Category Archives: Blog

Learning New Thing

Hupla!!!! Hari minggu, males ngapa-ngapain, padahal banyak hal yang harus dikerjain: Tugas Nirmana (2 biji), Tugas Konsep Teknologi (1), Tugas Gambar Teknik (1)…. Whatever……

Anyway, nih hari adalah hari pelaksanaan omongan bokap gue beberapa minggu yang lalu :

Si Babeh : “ban, mao belajar ngukir gak?”
Si Toba : “Boleh, dimana?”
Si Babeh : “Sama adeknya Mas Kuri, dari Jepara”
Si Toba : “Ya udah kapan?”
Si Babeh : “Dua mingguan lagi kali, paling tiap hari minggu belajarnya”
Si Toba : “Iya, mau”

Dan hari ini orang itu dateng, dan juga dia bawa seperangkat alat ukir yang isinya ada kurang lebih 50 batang pahat gede dan kecil dalam keadaan mengkilat alias terasah. Hari ini kita gak latihan ngapa-ngapain, cuma gue kenalan sama nama-nama pahat itu… (nah lho, sekarang gue dah lupa lagi :huh: …) ah apapunlah namanya, ngukir itu praktek, bukan teori ๐Ÿ˜› Ternyata orang itu (Purwanto namanya) seumuran sama gue, kita pun cuma ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul aja. Baru mulai latihan hari minggu depan. Tentang hal ini beberapa orang meresponsnya dengan berbeda. Kalo nyokap keliatan gak setuju, berulang kali beliau bilang: “Ini kemauan sendiri apa kemauan bapak?”, dan juga “Kalo gitu mah udah aja gak usah capek kuliah, ngukir aja di bengkel sama Mas Kuri”. Dan kata kakaknya Purwanto (yang satunya lagi) Mas Yanto, “Ngapain belajar ngukir, ntar tangannya kapalan lo. Trus kalo gak sungguh-sungguh percuma”. Hahahahahahahaha, gue seneng denger suara-suara itu, (sepertinya suara mereka masuk kuping kanan-keluar kuping kiri), the only matter is: Alat pahatnya udah ada di tangan gue, dan mereka keliatan begitu menarik :rolleyes: .

Teruslah adu : Art & Logic

uh ah….

Ooowwwwhhh pengen posting baru, tapi dari kemaren terhalang rasa malas memencet kibord buat nulis, karena keasikan mencet kibord buat coding dan belajar photoshop. Gue dah lama pengen bisa bikin ikon glass-look, dan temen gue Vicky, ngasih lubang untuk belajar itu, beli-lah gue photoshop cs (bajakan tentu, pembajaknya buka usaha di belakang polsek ciputat ๐Ÿ˜† ) dan kurang lebih begini hasilnya : dan ini .

(posting ini belum selesai…)

Runtuhnya server…..

Huhuhuhu selama beberapa hari ini server nyenius di shutdown gara2 beberapa kliennya ngelakuin spamming gede2an :blink: Dan gara2 itu juga, data nyenius yang kemaren gak jelas nasibnya, ini gue udah dipindahin servernya. Tapi tenang, rupanya sebelum perang kurusetra berkecamuk, gue sempet melakukan backup nyenius (ini kah instinct???) :huh: entahlah, mungkin sekalian ganti tampilan. Lagi iseng gue bikin aja halaman ini, isinya juga cumat-comot kanan kiri (ini css halamannya lulu gue rubah dikiit doang, pinjam dulu ya lu…) sekalian ngetes skrip baru gue (seperti biasa, skrip cupu lagi ๐Ÿ˜› namanya juga hobiis, ya ga ves???) ๐Ÿ˜‰

Gue sengaja maksain masang dan bikin halaman ini, karena dari kemaren gue lagi pengen banget nulis, eh server suntrul itu kena demam… Pengen nulis… tapi kampret-lah, udah ngantuk gini, besok ujian pula, rangkuman blum dibikin…. dung dung pret- dung dung pret… terusin lagi ntar, bobok dulu ah…..

eh iya kangen ama ardi nih…

:ph34r:

TOLONG SAKSIKAN!!!!

FIIIIIIIIUUUUUUUUUHHHHHHHHH….!

AKHIRNYA, SETELAH SEKIAN LAMA MENUNGGU, ADA KESEMPATAN UNTUK TAMPIL DI FESTIVAL MONOLOG YANG DIADAKAN OLEH MANTAN KAMPUS TOBA!!! (LELAKI ITU TERTAWA GIRANG)

SAKSIKAN!!!!

