“Hampura urang Jay….”
Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Kapal yang kubawa terlalu liar rupanya, aku yakin kau tahu, kaupun menyimpan jiwa yang semacam itu jauh dalammu, tapi kau lebih mampu menaklukanya, kau mampu membelokkannya pada saat dan putaran yang tepat. Aku??? Selau saja tersesat, biar seribu orang sudah bicara arah yang harus kutempuh, tetap saja tak kudengar. Jiwa ini seperti menggila, melampaui perintah dan inginku sendiri, dan (selalu) lagi-lagi kami (aku dan jiwaku) tersesat entah dimana. Aku dapat melihatmu, mereka, tapi suaraku tak sampai, begitupun suara kalian. Jiwa ini terlalu memusuhi perintah, ingin bebas sebebas-bebasnya; tapi bodoh. Dan jadilah kami jiwa-raga tanpa sauh, tanpa pelabuhan pasti dalam pelayaran-pelayaran kacau.
Luka menitik dengar panggilanmu, aku seperti meninggalkanmu tanpa menoleh, tanpa mempertanggungjawab-kan api yang pernah kita tiup bersama; dan kau kini sendirian menjaganya dan sedari dulu aku memang sering membuatmu sendiri atau menunggu. Aku tak ingin meminta maaf padamu, takut maaf itu melambangkan berpalingnya aku sepenuhnya, aku tak bisa.
Suatu malam di Babakan Siliwangi, kita bicara hingga pagi, kau katakan yang tak kupunya adalah keberanian untuk meninggalkan yang telah kubangun, dan pergi ke tempat yang baru untuk memulai yang baru. Kalimat itu selalu kukaji, berdiskusi dengan jiwa, melihat stok keberanian yang kupunya. Aku mulai mengerti kalimatmu, kujabarkan dalam hari-hari sekarang ini.
Sama sepertimu, jiwa ini masih lengang mencari arah kemana ia menyelamkan diri utuh-penuh. Kata yang selalu menggetarkan itu, seni, seniman, menjadi kalimat yang tak ber-alas, paragraf tak berinduk, lantas kesepian dalam haus tak henti.
Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Tapi ini bukan titik, selama nyawa masih bersabung, selama itu kemungkinan tak pernah mati. Yang sudah tak mungkin terulang, tapi langkah sejati akan terus membuat jejaknya.
Kita juga pernah bicara, dalam terik siang, di tengah komplek yang sepi, pada hari-hari perjuangan bersama kita, kutunjuk langit: “Masih ada langit yang lebih luas lagi..”. Kupikir kesanalah kita harus berenang, bersama, ruang dan waktu bukanlah halangan. Selama kita masih melangkah, kita masih beriringan.
Wuieh.. jadi termangu membacanya.. sedih.. hik..hik……. ๐