Aku ingin menulis, meluruskan benang kusut yang merintangi jiwa. Jembatan hati terputus, ngungun terpaku di awang-awang, ambang batas antara eksistensi, realitas, dan teori. Aku sudah tiba disini, di depan penanak jiwa, dengan jiwa sarat muatan, hendak meledak tapi kehilangan alamat tiba-tiba. Aku jadi diam, tersedak dikepung kata-kata yang lebih tulus dari perkiraanku, seperti zikir kudengar. Dalam hari terhitung belakangan ini,
kucatat, bahwa hakikat kehidupan itu begitu sederhana, sedangkan pemecahan kasus menuju kesana begitu rumit, melalui rumusan-rumusan verbal yang melelahkan.
Kucatat, bahwa segala sesuatu memiliki harga, dan dalam hidup ini kita hanya mendapatkan seharga yang kita bayarkan. Bisa lebih, ditambah rahmat Tuhan.
Kucatat, seorang tua yang menceritakan tentnag kenangan. Yang berjarak se-urat, se-mili, se-meter, se-mil jauhnya. Juga dia tukas bahwa kenangan merusakkan daging dan hati, mencemari pandang dengan rintik haru.
Kucatat, damba akan peluk meluluh-lantakkan panasnya hari-hari, dinginnya malam dalam hujan.
Kucatat, ketulusan kafilah Tuhan dalam doa universal pada tarawih-tarawih, teriakan bilal, dan jemaah subuh yang menggerombol sederhana.
Kucatat, maksud Paulo Cuelho dalam bukunya, bahwa Raja Salem adalah Raja Salaam (keselamatan, kesejahteraan), yang berada dimana-mana, menghinggapi senyum dan rambut orang-orang yang tenang ber-jalan teguh.
Kucatat, memainkan bunyi klakson seenaknya di jalan itu mengesalkan orang lain, terutama sopir Kopaja.
Kucatat, kutipan sadisme Lenin yang mendarah daging dalam karya Erich Fromm, menggigilkan akal sehat. Juga dorongan sadistis purba yang terdapat pada suku-suku terbelakang adalah bentukan alam yang menuntut mereka untuk bertahan dan hidup.
Kucatat, himpunan kesabaran dalam menuju tujuan adalah energi yang mengagumkan, sehingga di ujungnya kita sering berdecak tak percaya, bahwa yang di depan mata adalah hasil tangan kita.
Kucatat, segerombolan pemuda tanggung telah masuk dalam hidupku, sedikit-demi sedikit, meramaikan hari-hari di kampus baru. Juga segelintir wanita yang tersenyum menantang dan pandangnya memanggil: “Kejar aku…”, aku cuma tertawa, jiwa yang sialan ini kapok masuk ke dalam semak-belukar rupanya.
Kucatat, seorang kawan yang menumpahkan kehilangannya, merindukan masa-masa silam dan juga hidup yang semakin serius. Tanpa sengaja dia mengingatkanku pada loyalitas. Naluri primitif yang sederhana tapi menagihkan, menggolakkan jiwa, memacu adrenalin dalam perjuangan, dan bayaran darinya yang tinggi. Bahwa Loyalitas sejati, akan memacu ‘loyalitas-loyalitas’ lainnya datang menghampiri dan melebur menjadi satu loyalitas besar (dalam contoh kecilnya: kebersamaan).
Kucatat, jiwa yang tak sengaja jumpa, lantas jiwa kami saling sahut bersahutan, coba mengenal dari jauh dalam tatap dan tilik kebenaran panggilan mereka. Kami saling hampiri, dalam jabat tangan dan senyum menyambungkan silaturahmi Jiwa Buana* dalam bahasa verbal. “Kita sepertinya telah kenal lama….”
Kucatat, silaturahmi, memadukan kembali rantai karat yang terputus atau hampir putus, melahirkan kebahagiaan tersendiri, kelegaan melebihi dahaga yang terpuaskan.
terakhir,
Kucatat, kabel headphone-ku putus, rupanya itulah yang menyebabkan bunyinya sering hilang-timbul (sampai akhirnya hilang sama sekali). Kucoba sambung dengan cara konvensional, tak bisa, rupanya tiap kabel didalamnya dilapisi plastik pelindung berwarna, kukadali, akhirnya bisa, malah lebih jernih, bahkan suara bass-nya lebih edun lagi, kembali ke hakikatnya, sesuai perkataan mereknya, Clarion Digital Super Bass Monitor.
Percikan kebahagiaan hadir setiap hari, dalam hal-hal terkecil, sengaja-tidak-sengaja. Dalam kopi yang pas komposisinya, dalam ujung cutter yang baru dipotong, dalam kuas dari bulu musang, bahkan dalam jalan baru yang tak sengaja kita temui. Cinta yang mendorong totalitas dalam pekerjaan, menghasilkan sesuatu yang tegas berkarakter, sejahtera, berbenih keabadian, dengan jiwa yang tak henti bicara.
Jiwa Buana: istilah, dipinjam dari buku Paulo Cuelho.
GIla panjang banget ba………