Hari ini gue ke Rawabening, buat beli Bahan Dasar batu (mentahan batu akik). Ini buat bikin tugas Nirmana. Gue ke sana bareng Vino temen gue. Hmmm akhirnya gue nyaba ke tempat itu juga, udah lama pengen pergi ke sana, ‘surga-nya’ batu akik di Jakarta (ato bahasa ilmiahnya : Gemstone).
Batu akik (ini sebenernya nama salah satu jenis gemstone itu sendiri, tapi biarlah diposting ini seterusnya gue sebut akik aja biar gampang ;p) punya tempat tersendiri di hati gue (cieee). Ketertarikan gue terhadap mahluk indah dan misterius ini dimulai ketika gue SD. Saat itu adalah masa-masa jayanya pasar Ciputat, terminal Ciputat pun masih ada. Tiap pulang sekolah gue mampir ke pasar, ke toko engkong gue. Nah di pasar itulah gue terkadang ngeliat aki-aki ato bapak-bapak yang suka pake cincin batu akik segede mata kaki. Love on the first sight itulah yang terjadi, entah kenapa gue merasa tertarik ngeliat batu-batu itu, gue rasa mereka nyimpen misteri yang misterius… hehehehe. Ditambah lagi tiap pulang pegi ke pasar gue ngelewatin tukang batu akik, rasa tertarik makin bertambah. Tapi ya baru bisa sekedar tertarik -bakal aneh kalo anak SD minta dibeliin batu akik kan :P-
Beralih ke masa SMP, gue masuk Darunnajah, dan kebetulan di sana ketemu sama orang yang biasa jualan batu akik di Pasar Cipulir, dari sinilah ‘karir’ ngoleksi batu akik dimulai. Dari situ gue mulai maen / nyari batu ke Pasar Cipulir, Pasar Ciputat, Kebayoran. Juga nyari referensi-referensi tentang batu akik alias gemstone ini, baik referensi lisan maupun tulisan, mulai dari yang ngeliat akik dari segi estetis, ilmiah, sampe yang mistik. Buat gue sendiri, ketertarikan sama batu akik ini berdasarkan segi estetis dan ilmiah. Kalo ada orang ngomong “Kalo pake batu tertentu orang dengan temperen tinggi jadi makin gampang marah. Karena itu orang bertempramen begitu gak cocok pake batu ini-itu-ini-itu…”, gue percaya, menurut gue itu bukan mistik, lebih disebabkan karena karakter / ‘getaran’ / aura yang dikandung oleh batu itu. Dan kebayang kan, batu-batu tersebut terbentuk oleh proses ribuan tahun, mereka udah ngalamin berbagai macam tempaan, baik musim, kondisi dan fenomena alam yang terjadi (tentang detil proses bebatuan mungkin bisa tanya Fahdi), kandungan historisnya pun tinggi. Buat gue, batu akik juga jadi simbol tersendiri tentang menghargai proses.
Aktifitas koleksi akik terhenti di pertengahan SMA (tepatnya pas kelas dua), karena gue asik sama kegiatan laen -OSIS blah blah blah-. Pada masa-masa itu dua buah akik gacoan gue ilang (kerana wanita), sedih sih, tapi udah terjadi. Dan pada masa-masa itu juga, koleksi gue jadi kurang terurus sehingga sebagian yang lainnya juga ikut menghilang (heran, padahal gue nyimpennya rapih. KATA ORANG sih, beberapa batu akik kalo gak diurus suka ilang sendiri alias ‘pergi’ -ngambek kali- ya itu kan KATA OOOORRAAAAANNGGG).
Yah sekarang koleksi gue tinggal sedikit, dan minat pun sudah berkurang -karena selama ini cuma punya batu akik kelas teri-. Taaappiiii setelah dapet tugas yang media-nya pake batu akik, dan gue pergi ke Rawabening buat nyari batu akik yang masih bongkahan, ceritanya jadi laennnnnn, mata gue berbinar-binar lagi ngeliat ratusan macem batu + iketan-nya. Dan juga rupanya dosen dan asdos gue itu emang maniak batu akik. Pengen rasanya beli, satuuuuuu aja, duhh. Apalagi setelah mata gue tertarik sama satu iketan batu akik, terbuat dari perak, modelnya sederhana, dudukan batunya bentuk kotak (Rp. 60 rebu tanpa batu, tapi udah termasuk ongkos pemasangan batu), aduuuuuhhh sampe sekarang pun masih keingetann, gue harus balik lagi kesana dan membawanya pulang……. ๐
My precious……..
:ph34r: