Berdamailah manis!
Hai kau, sudahilah persaingan yang asing ini, yang kita tak kenal asalnya. Kau tahu, bila kita saling topang, kekuatan tentu hal yang kita ciptakan, dimanapun kita berada, pada kamar manapun kita berkutat. Mungkin ini karena luka akibat kecongkakanku atas ketidaktahuanmu dulu, kecongkakan yang mendorongku pada rasa mengetahui segalanya, dan kau hanya bisa menonton dengan takjub dan mulut ternganga. Tapi itu dulu, jelas aku telah meninggalkan dunia itu, dan kau masih disana, berkutat seisi jiwa (kulihat). Memang sakit, melihat seorang ‘penonton’ bangkit menggantikan kita menjadi aktor yang menguasai panggung -yang pernah diduduki-. Tapi apapun sesaknya, bagaimanapun pahit ludah yang ditelan, ini realitasnya, kau bertahan dan aku lari, semua orang tahu mana yang harus diberi applause pada akhirnya. Akupun, betapapun kaku tanganku bertepuk, harus bertepuk tangan juga, hingga akhirnya terbiasa, dan menghormati perjuanganmu dengan takzim yang tulus -juga penuh senyum dan doa-.
Jadi hentikanlah tabir sutera ini, kita bersahabat, dan kembali bercanda setolol yang kita bisa -tanpa luka tentunya-. Aku rindu tawa manismu.
Aku tinggalkan panggung, akting, sorot lampu, tangis dan tawa penonton, ucapan selamat sutradara, kritik dan kagum para seniman, latihan penuh keringat. Aku tinggalkan teater. Satu kamar menyilaukan, yang pernah menderukan darah tiap kali udara panggung tercium. Itu mungkin impian muda, yang terhembus tatap Rendra, tekad Suyatna, dan kecerdasan Benny Johannes. Dunia yang selalu kutatap takjub, kugeluti hingga setingkat ibadah baru. Sekarang aku bisa lebih menerima langkah baru ini. Lebih berani menjenguk kebenaran baru, kudongkel isi kepala yang dulu selalu berputar mempertahankan diri, hanya karena takut ketakutanku menjadi benar; bahwa jalan yang kupilih salah, kurang tepat. Aku bergelut disana dan menjadi bodoh. Karena, semakin aku melangkah didalamnya, semakin terasa jawab yang sebenarnya; dan kutepis semua jawaban itu! Dari tengah perjalanan tak urung sebuah tanya selalu menggema; “Teater untuk hidup, atau hidup untuk teater?”. Semakin kukupas, semakin konyol rasanya semua yang kulakukan, semakin aku menghadapi ‘agama teater’ seperti aku menghadapi sepotong roti biasa. Pengagungan luntur, dan tahu ada langkah yang tak tepat dalam aku menghadapinya.
Kutanya pada orang-orang yang lebih dulu tenggelam, tak ayal Benny (Johanes) menjawab kepada para mahasiswa: “Itulah pertanyaan kalian seumur hidup, saya sendiri belum menemukan jawabannya”.
Berpisah dari satu dunia itu menyakitkan, bertemu kenyataan baru pun tak kalah sakitnya. Seperti dipukul orang asing disuatu jalan tiba-tiba. Tapi langkah yang terus berjalan akan menyelesaikan semuanya. Pada akhirnya terasa menyegarkan, dan memberi keyakinan bahwa kita hidup dan Tangan Tuhan-lah yang menulis semuanya. Aku keluar dari kamar luas bernama teater, tidak kepada matematika dan ilmu pasti, mungkin pada induknya: Seni. Entahlah, mungkin aku berlari menuju diriku sendiri. Menjadi manusia merdeka. Aku belum menyerah!
Jadi berdamailah, hentikan adegan Tom & Jerry ini, kuakui kau tahu dan lebih tahu soal dunia itu. Jadi turunkanlah nadamu waktu aku bertanya kabar, bebaskan guyon dari sindiran-sindiran, turunkan gengsi, dan pembelaan diri. Tak masalah dengan siapa kau sekarang (sudah terlalu basi isu ini), jadi kalau kau mau, boleh juga kauceritakan hubungan-hubunganmu sekarang.
Note: Benny, jawabanku sementara ini: “Teater untuk hidup”. Karena kupikir, dia seharusnya menjadi perangkat kita, bukan sebaliknya.