03 Januari 2005

Sepertinya aku ingin menguasai waktu sendirian, buatku. Tapi tak sangup, tangan kelewat kecil untuk menangkap terjangan-terjangannya. Jadilah begini, terkatung-katung tidak dimanapun, tak tergenggam apapun. Hanya amarah berkobar karena semuanya makin kacau.

Debaran-debaran, kepusingan-kepusingan, mengantar pada titik kebodohan yang buntu. Aku, semuanya tentang aku, tentang tanganku, tentang kakiku, tentang diriku yang tak kunjung terlerai. Selalu tentang aku, selalu padaku mata ini memandang. Terkadang malu, ketika sadar bahwa bulan rupanya memperhatikan.

Jiwa menyempit, sering inginnya meloncat pada kesimpulan, sering kesimpulannya membawa pada bukan apapun. Lupa pada nikmatnya putaran gerigi kehidupan. Sering aku tak mengerti tindakanku. Membiarkan sesuatu mengintervensi hidupku berdasarkan perhitungan-perhitungan ‘mistik’. Berkeputusan bahwa ini perlu, sambil gamang waktu berjalan; “Mana yang benar sebenarnya?”. Bahkan tak berani sekedar melongok dalam laci, takut bahwa sebuah ketakutan menjadi benar.

Sekedar slideshow:

– Ya, sekarang terserah kau, bakar saja buku itu, aku tak peduli. Pergi saja hatimu kemana. Akupun malu membacanya.

– Hai kau yang datang, kita terkatung-katung. Tak jelas arah kemana, kita berjalan saja, persis seperti yang dulu kita minta. Tapi kenapa sekarang itu tampak menakutkan?

Begitu kacaunya, aku kehilangan letak Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

72 + = 82