Pasir itu remuk ditanganku. Menyerpih mengikuti bahasa bumi; jatuh ke tanah. Kuambil satu-persatu, kuperhatikan; ada masa lalu, ada sejarah, ada asal-muasal dunia. Dalam bodoh kutanya:
“Dari mana asalmu?”
“…( angin membawanya pergi )…”
Kutarik yang lain:
“Kamu pernah ke luar angkasa? Atau kau berasal dari sana?”
“…( dia berguling, jatuh )…”
Kuraup kawanannya:
“Apakah Nabi Adam pernah menginjak kalian??”
“…( sial! satu-persatu merosot kebawah )…”
Kuambil tanah dan pasir (kanan-kiri):
“Oke, gue nanya yang norak sekarang. *berbisik* Ente berdua, pernah liat dinosaurus belum?”
“…( hakikat mereka cekikikan, mungkin mereka jawab; Sering! )…”
Aku tak main-main bertanya, memang penasaran setengah budek! Mereka cuma pasir, ya! Mereka cuma tanah, ya! Tapi mereka adalah perangkat keras yang telah dirancang Tuhan agar selalu ada, semenjak awal penciptaan hingga akhirnya mereka harus di-upgrade dengan tanah sorga atau tanah neraka. Time of Service mereka lebih panjang dibanding umur kita, tapi kerendah-hatian mereka jauh lebih tinggi dari kita *prototype yang mengedepankan kesombongan setiap mengalami ‘kejayaan sesaat’*.
Mereka mengalami hampir semuanya; detik-detik penciptaan semesta, keadaan sunyi, panas berlebih, dingin yang kelewatan, diinjak kaki malaikat, kaki setan, kaki manusia mulia, manusia hina, raja-raja, para budak yang menangis, dan menyaksikan jasad-jasad membusuk. Mereka hanya bagian kecil, dan kita selalu meremehkan hal yang terlihat sepele, coba pandang lagi, mereka adalah storage sejarah terawet dan terpanjang umurnya.
*rahasia! Barusan, aku melihat nabi Adam pada salah satu dari mereka…*