Category Archives: Blog

08 Januari 2005

Dependency dan Identitas Universal
(satu dari entah berapa tulisan)

Sepertinya semua ilmu adalah ilmu hidup -terlepas dari hitam atau putihnya-.

Kita hidup bergantung pada ‘Nadi Besar’ semesta, kita cuma sesuatu yang menclok dan ikut berjalan-jalan bersamanya. Hukum sederhananya, sesuatu yang kecil bergantung pada yang lebih besar, sesutau yang lemah mengharap pada yang kuat, dan ketiadaan atau ‘bukan apa-apa’ bergantung pada suatu yang bernilai (ada). Kita, manusia, inti fisiknya adalah sperma yang sering dibuang kemana-mana. Sperma yang ‘bukan-apa-apa’ itu bergantung pada manusia yang wadagnya lebih dulu ada, dan manusia bergantung pada Nadi Besar yang sudah berjalan lebih dulu darinya, Nadi Besar yang lebih dulu ada itu bergantung pada Yang Selalu Ada; dalam bahasa kita: Tuhan.

Ketergantungan-ketergantungan ini menjadi syarat mutlak kehidupan segala mahluk, seperti bentuk ‘hubungan dasar’ antara yang bergantung dan tempat bergantung (‘anak’ dan ‘induk’). Isi dari hubungan dasar ini adalah penurunan sifat-sifat dari ‘induk’ ke ‘anak’, penambahan atau pengurangan karakteristik itu pun selalu dikendalikan oleh ‘induk’ tempat bergantung (‘sesuatu yang lebih besar’ itu). Sehingga tak pelak lagi, terjadilah kemiripan-kemiripan sifat dan proses kerja pada segala unsur ‘anak’ dan ‘induk’ tadi. Pembedanya hanyalah sifat dan fungsi yang unik dan mutlak pada masing-masing pihak. Juga terjadi degradasi kadar (takaran) sifat-sifat itu tiap kali terjadi penurunan sifat tersebut, semenjak pertama ditularkan oleh Tuhan kepada yang dibawah-Nya dan dari yang di bawahnya ke yang di bawahnya lagi dan begitu seterusnya. Pada titik ini, kesetimbangan adalah omong kosong, karena sama rata dalam fungsi, identitas, dan takaran sifat pada segala hal hanya akan berbuntut pada chaos dan kenihilan. Sifat-sifat ini sudah ditanamkan begitu kuat dan mendasarnya pada tiap mahluk, Penanamnya tak lain adalah tempat bergantungnya segala sesuatu tadi (Tuhan).

Kita yang hidup sebagai manusia, terus berkomunikasi dengan tempat bergantung kita yang paling verbal (paling jelas), yaitu alam. Sifat salah satu induk kita itu tertanam dalam kita, bahkan terlalu dalam sehingga sifat-sifat tersebut telah menjadi kita sepenuhnya, kita susah merasakannya secara sadar dalam keadaan biasa. Dan umat manusia harus berjalan ribuan tahun untuk menerjemahkan-ulang dirinya, -dengan media alam disekitarnya-. Tak habis mereka catat pencapaian proses penterjemahan-ulang itu ke dalam jutaan rumus, buku-buku, filosofi-filosofi dan berbagai cabang fak-fak ilmu. Semuanya itu dibalut dalam bahasa, diimplementasikan pada alat-bantu-alat-bantu mekanis dan terus diuji kebenarannya sepanjang waktu.

Manusia, terus berkembang dalam ‘tanah induk’nya masing-masing, pencapaiannya berbeda-beda, tapi hasilnya tetap, selalu ada jalur yang sama pada tiap hal/ilmu yang mereka rumuskan, pada cara kerja alat bantu yang diproduksi. Tak peduli itu ilmu hitung, ilmu bahasa, ilmu gaib, ilmu bintang, tak peduli alat bantu itu pacul atau traktor, semuanya punya POLA YANG MIRIP.

(bersambung…)

04 Januari 2005

Jadi persoalannya adalah ke-siap-an. Seperti peraturan panggung, sekali kita melangkah melewati tirai, memasuki petak terpinggir area panggung sekalipun, kita dituntut siap, tak boleh lagi a-e-o menyiapkan diri, munculnya seorang aktor di panggung, harus selalu bersama dengan sebuah kesiapan. Sebab panggung adalah tempat beraksi, bukan bersiap lagi.

Tuhan tak pernah mencampuri urusan kita dengan begitu semena-mena. Bila dalam suatu perjalanan kita menemukan tali yang terikat kusut, menyerimpet kaki, tangan kita juga yang membuhulkan kekusutan-kekusutan itu dengan sistem kridit di waktu yang lalu. Bukan karma, benci saya menyebutnya demikian. Cuma tali yang pernah kita ikat sembarang -entah sadar-atau-tidak, entah demi keselamatan sementara kita kala itu-, lantas ikatan asal itu terus terseret-seret sendal kita, dan kita, dengan sadar atau melupakannya, terus membawanya. Terperosok, kita rubuh, muka nyusruk di antara benang ruwet itu. Memaki dengan kesal: “Goblok! Kenapa Tuhan kasih cobaan ini??!!”.

Seperti gempa, cobaan itu mungkin sesuatu yang bisa diprediksi awal kedatangannya, entah dari aroma, suara, dan segala ciri geografis dan mistis lainnya. Karena tangan kita juga yang memahatnya.

Tuhan tak pernah menjorokkan hamba dengan semena-mena (walau jelas, Dia Maha Usil), justru Ia begitu baiknya, setelah kita tersungkur Dia berkata arif: “Datanglah kepada-Ku, kembalikan keruwetan (yang kita bikin) kepada-Ku, Penciptanya dan kau.” Kita kembalikan, dengan tulus. Dan setelahnya, kita berkhianat ke dalam gelap.

“Tiadakah kaulihat, bahwa kapal-kapal berlayar di lautan dengan karunia Allah, agar Ia dapat memperlihatkan kepadamu tanda-tanda-Nya? Sungguh, dalam yang demikian itu ada tanda-tanda bagi setiap orang yang selalu sabar dan banyak bersyukur. Bila ombak melingkupi mereka seperti atap, mereka menyeru Allah, ikhlas ta’at kepadaNya dalam agama. Tapi setelah Ia selamatkan mereka ke daratan, hanya sebahagian diantara mereka yang memilih jalan yang benar. Namun tiada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali mereka yang berkhianat dan tidak tahu berterima kasih.” (Qur’an. 31 : 31, 32)

03 Januari 2005

Sepertinya aku ingin menguasai waktu sendirian, buatku. Tapi tak sangup, tangan kelewat kecil untuk menangkap terjangan-terjangannya. Jadilah begini, terkatung-katung tidak dimanapun, tak tergenggam apapun. Hanya amarah berkobar karena semuanya makin kacau.

Debaran-debaran, kepusingan-kepusingan, mengantar pada titik kebodohan yang buntu. Aku, semuanya tentang aku, tentang tanganku, tentang kakiku, tentang diriku yang tak kunjung terlerai. Selalu tentang aku, selalu padaku mata ini memandang. Terkadang malu, ketika sadar bahwa bulan rupanya memperhatikan.

Jiwa menyempit, sering inginnya meloncat pada kesimpulan, sering kesimpulannya membawa pada bukan apapun. Lupa pada nikmatnya putaran gerigi kehidupan. Sering aku tak mengerti tindakanku. Membiarkan sesuatu mengintervensi hidupku berdasarkan perhitungan-perhitungan ‘mistik’. Berkeputusan bahwa ini perlu, sambil gamang waktu berjalan; “Mana yang benar sebenarnya?”. Bahkan tak berani sekedar melongok dalam laci, takut bahwa sebuah ketakutan menjadi benar.

