Disudut jalan, aku melihat ‘api’ yang lain. Menyala-nyala dalam diam dan tajamnya tatap. Hati yang terhubung mengenalinya seketika, api di dada menyambutnya perkasa. Semua berjalan dalam sapa dan senyum hening, sampai ayat Tuhan kami baca damping-berdampingan, tahulah, sadarlah, kedalaman bacaan, intensitas penghayatan tiap-tiap butir ayat melepuhkan tembok yang membayang. Dia membaca dari dalam, dengan energi keharuan dan tunduk yang pasrah. Dia bukan sembarang api.
Tak usah sapa, pandang saja, lontarkan dua kalimat, dan api kami saling mendokan; “Semoga kita menemukan dan sampai ke ujung jalan ini. Selamat!”