Category Archives: Puisi Katarsis Nyenius

Ya, Dan Biarkan Penari itu Menari

Ya, dan biarkan penari itu menari
Di depan kita dengan secarik kain
Yang nanti pun lepas

Aku jadi muak
Berada disini menyaksikannya
Pada setiap gerak ada harapan akan uang
Nafsu berganti kasihan

Tidak adakah hal lain?
Ya, dan kau pun tertawa
Menggerayangi yang lainnya

Aku pun tertawa
Sambil menahan kencing
Hatiku tercabik-cabik
Sudahlah, bayar uangnya
Biarkan mereka pulang

Tapi ah tidak
Kantong telah dirogoh
Pertunjukan harus selesai
Aku hanya tamu

Aku menjadi kambing dungu
Yang terjebak dalam penasaran
Dan merasa sangat bodoh

Tentang Sejarah Dosa Kita

Tentang sejarah dosa kita
Tak ada yang bisa menghapusnya
Tercecer di belakang dalam titik-titik hitam

Tentang kesunyian
Keberengsekan yang aku tabuh
Pada bibirmu
Aku tak bisa menjelaskannya

“sudahlah, ini hampir tengah malam”

Nikmati saja cahaya kota
Dari jendela ini
Manjakan wajah dalam tamparan angin malam
Dosa masih tergeletak di situ

“tapi, sudahlah, ini hampir tengah malam”

Semuanya mendadak hening
Ada kerinduan aneh menyeruak
Memanggil sesuatu yang indah
Entah itu apa
Aku merasa sejuk dan nyaman

Angin malam, lampu kota
Pada jendela ini aku berpegangan
Menceritakan kegelisahan atas dosa
Yang terus melirik tajam

Aku ingin pergi
Tapi apa bedanya
Sejarah sudah tercatat
Kebenaran jadi tak pasti

Aku hanya terus
Menggenggam erat jendela ini
Berharap ia mengerti
Dan memberi sedikit kedamaian

Aku melihat ke bawah
Penjual makanan berderai tawa dengan tukang becak
Rasanya ingin meloncat

Dan selesai

—————-
Wednesday, July 04, 2007

Lagu Rindu Penduduk Yastrib

Kawan-kawan bajingan
Dimana pun berada

Kita pernah bermimpi menjadi sesuatu
Setidaknya mencoba untuk berhayal
Dan lantas menertawakannya

Mungkin hanya sekedar
Penyegar suasana
Tapi ya, kita pernah melakukannya

Ingatkah
Di dalam suatu rumah tingkat 2
Dengan lampu-lampu bohlam temaram
-yang itu semua karena uang kiriman lebih baik
Untuk beli rokok ketimbang lampu pl yang terang-
Dan ruang-ruang gelap yang kosong.
Kita berbincang tentang masa depan
Tentang pertikaian antar orang-orang fanatik
Tentang sejarah musisi-musisi yang terpaksa masuk
Ke telinga
Tentang larangan menghisap ganja di dalam rumah
Tentang handuk seseorang yang tak ingin digunakan bersama
Tentang seorang kawan yang mandi I bawah
lantas handukan sambil jalan ke kamarnya di atas
Tentang kelainan yang ingin diperbaiki
Tentang film-film biru yang menjadi kata kunci
Tentang hip-hop yang hanya dimengerti seseorang
Tentang gitar
Tentang panggung
Tentang gunung
Hampir tentang semuanya!

Sekarang aku di persimpangan
Menatapi cita-cita yang berserakan menunggu jawab
Tiba-tiba aku rindu;
“Apa kabar kalian?”

Mungkin bukan waktunya bertanya
Tapi sewaktu aku menatapi jalan hidupku
Aku teringat kalian;
“Bagaimana jalan hidup kalian?”

