16 November 2004

Sekiranya kita tahu perbatasan yang tepat antara mata, hidung, telinga, dengan hati, mungkin tak begini jauh kita tersasar. Tersungkur di semak belukar berbau darah dari jiwa. Kita tak akan hanya mengenal nafsu, tapi juga punya air peredam-nya. Segala itu melahirkan lingkaran kepusingan yang tampak tanpa ujung. Akan jelas, mana perkataan-hati,mana perkataan-daging.

Nafsuku, bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke temapt lain saja? Tak perlu hingga puncak kemuliaan dulu, ke tempat yang antara (murka dan pahala-Nya) pun tak apa; sebagai laku yang mula. Jangan ke taman yang itu-itu lagi, yang penuh bunga dan pohonan plastik.

Nafsu: “Aku selalu hidup dengan jujur. Aku berjalan sesuai arahan jalan dari hati”.

Hatiku, tunjukkan yang benar padanya.

Hati: “Aku adalah sekumpulan cahaya murni. Mengandung partikel-partikel kecil ‘sifat ilahiah’ yang disuntikkan bagi manusia. Akankah kutunjukkan jalan yang celaka?! Hanya saja aku diselubungi kerak-kerak hitam, hingga jangankan mengarahkan, suaraku pun sulit menjangkaumu”.

Tuhanku, aku elu-kan nama-Mu, aku sadar, segala komponen yang kau berikan, hakikatnya adalah Lurus dan alat menuju ke-Lurus-an.

Sorotkanlah sinar-Mu, bumi-hanguskan kerak yang membatu ini. Nafsu pun suci, hanya saja, aku masih gagap dalam menjadikannya perkakas hidup, hingga seringkali ia menjadi senapan yang menembak kakiku sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 55 = 63