17 November 2004

Merdeka dari Lautan

Laut kehilangan bahasanya atasku. Dia hanya bicara tentang dirinya dan ombak-ombak, tak lagi bicarakan kau, dia atau siapapun. Dia hanya menceritakan dirinya. Laut berdiri sebagai laut, aku berdiri sebagai aku. Tak ada sapa yang mendalam, jiwa kami enggan selam-menyelam. Bibirnya tak lagi ungkapkan luka dan segala kenang yang lewat. Kami berhadapan dalam gagap dan tanya. Laut kehilangan bahasanya, dia hanya ceritakan pinggulnya yang tak lagi perawan. Kami saling pandang berjauhan, panasku-panasnya adu-beradu, saling lambai tanpa basah.

Laut, kali ini tak perlu kita bermasam-masam, muram itupun tak usahlah disambungkan lagi. Kita cumbu saja tawa dan riak-riak yang menampar pasir putih.

Aku terbebas darimu, laut! Juga dari lautan kenang yang melahirkan pekur lunglai dan rembesan perih yang mengakar (yang biasa lahir saat aku bertemu kau). Aku dapat memandangmu tanpa perlu berlindung dari kilauan luka, aku dapat menghadapimu dengan ringan, dan memandangmu sebagai laut yang benar-benar baru.

3 thoughts on “17 November 2004”

  1. Toba

    Naz, ketahuilah, sehari setelah dikau nge-sms baru pulang dari laut, besoknya aku yang ‘nge-laut’ hahahahaha, mao sms tapi klupaan ;P

    Reply ↓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

45 − = 42