Ingin mendengar kisah
Walau aku ragu itu akan terwujud
Tapi harap tetap ada

Mungkin hanya sepenggal-dua penggal cerita
Tapi,
Itu pun kutunggu

——————————–
Wednesday, July 04, 2007

Semalam Merancang Hidup di Neraka

Semalam Merancang Hidup di Neraka

Monday, July 02, 2007
7:42 PM

Semalam merancang hidup di neraka
Bersama musik orang-orang busuk
Dan setengah botol vodka

Hening menghantarkan
Pelecehan atas dosa
Kaki bersilangan diatas meja
Hembus tembakau, seteguk lagi
Dan kita tertawa

Begitu aneh rasanya dosa yang satu ini
Ada rasa enggan dan konyol
Tapi tetap dijalankan dengan tenang

Lihat gitarnya melambung ke langit
Kita pejamkan mata
Larut ke dalam suasana palsu

“mainkan terus bluesnya, mainkan terus bluesnya”

Dan setenggak lagi membasahi tenggorokan
Panas menjalar ke kepala
Dan berkata: “Oh Tuhan, dunianya bergoyang”

Temaramkan sedikit lampu
Berikan suasana remang pada hati
Diatas sofa empuk, merancang kursi panas
Di neraka

Angkat seloki tinggi-tinggi
Besulang untukmu Bonzo; “mungkin nanti kita jumpa,
sementara itu hentakkan bass drum dikakimu”

Sekelebat senang, sekelebat sedih
Sekelebat bangga, sekelebat takut

Dalam satu keputusan
Pada suatu malam
Terpesan sudah lapak-lapak api Tuhan

-Jimmy Page baru saja memulai lagu berikutnya-

—————
Monday, July 02, 2007

Ketika Kotoran Itu Menghantam Wajahku

Tuhanku
nafsu telah menghalangiku
dari menyembahMu penuh seluruh

Tuhanku
nafsuku memburamkan hati
sehingga cahyaMu tak sampai-sampai

lelaki yang berdiri
diatas tumpukan keinginan
bayang-bayang khayal
yang mengantarnya pada jembatan rapuh

dimanakah aku?

dan ketika suaraMu sejuk
menegur jiwa yang bebal
dunia bayangan retak dan hancur
terlihatlah bangunan busuk yang dijalaninya

bahwa semuanya abu, menuju kesia-siaan
bahwa semua warna yang disangka menyala
ternyata hitam belaka

dan waktu, makhluk tanpa rasa itu
terus melaju
banyak jejak langkahku berwarna hitam
sesak

Dimanakah aku?

Bermandi peluh mengejar mimpi kosong
bekerja keras menggapai mimpi porno siang hari

Keinginan-kewajiban,
Kewajiban-keinginan.

Dimanakah aku?
mendadak jadi asing sendiri
segala tubuhku terlihat sebagai arang
jiwa yang pernah kupupuk hilang terbang
tergambar kebodohanku, dan kesia-siaan itu

Kebodohan,
selalu terlalu mahal harganya.

Di Dada Wanita yang Baru Kukenal Sehari

Itu ranjang untuk dua orang
aku gumuli dia, entah milik siapa.
melenguh, menjambak,
memercikkan energi hidup yang tak seharusnya

Semua bermula pada kerling sepintas
dan hati yang bertanya ingin mengenal
gelap telah menutupi mata dari dosa
aku sudah lupa cerita Yusuf yang Mulia
kami tak berkata-kata
hanya kasur sialan itu terus berderit

tapi tidak Tuhanku
kau tahu aku tak sebuta itu
aku berhenti pada saat yang seharusnya
kutiupkan nafas, meredakan deru pada perutku
dan kami bergelimpangan
bertanya-tanya dimana ini?

hati mengawang di langit-langit kamar
sisa nafas masih terasa panas pada seprai
kutelusuri pikiran yang tersisa
bertanya-tanya seperti apa selanjutnya

kami tersasar
meracau karena kesepian
mencari-cari pegangan
dan serampangan menyerahkan diri

Ah, jiwa yang hijau
serentak mereka bergetar
ingin pergi, lari dari kamar itu
tapi dalam kepalsuan, kami berpeluk
dan mengecup kening

“Selamat tidur..”, ucapnya lembut.
Dan dunia pun gelap
kepalaku tersuruk ke dadanya
yang montok

“Semoga aku tak mati malam ini..”

