25 Sept 2004

Kesedihan mengental di ulu hati, bila teringat tanah itu. Tanah yang kelam dan cemerlang. Penuh dengan bajingan-bajingan istimewa. Begini rupanya, kukira mereka yang akan pergi lebih dulu, rupanya aku.

Memang konyol, aku rindu kebodohanku, aku rindu masa-masa kelam itu. Semesta seperti tak punya kuasa atasku. Malam kubalik siang, dan siang kujadikan malam. Dan mereka -para kumbang yang baik- tak henti berceloteh, nasihat-nasihat manis, dalam cinta. Datang silih berganti, menggantikan tugas angin merubah musim. Adakalanya kecanggihan meraja, ada musimnya ikan hias berenang-renang, tak lupa masa puitis dan drama berjaya, pecintaan-percintaan muda, kenakalan-kenakalan berandal amatir, dan keseriusan-keseriusan tersembunyi yang kadang terkuak. Aku merindukannya, ya. Tergila-gila, ya. Tapi tahu, itu sudah lewat.

Kesedihan melanda tiba-tiba, bila ingat tanah itu. Tapi aku belum dapat tahu kesedihan macam apa itu, karena air mata tak keluar walau hati sudah sesak-melesak, sebaliknya senyum seringkali keluar dengan bahagia.

Ah, mungkin ini yang namanya haru.

3 thoughts on “25 Sept 2004”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 1 =