Category Archives: Puisi Katarsis Nyenius

Hati yang Berkarat

sekerat daging
berdenyut menjaga hidup tuannya

sebuah ruangan
bersinar, hingga akhir hidup tuannya

sekerat daging membiru
denyutnya satu-satu
sebuah ruang, temaram
cahaya hanyalah percik-percik belaka

pada antara dimensi daging dan roh
sebuah jiwa teronggok,
diliputi karat,
hanya sebuah mata terlihat
menatap harap

 

30/06/11 – 06:00 am

Lagu Coro

Setelah begitu keras
Hidup menerpa
Kami menyimpulkan
Tak ada benar dan salah,
Hanya makan

Anak adalah alat
Jalanan adalah swalayan

Kami hidup seperti kalian
Punya rumah dan bisa makan
Mencicil hidup yang layak

Tapi tetap
Anak adalah alat
Dan jalanan adalah swalayan

Belas kasih adalah komoditas,
produk tanpa tanggal
Kadaluwarsa

Kami adalah kecoak
Di kolong negerimu

Ya, Kamu yang Bernama Perpisahan!

Perpisahan yang nyata
Tampil bagai raksasa
dan segera galau mendera

Keluhan, sesal, semakin menebal
mendirikan dinding beton
dalam lubuk hati

Takut itu pasti
enggan melangkah lumrah terjadi.
Tapi waktu tak berperi
pelan dan pasti,
dia menghantarkan kita padanya

aku akan menangis dan tertawa
kuanggap,
saat ini adalah selamanya

 

=====
1:14 am, 05/11/2011

Calo Cukai: Pertama Jumpa

seperti ada buldozer
lewat di kepalaku
waktu berusaha tawa
mengenai kesalahan yang dibenarkan

gemetar, takut, dan kalut
kuhisap sebatang samsu
terasa betul putaran bumi
pandangan merabun

aku disana
pertama kalinya menandatangani MOU busuk
lewat 750 ribu yang kubayarkan

Aku toleh langit
-cerah saja-
Tuhan seperti tak ada
dan aku berdiri
dengan rasa bayi yang pampersnya kelewat penuh

“Anjing!”
umpatan pelan tanpa daya
kutoleh gedung pemerintah disampingku
terasa betul kerdilnya
dan makin terasa, label rakyat
didahi

Satu batang sudah lewat
cukup rasanya berdiri
tanpa sadar dibawah terik mentari

aku pulang,
gemetar ketakutan,
seperti Muhammad setelah bertemu jibril
bedanya, aku yakin betul
yang tadi itu setan

Ras Babi

Apakah wajahku seperti babi?
Atau wajahmu?
Ataukah kita ini sekumpulan babi?

Tapi kemarin jumpa
Kita ucapkan salam
-seperti manusia dalam kisah nabi-nabi-
Kita bicara dengan bahasa manusia
-seperti yang terlihat dalam layar lebar-

Kita diskusikan strategi
Dan jalan kesucian

Jadi, apakah kita ini?

Sekian dulu surat ini kutulis
Nguikk grookkk…

dan Tuhan,

dan Tuhan,
pada pertemuan gerigi dunia
aku berdiri
hidup menjadi keberuntungan
karena belum juga mati

dan Tuhan,
di tengah keramaian itu
aku gemetar melihat wajahMu
sedang manisnya dosa berleleran dari mulutku

dan Tuhan,
Kau terlihat besar,
semakin besar,
semakin membesar,
aku mematung bagai bocah di puncak gunung
memandang dunia.
MemandangMu

Segala keramaian hilang
hanya ada ruang gelap, aku, dan Kau

Mulutku menganga,
dosa segar membanjiri rahang dan leherku.
Terkesiap.

adakah Kau
membunuhku sekarang?

Ketika Sebuah Vas Jatuh

sebuah vas pecah
berkeping menumpahkan diri ke lantai

terasa lantai dingin dipipiku
dan hangatnya darah
pada kening yang tergeletak jauh

sebuah vas utuh pecah
berserakan di lantai dan tersasar

tanganku yang terputus, berusaha meraih dada
yang terpental keluar pintu

sebuah vas utuh kemudian pecah
ketika gravitasi yang selama ini dikenalnya
menariknya tanpa ampun, berdebam

dalam tercecer seperti sampah
aku marah

Bertahanlah

Bertahanlah
Ketika semua yang tampak penting meninggalkanmu
Bertahanlah
Ketulusan akan terus dikupas
Dengan perpisahan
Dengan kemustahilan

Tengok sejarah
Siapa yang tercatat?
Apakah mereka yang pergi
Atau dia yang bersimbah pada pegangan

Ketulusan
Adalah buah yang harus dibuka kulitnya
Berduri, ataupun keras.

Kemurnian adalah pucuk mawar
Penuh duri tangkainya

Bertahanlah

——————
09/06/2007; 11:56

Pelayar yang Tertipu

Dan sukses pun diraihnya
Rasa puas lantas menikam perlahan
Merobek jiwa yang susah payah disusun

Tiang kemudi dilepas
Tangannya sibuk mengacungkan kemenangan
Perahu oleng mengarah karang

Kompas tak lagi ditilik
Matanya berbinar natapi langit
Dengan sorot lega
Barat dan timur tak terjaga
Pelayaran berbelok arah dengan halus

Dikira angin berpihak padanya
Padahal angin hanyalah angin
Ombak pun sekedar ombak
Dalam lirik burung camar berbisik;
“ya, ya, satu orang lagi berlupa.
Entah akan tersasar atau mati menumbuk karang”

Dan secuil sukses pun diraihnya
Rasa puas mengerat kemanusiaannya
Lupa menjadi pakaiannya.
Dia tak sadar,
Bahwa lautan tak pernah henti
Berombak
Sampai hari dia mati

—————————-
Tuesday, July 10, 2007