19 Desember 2004

Sebuah telur pecah, karena busuk atau karena itik telah siap lahir? Isinya -entah apa- pergi meninggalkan cangkang, berlarian menuju dunia baru. Entah pembuangan atau kejayaan dari sebuah pertumbuhan. Retakan cangkang yang tertinggal membuktikan bahwa dia pernah menjadi bukan apa-apa.

Sekali lagi pembicaraan dengan kawan memecahkan bisul yang selama ini mengganggu duduk. Jalan yang ada dan tak terlihat, jadi menganga minta dilangkahi. Ini mahal. Dalam peradabannya manusia selalu menghargai cahaya, bahkan sebagian menunjukkanya dengan penuhanan. Api yang remeh punya hakikat ‘menghidupi’ manusia. Ini mahal. Dalam sejarah peradabannya manusia berulangkali lupa, harga sebuah cahaya, lupa menjaganya dari redup dan angin zaman yang terus berjalan. Sehingga tak terhitung jalan yang lepas dari pantauan. Pada esok yang selalu gelap, kemauan menentukan.

Karena busuk atau itik siap dilahirkan?

One thought on “19 Desember 2004”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

81 − 78 =