Sekedar slideshow:

– Ya, sekarang terserah kau, bakar saja buku itu, aku tak peduli. Pergi saja hatimu kemana. Akupun malu membacanya.

– Hai kau yang datang, kita terkatung-katung. Tak jelas arah kemana, kita berjalan saja, persis seperti yang dulu kita minta. Tapi kenapa sekarang itu tampak menakutkan?

Begitu kacaunya, aku kehilangan letak Tuhan.

02 Januari 2005

Mungkin udah 2 minggu gue tempatin kamar ini, tepat yan gue idamin, luas, rak buku, wc tanpa ngantri, akses internet (curian) yang bisa dipake tiap butuh, furnishing seperti yang gue mau, tapi setelah 2 minggu, udah tiga hari belakangan ini gue senewen sendiri. Entah kenapa, gue gak betah diatas. Tiap jam satu malem gue nyusup ke ‘rumah induk’ dan tidur di ruang tengah, seperti dulu waktu kamar ini belum jadi. Gak ada yang salah sama kamar ini, walau belum rapih sama sekali, masih ada yang bocornya, peralatan wc blum lengkap dsb. Gue pikirin, kenapa ya??? Hari gue nyadar, gue kesepian. Dalem kamar yang lega begini, gue selalu kepikiran temen-temen Bandung, kamar lega begini (saat ini) seharusnya diisi dengan tawa anak-anak muda yang diskusi dengan semangat tentang segala tahi kucing yang menarik minat mereka. Ini jadi terminal kosong yang ditinggal bis-nya. Malah dari awal, tanpa sadar, gue rancang kamar ini sedemikian rupa supaya enak buat ngumpul, tapi sama siapa?? Anak-anak sekitar rumah udah beda maennya, sebagian gawe, kawin, nganggur. Tanpa sadar juga, gue setting desainnya seolah temen-temen yang di bandung masih bakalan sering mampir ke kamar gue, entah bertujuan atau enggak, seperti hari-hari biasanya di Bandung dulu.

Kesepian, ngebikin gue tidur di bawah lagi, kangen kalo pagi dengerin celotehan nyokap, entah ngomelin adek gue, ato gue sendiri, ato ngeliat beliau lagi masak di dapur. Ato ngeliat muka bokap baru bangun tidur, masih sarungan, bengong sebentar di meja makan dan langsung ‘menyapa’ ikan Arwana kesayangannya (bukan nyapa anak atau apa). Ato adek gue yang selalu keliatan terpaksa tiap berangkat sekolah, tapi bagi gue gila juga, abis dia nyampe sekolahnya jam 7 sedangkan masuknya jam 8.

Kesepian juga terasa tiap kali abis baca koran, majalah, atau buku yang ada di rak. Biasanya langsung diskusi sama mahluk keriting bernama Tajri (walau sering susah diajak diskusi, tapi kalau diskusi asik, terutama soal sastra). Diskusi seputar software-software baru bersama bayu, memohon pengajaran linux dan php dengan susah kepada kunye, diskusi seputar rencana kriminal dan ‘link-link gelap’ bersama cuplis. Diskusi gak jelas dengan Nunu, diskusi acakadut bersama bandot, dan setumpuk bajingan-bajingan lain, yang jelas dan tak jelas tujuannya yang tak henti singgah di kamar gue, dulu.

Kesepian, kamar seperti ini, gak pantes cuma dihuni satu nyawa. Where are you guys???

01 Januari 2005

Terlalu menakutkan, mengharap pada esok. Menggayut pada bayang kelabu yang tak tentu bundanya. Makin terasa waktu lihat jam yang kedodoran menuturkan waktu. Tak bisa tidak, diri ini yang harus siap utamanya, dan doa hanya pilihan kedua.

31 Desember 2004

However, happy new year 2005!

Saya tak pernah bisa mengerti arti sebenarnya dari pergantian tahun. Selalu saja sama, entah malamnya begadang atau tidur, yang jelas besok pagi matahari terbit dan bumi terus berputar -seperti biasanya-. Mungkin akan beda jadinya kalau Saya seorang pialang saham, pergantian tahun berarti perhitungan-perhitungan bisnis baru. Atau jika Saya seorang pemilikgerai hp, tahun baru berarti beredarnya barang-barang baru, pesaing-pesaing baru, dan keuntungan-keuntungan baru, atau jika Saya seorang pejabat pemerintah, dimana pergantian tahun berarti harapan akan perubahan kebijakan negara asing yang melunak, atau harapan akan kepercayaan rakyat yang meningkat -mungkin harapan untuk korup yang lebih besar dan mudah-.

Saya bisa membayangkan semua itu, tapi tak pernah bisa sekedar merasakan atau merasa benar-benar perlu untuk merasakannya. Karena besok saya akan bangun tidur, libur sehari, untuk kemudian berjuang sama keras atau lebih keras dari hari-hari kemarin, sama seperti hari-hari biasanya.

Mungkin akan beda jadinya, kalau saya nyebur ke perut bumi dan memperhatikan langsung pergerakan-pergerakan tanah. Atau saya seorang astronom yang memperhatikan langit, sadar akan bintang yang lahir dan mati, atau lintasan bumi dan benda langit lainnya yang cenderung melenceng dan saling tabrakan tiap bertambahnya tahun.

Tapi saya tetap tak bisa mengerti arti sebenarnya dari pergantian tahun.

???

29 Desember 2004

Eli, Eli!

Pada sedikit lempeng bumi yang Kau geser, merampungkan tugas malaikatmu.

Eli, Eli!

Begitu juga pada lintasan kereta tak berpalang, ketika satu keluarga melewatinya, pada bus antarkota yang mengejar waktu, pada anak kecil yang menyeberang jalan, merampungkan tugas malaikatmu.

Eli, Eli!

Maafkan aku yang takut melihat kehancuran itu. Tapi mayat yang berserakan itu Eli, sudah terlalu buat mataku.

ELi!

Pondasi darat yang bertumbuk pada kedalaman 10 KM, gelombang tinggi yang menggulung-gulung, ELi, terngiang jeritan mereka, terkapar terhantam balok, digulung air, terbentur-bentur segala.

Berkahilah mereka yang terbujur mati dalam puing dan tak ditemukan, mereka yang masih hidup dan belum ditemukan, mereka yang hidup dan kehilangan habis-habisan.

Mayat yang tergeletak, begitu sepi, sejarahnya habis dalam kota yang runtuh.

Eli…

Tak peduli apa agamanya, tak peduli pada Tuhan mana dia berpaling, selamatkan dia Tuhanku, selamatkan dia!

** Eli = Tuhanku

19 Desember 2004

Sebuah telur pecah, karena busuk atau karena itik telah siap lahir? Isinya -entah apa- pergi meninggalkan cangkang, berlarian menuju dunia baru. Entah pembuangan atau kejayaan dari sebuah pertumbuhan. Retakan cangkang yang tertinggal membuktikan bahwa dia pernah menjadi bukan apa-apa.

Sekali lagi pembicaraan dengan kawan memecahkan bisul yang selama ini mengganggu duduk. Jalan yang ada dan tak terlihat, jadi menganga minta dilangkahi. Ini mahal. Dalam peradabannya manusia selalu menghargai cahaya, bahkan sebagian menunjukkanya dengan penuhanan. Api yang remeh punya hakikat ‘menghidupi’ manusia. Ini mahal. Dalam sejarah peradabannya manusia berulangkali lupa, harga sebuah cahaya, lupa menjaganya dari redup dan angin zaman yang terus berjalan. Sehingga tak terhitung jalan yang lepas dari pantauan. Pada esok yang selalu gelap, kemauan menentukan.

Karena busuk atau itik siap dilahirkan?

Interview 2

2Nd INTERVIEW with TOBA
=========================

1. punya kriteria co/cw idaman?
* Freestyle!

2. tuliskan 5 kriteria cowo/cw idaman lo!
* caught my eyes, low profile, music & movie lover,
smart, lady-like.

3. ada ngga cowo/cw yang memenuhi
kriteria?
* silahkan email saya….

4. boleh tau siapa?
* it was inisially I D F E

5. kamu NGGAK suka sama co/cw yang
kayak
gimana?
* yang bukan dari ras manusia, cewek yang suka
menafkahkan tubuhnya buat mata para lelaki baik.

6. kamu suka dia pake baju apa?
* husus buat saya, POLOS

7. suka dia pake spatu apa?
* huhuhuhuhuhu…. hak tinggi…..

8. suka cowo/cw yang bisa main musik
ngga?
* boleh, asal jangan ngeledekin gue!

9. suka cowo/cw yang kutu buku ngga??
* Asal jangan kutu beras!

10. suka cowo/cw yang gendut ngga?
* Saya yakin ada orang lain buat dirinya.

11. suka cowok/cw yang romantis?
* Mao! mao! mao!!! tae-lah banyak tanya!!!!

12. suka cowo/cw main alat musik apa?
* Piano untuk melincahkan jarinya, Drum untuk
menambah staminanya, perkusi untuk
menguatkan pijatannya, vokal untuk
membaguskan ‘suara’nya…… huhuhuhuhuhu

13. kenapa?
* Mulai ngeledekin lagi lo!!!! Kagak kapok sama
wawancara sebelumnya?! Gue tabok pake
tempayan ntar lo!

14. suka cowo/cw yang pintar ngga?
* Kesinikan! Biar saya ajari dia! Matematik?
kalkulus???? Semua di LUAR OTAK saya!!!!

15. suka cowo/cw jutek atau yang ramah??
* Ramah di semua tempat, dan jutek di kamar
tidur….

16. kenapa?….
* hehehe tau-lah……. apa gak ngerti??? tolol!

17. suka cowo/cw yang manja ma ortu
nggak?
* Asal bapaknya bos perusahaan minyak, rasanya
saya bisa menerima manjanya itu…..

18. suka sama cowo/cw yang suka binatang
nggak?
* Selama bukan binatang yang membahayakan
pemiliknya

19. suka sama cowo/cw yang suaranya
kayak
gimana?
* Cemerlang dumanapun, serak dan berbisik di
kamar tidur…

20. suka sama cowo/cw yang rambutnya
kaya
gimana?
* panjang.

21. suka sama cowo/cw yang galak ngga?
* Sumpah, KAGAK!!!!

22. suka sama cowo/cw yang cerewet nga?
* asal dia tau kapan harus berenti mbacot, ato
gue tau cara mbrentiinnya….

23. suka sama cowo/cw yang gaul nggaK?
*
HAHAHAHAHAHAHAHAHahahahahahahhahahah
a…… kelaut gih! hahahahahahhaha

24. suka sama cowo/cw yang
playboy/playgirl?
* Yah buat mengisi masa muda gappapa lah,
bukan buat serius, dia juga nganggep gue gitu
kan? hehehehe…. apa loe??!

25. suka sama cowo/cw yang tukang tdur?
* dengan senang hati akan saya temani dia, dan
saya buat dia tidak bis tidur.

26. suka sama cowo/cw yang tukang
gossip?
* kalo kadarnya lebih dari 40% go to hhelll,
mereka gak nyadar lagi gangguin idup orang!

27. suka sama cowo/cw yang gaya nya
gembel?
* boleh juga.

28. suka sama co/ce yg demen anak kecil
nga?
* rencana saya punya 11 anak…