. Gelap memang sumber dari segala takut. Tapi keberanian pun lahir dari sana, menggeliat disana, dan membuktikan bahwa dirinya memang pantas bernama keberanian.
Seorang kawan berpesan demikian, ketika kemudi kapal kuputar menjauhi navigasi pelayaran yang pertama. Menuju badai dan pelabuhan baru (dengan luka dan sakit yang baru pula). Biarlah, dengan sedikit kesabaran dan setumpuk kebodohan yang kupunya, kuhampiri kegelapan baru.
Ya, kau benar, Tak Ada Jalan Kembali.
Monyet, ternyata begini rasanya abis ngaduk semen (ampir) seharian! Badan pada ‘kenceng’ semua, tiap sendi kayak kurang oli alias mau copot. Andai gue punya bini, pasti udah dipijitin nih (bahkan sekalian bonus juga).
Sialaaaaannn, pagi-pagi gue dikerjain sama nyari barang yang nyempil!!! jadi telat berangkatnya neh!
Apakah kalian percaya pada alasan???
Kau adalah sumur luka yang tak cukup digali dengan sebuah tangis. Hingga membuang pikiran tentangmu pun jadi sebuah sakit lain yang mengerat jiwa. Mimpi terburuk tentangmu, kadang bangkit, hanya kesedihan dalam pasrah yang hadir. Tanpa tahu harus kemana kemudi kapal kuputar. Aku tak bisa menujukannya padamu, tak mungkin lagi. Alam sudah mengisyaratkan perpisahan yang berat, daunan sudah berkata kita harus saling pergi membelakangi satu-sama lain.
Aku tak pernah mengerti kesedihan yang satu ini, tak sukses kuurai-kubentangkan, selalu tetap menjadi sebuah rasa, sebuah perasaan yang mengendap dan menginjak retak-retak hatiku dengan sangat hati-hati.
Tanah kerinduan itu tak mungkin kusentuh lagi, tak bisa. Mungkin tak seperti bangsa Yahudi yang kembali ke Eretz Yisrael, tak juga seperti pelancong haji yang kesampaian mencium Hajar Aswad. Tanah itu hanya bisa kupaling dari jauh, dan kusumbangkan sebuah senyum berbunga, untuk kemudian kutekan sakit yang menyengat di dalam.
Aku tahu, perpisahan, dan akhirnya perpisahan. Satu kondisi telah dieksekusi, runutan fungsinya tengah berjalan. Tak ada bahasa penyesalan dalam kenyataan, karena itu, kuputuskan bagaimana hidup ini harus berlanjut.
( Ini bukan cerpen )
“Sebelum menguasai suatu daratan, kita harus menguasai pantainya terlebih dahulu prajurit! Disana telah berbaris ratusan ranjau dan ribuan personel musuh dengan senjata terisi penuh. Mereka adalah batu, mereka adalah kerikil yang menghalangi kita mencapai tengah daratan. Hancurkan mereka, tumbangkan.”
Teriakan-teriakan perjuangan terus menggaung, kadang mengalir dalam laku, kadang hadir lewat lamunan waktu menatap seorang pedagang asongan. Inilah frontier perjuangan, garis terdepan yang harus siap mati. Infiltrasi pertama memang begitu menyakitkan, beratus prajurit-sel-otak mati begitu mendarat, tapi yang baru segera hadir menggantikan mereka. Komandan utama tak boleh berpikir dua kali (atau makin banyak yang mati), yang boleh hanyalah; pertimbangkan dan putuskan! Ayo terus, … komandan sudah lelah… ayoo terus.. komandan tertembak bahu kirinya.. ayo terus! .. komandan mulai menangis… anak buahnya mati satu persatu begitu turun dari kapal, mereka mati bersama beribu kenangan dan jasa yang tak bertepi…
“Ayo komandan, menangislah, tapi tetap acungkan jarimu, keluarkan perintah-perintah, atau makin banyak diantara kami yang mati”
… komandan matanya mulai kabur tertutup air mata, tenggorokannya tercekat isak tertahan… komandan….
“Begitu menyesakkan…”
Satu kata terucap, dan jutaan cahaya doa memancar dari hatinya. Ia doakan mereka akan segalanya, akan hidupnya, akan karierna, akan matinya, juga diucapkan terima kasih pada nyawa-nyawa kenangan yang pergi bersama roh mereka.
Pecahan granat nyrempet dipipinya. Ia sadar, tangis yang akut segera diusap dengan lengan baju, biar tercampur debu, biar makin perih matanya, tapi infiltrasi ini harus berhasil, pantai ini harus terkuasai agar daratan tercapai. Terkadang kedamaian harus dibayar dengan perang, kehidupan yang sehat harus ditebus dengan kematian.
Infiltrasi berjalan lambat, seolah tak akan henti, desing peluru dan ledakan-ledakan terdengar makin jauh dan asing, sepi dan sesak datang beruntun menghimpitnya, tapi kepalanya tak sempat memikirkan itu semua, ia adalah komandan! Ia sudah tak mampu berpikir apapun lagi, kecuali maju, maju, maju. Tak ada ruang buat cinta yang asing di dadanya, tak ada gerak bagi pertimbangan gundah dikepalanya. Ia harus maju, walau sebenarnya pikirannya sudah kosong seperti abu. Bidikannya selalu meleset tak seperti biasa.
“Infiltrasi pertama. Infiltrasi?? Apa yang sedang aku lakukan?”
Mortir jatuh lima meter disampingnya, dan ia terus maju.