Kok Ciputat muda lagi ya? Seolah mata kanak-kanakku kembali lagi. Aroma, warna-warna, cuaca, semuanya persis seoerti pemandanganku waktu kecil dulu. Rindu jadi terasa benar pada masa itu, ketika engkong Konin selalu pulang di sore hari tanpa tangan kosong, sekarung atau beberapa karung buahan selalu dibawanya, durian, rambutan, manggis, Beliau panggil cucu-cucunya, dikumpulkan, lalu kami makan bersama, perkelahian antar sepupu ada tentunya. Tapi semua kembali tak jadi masalah waktu engkong tersenyum dan membelai.
Waktu Sukarta muda dengan penuh semangat membina pekerja-pekerja. Diteras rumah pembuatan sofa, dimuka ada bengkel pembuatan segala; lemari, dipan, alat bubut, las, mesin-mesin pengolah kayu, semuanya riuh-rendah menopang hidup. Juga tak lupa ibu yang kelewat tegas, sapu dan cubitan dengan mudah melayang tiap-tiap anaknya berulah.
Mas Madjid (yang namanya sering kupanggil Mas Masjid) dari Jepara, Kang Tatang dari Bogor, Bang Kohir (Alm.), tak terasa menyumbangkan sesuatu pada diri ini. Sekarang entah mereka dimana.
Ciputat menjadi muda, langit berwarna tanah merah. Seperti lapangnya dulu kampung ini, yang sekarang berganti jadi kontrakan dan rumah-rumah baru. Tercium lagi aroma kursi besi yang tak lagi diproduksi. Mahasiswa-mahasiswa terlihat agung, anak SMA terlihat dewasa pedagang pasar dan sepanjang jalan raya terlihat seperti ‘kawan lama’ yang hidup lagi.
Aku pulang.
Terasa kembali, bahwa tanah ini memilikiku untuk yang kesekian kali.
Ciputat…oh ciputat. Dia memang layak dirindui ๐