MONOLOG KARYA JAKOB SUMARDJO, ANJING KUDISAN, DENGAN PEMAIN AKBAR TAJRI. HEHEHEHE.

TANGGAL 16 APRIL 2005 DI STUDIO TEATER STSI BANDUNG PUKUL 16.20!

TERIMA KASIH!

27 Februari 2005

Mengapa harus kubagi hari-hari kedalam kotak-kotak warna? Bagaimana kalau dipukul rata saja: besok hari yang menyebalkan, maka tertawalah, sambut sepenuh hati, seakan itu hari bertamasya. Kotak transparan itu buang saja, karena ia bisa menyekat kebahagiaanmu persis ransum perang yang terbatas.

Achtung!

Beberapa hari menjelang perubahan (Re-make) sistem Nyenius.Net, kepada sistem yang lebih kecil, simpel, dan bisa dimanfaatin oleh semua Member.

Pada sistem baru itu para pemilik posting (kiriman puisi. -red.), bisa me-manaje kirimannya itu (Edit, Delete, Kirim Baru, Kirim Ulang), insaalah lo bisa tau alesannya kenapa (misalkan) puisi kiriman lo ditolak, jadi gak langsung maen apus kayak kemaren2, dan lo berhak mengirim ulang puisi itu. Mengurus profil pun jadi lebih ringkas, bagi yang suka lupa password bakal ada Pengingat Password. Hubungan member-admin lebih dipermudah (segala jenis komplain atau apa lebih gampang).

Beberapa hari menjelang pemasangan (Re-write) sistem Nyenius.Net, kepada sistem yang lebih kecil, simpel, dan bisa dimanfaatin oleh semua Member. Dan tentu saja, perubahan kulit.

Gak lama lagi….

13 Januari 2005

Berdamailah manis!

Hai kau, sudahilah persaingan yang asing ini, yang kita tak kenal asalnya. Kau tahu, bila kita saling topang, kekuatan tentu hal yang kita ciptakan, dimanapun kita berada, pada kamar manapun kita berkutat. Mungkin ini karena luka akibat kecongkakanku atas ketidaktahuanmu dulu, kecongkakan yang mendorongku pada rasa mengetahui segalanya, dan kau hanya bisa menonton dengan takjub dan mulut ternganga. Tapi itu dulu, jelas aku telah meninggalkan dunia itu, dan kau masih disana, berkutat seisi jiwa (kulihat). Memang sakit, melihat seorang ‘penonton’ bangkit menggantikan kita menjadi aktor yang menguasai panggung -yang pernah diduduki-. Tapi apapun sesaknya, bagaimanapun pahit ludah yang ditelan, ini realitasnya, kau bertahan dan aku lari, semua orang tahu mana yang harus diberi applause pada akhirnya. Akupun, betapapun kaku tanganku bertepuk, harus bertepuk tangan juga, hingga akhirnya terbiasa, dan menghormati perjuanganmu dengan takzim yang tulus -juga penuh senyum dan doa-.

Jadi hentikanlah tabir sutera ini, kita bersahabat, dan kembali bercanda setolol yang kita bisa -tanpa luka tentunya-. Aku rindu tawa manismu.

Aku tinggalkan panggung, akting, sorot lampu, tangis dan tawa penonton, ucapan selamat sutradara, kritik dan kagum para seniman, latihan penuh keringat. Aku tinggalkan teater. Satu kamar menyilaukan, yang pernah menderukan darah tiap kali udara panggung tercium. Itu mungkin impian muda, yang terhembus tatap Rendra, tekad Suyatna, dan kecerdasan Benny Johannes. Dunia yang selalu kutatap takjub, kugeluti hingga setingkat ibadah baru. Sekarang aku bisa lebih menerima langkah baru ini. Lebih berani menjenguk kebenaran baru, kudongkel isi kepala yang dulu selalu berputar mempertahankan diri, hanya karena takut ketakutanku menjadi benar; bahwa jalan yang kupilih salah, kurang tepat. Aku bergelut disana dan menjadi bodoh. Karena, semakin aku melangkah didalamnya, semakin terasa jawab yang sebenarnya; dan kutepis semua jawaban itu! Dari tengah perjalanan tak urung sebuah tanya selalu menggema; “Teater untuk hidup, atau hidup untuk teater?”. Semakin kukupas, semakin konyol rasanya semua yang kulakukan, semakin aku menghadapi ‘agama teater’ seperti aku menghadapi sepotong roti biasa. Pengagungan luntur, dan tahu ada langkah yang tak tepat dalam aku menghadapinya.

Kutanya pada orang-orang yang lebih dulu tenggelam, tak ayal Benny (Johanes) menjawab kepada para mahasiswa: “Itulah pertanyaan kalian seumur hidup, saya sendiri belum menemukan jawabannya”.

Berpisah dari satu dunia itu menyakitkan, bertemu kenyataan baru pun tak kalah sakitnya. Seperti dipukul orang asing disuatu jalan tiba-tiba. Tapi langkah yang terus berjalan akan menyelesaikan semuanya. Pada akhirnya terasa menyegarkan, dan memberi keyakinan bahwa kita hidup dan Tangan Tuhan-lah yang menulis semuanya. Aku keluar dari kamar luas bernama teater, tidak kepada matematika dan ilmu pasti, mungkin pada induknya: Seni. Entahlah, mungkin aku berlari menuju diriku sendiri. Menjadi manusia merdeka. Aku belum menyerah!

Jadi berdamailah, hentikan adegan Tom & Jerry ini, kuakui kau tahu dan lebih tahu soal dunia itu. Jadi turunkanlah nadamu waktu aku bertanya kabar, bebaskan guyon dari sindiran-sindiran, turunkan gengsi, dan pembelaan diri. Tak masalah dengan siapa kau sekarang (sudah terlalu basi isu ini), jadi kalau kau mau, boleh juga kauceritakan hubungan-hubunganmu sekarang.

Note: Benny, jawabanku sementara ini: “Teater untuk hidup”. Karena kupikir, dia seharusnya menjadi perangkat kita, bukan sebaliknya.

12 Januari 2005

Kok Ciputat muda lagi ya? Seolah mata kanak-kanakku kembali lagi. Aroma, warna-warna, cuaca, semuanya persis seoerti pemandanganku waktu kecil dulu. Rindu jadi terasa benar pada masa itu, ketika engkong Konin selalu pulang di sore hari tanpa tangan kosong, sekarung atau beberapa karung buahan selalu dibawanya, durian, rambutan, manggis, Beliau panggil cucu-cucunya, dikumpulkan, lalu kami makan bersama, perkelahian antar sepupu ada tentunya. Tapi semua kembali tak jadi masalah waktu engkong tersenyum dan membelai.

Waktu Sukarta muda dengan penuh semangat membina pekerja-pekerja. Diteras rumah pembuatan sofa, dimuka ada bengkel pembuatan segala; lemari, dipan, alat bubut, las, mesin-mesin pengolah kayu, semuanya riuh-rendah menopang hidup. Juga tak lupa ibu yang kelewat tegas, sapu dan cubitan dengan mudah melayang tiap-tiap anaknya berulah.

Mas Madjid (yang namanya sering kupanggil Mas Masjid) dari Jepara, Kang Tatang dari Bogor, Bang Kohir (Alm.), tak terasa menyumbangkan sesuatu pada diri ini. Sekarang entah mereka dimana.

Ciputat menjadi muda, langit berwarna tanah merah. Seperti lapangnya dulu kampung ini, yang sekarang berganti jadi kontrakan dan rumah-rumah baru. Tercium lagi aroma kursi besi yang tak lagi diproduksi. Mahasiswa-mahasiswa terlihat agung, anak SMA terlihat dewasa pedagang pasar dan sepanjang jalan raya terlihat seperti ‘kawan lama’ yang hidup lagi.

Aku pulang.

Terasa kembali, bahwa tanah ini memilikiku untuk yang kesekian kali.

10 Januari 2005

Kebahagiaan Tarzan

Berbahagialah Tarzan, ketika menemukan Jane tergeletak pingsan terkena perangkapnya. Berbahagialah dia, atas tangkapan tak terduga itu.

“Mahluk ini begitu asing, dadanya tak sama denganku…”

Panjang dia punya tanya, akhirnya Jane sadar dan terpekik. Mereka bertatapan, saling takut, tapi tak lama. Akhirnya berbicaralah mereka berdua, terus ‘berbicara hingga dalam’, sampai bahasa bukan lagi kata-kata.

Dan monyet pun cuma bisa berpaling.

Starring : Rocco Siffredi, Rosa Caracciolo