Aku berbisik keras dalam hati.

Wanita Pada Suatu Subuh

Di suatu subuh ramadhan
aku berdiri pada pintu
menimang antara pergi
atau menghampiri wanita yang
duduk menunggu di atas kasur

aku hanya tersenyum kecut,
“Selamat tinggal.”
Kata-kata terasa menggantung di bibir.
Dia pun tertawa,
“Aku telah mengalahkan orang
yang memukau publik”

Kata-katanya kacangan,
aku tak peduli, tapi tawanya.

Perempuan itu lurus-lurus tertawa menang
memandangi tembok, sembari memeluk lututnya
di atas kasur tanpa ranjang

Aku pergi menembus pintu
menuju lorong gelap
ke jalan menuju pasar

Kupandangi penjual bubur ayam
yang tengah menuang hidupnya ke dalam
mangkok-mangkok putih

“Tidak jalang, aku yang menang”

Pandangan Buram, Aku Merutuk

“And if the daylight feels like it’s a long way off
And if your glass heart should crack
And for a second you turn back
Oh no, be strong”
cit.

Lihatlah
apa aku jalan ditempat?
aku tak tahu
sejujurnya betul tak tahu
rasanya mau nangis saja

aku lupa halte
lupa simpangan
berjalan begitu saja
hingga compang-camping dan merasa letih

debu di wajah setebal kepala
kaki yang memar dan hati yang sakit
Istirah, tangan bertumpu pada lutut
mataku samar melihat jalan ke depan

“Bukankah itu jalan yang kemarin?”

Tercenung, pandangan membayang

“Ataukah jalan yang lain?”

aku terpuruk berlutut
terdengar dengan jelas
suara kawan di kejauhan sana
– terdengar semakin jauh –

Hatiku menciut
Dimana ini?
Hari apa?
Dimana barat dan timur?

Aku mengatupkan mata
sebal, sesebal-sebalnya
ah

=============
9:30 11/02/2007

U2, Walk On

Pandangan Buram, Aku Merutuk II

“You’re packing a suitcase for a place none of us has been
A place that has to be believed, to be seen”
Cit.

Selalu saja
ada orang seperti awan
datang dalam bayangan atau suara
datang memapah

Yang terus memompa nyawaku
agar tetap beraroma kehidupan

ada suara bidadari
ada suara kawan yang baik sekali
terdengar dari tempat yang jauh
mengatrol kerongkonganku agar terus
mengalirkan nafas dan vitamin

-selalu dari jauh-

jadi, memang sendirian
manusia memang musafir
Dunia hanya penghias latar

aku tengok ke dalam hati
masih ada impian-impian lama
yang disikapi dengan sangat pengecut

remuk redam disini
aku jadi tahu
kenapa orang ingin bunuh diri

==============
10:19 11/02/2007

By: U2, Walk On

Padahal Kau Sebenar-benarnya Selalu Datang Sebagai Kawan

Ya temanku
kau lihat sendiri
pandanganku sering pergi
ke tempat yang jauh
Padahal saat ini adalah sekarang

terasa benar pandanganmu yang menyelidik
jauh ke balik pelupuk mata
mencari keberadaanku saat ini

Ya temanku
kau tengok sendiri
kakiku yang tak mau diam dalam duduk
seperti gelisah ingin melompat

– tak tahu apakah kau melihatnya di bawah meja –

Aku pernah melihat orang seperti ini
disuatu tempat yang lain
dan aku duduk sebagai kau

aku tak tahu betul apa yang meresahkan kepala
padahal kau selalu datang
sebenar-benarnya sebagai kawan
kutoleh lagi tahun yang lewat
kau pun selalu datang
sebenar-benarnya sebagai kawan

Tapi tak terucap juga pada mulut
padahal kita bertemu dalam banyak musim
pada landasan uang, kawan, dan lawan

Ya Temanku,
aku gelisah

===============
10:14 11/02/2007