Category Archives: Puisi Katarsis Nyenius

Waktu Jumpa Kemarin

Kita bertemu
saling pandang, lalu diam
tak banyak bahasa ingin diucap
karena sepertinya segala yang dihati
sudah terdengar

ini tidak menarik
aku ingin kita bicara
menertawakan yang tak perlu
dan merasakan udara sekitar bergerak
agresif

apakah karena pengertian
kita membuat benteng?
apakah semuanya terasa mapan
dan telah berjalan dijalurnya?

aku percaya tidak

tapi mengapa, dalam bahasa yang terhambur
kental terasa ruang-ruang kosong yang hampa

apakah karena terlalu saling menjaga?
apakah karena garis antara kita begitu jelas?
mungkinkah sebab kekurangan satu jiwa
yang biasa menjembatani kita?

aku bosan bertanya-tanya
pertemuan harusnya bukan kehendak satu jiwa
dialog harusnya bukan melulu demi diri sendiri

waktu terus menggelontor
habis dimakan benak sendiri-sendiri

12:59 04/01/2007

Aku Mendengar Lagu Kali ini

“Jangan takut”
itu nafas yang terhembus dalam
lagu-lagu
sementara hati gulana menyambangi
bulan pucat

“sebentar lagi”
katanya,
tapi langkah terseok ini
seperti hitungan waktu
yang di eja anak bayi (balita)

aku gelisah,
mendengar kabar-kabar, berita dari samping
dan seberang
tentang senjata, tentang orang yang berdamai
dengan waktu

aku tergelung pucat.
tapi kali ini tak lagi sembunyi
aku akan terus berlari
biar angin sudah seperti goblok
terkumpul diperut yang lapar
aku pergi ke pusat rasa takut
karena ketentuan Tuhan
hanya bisa dirubah dengan gerakan
bukan gertakan

“sampai kapan kau akan bertahan?”
ujarnya,
aku tak tahu, betul-betul tak tahu
waktu malam menggeliat,
aku hanya berpikir, esok pagi pergulatan baru
waktu fajar tersenyum,
aku hanya berpikir dalam kantuk,
aku akan berangkat ke bukit, memecah batu-batu
meninggikan pondasi berpijak

Dan dalam dendang buaian
kuusap kekusutan dalam hati
kubisikkan padanya:
“ayolah, ayolah”

_______________
22:34 08/12/2006

Penganjingan Manusia disini..

Bau hujan tercium dari jauh
bercampur asap tabunan
udara jadi pekat sephia

terbayangkan masa lalu
masa kecil di tanah ini
ketika definisi beban sebatas
bermain dan larangan-larangan ibu

di kota ini
orang terus berpacu seperti kuda rabies
liur iri dan kesombongan
menjadikan manusianya anjing-anjing
turunan dajjal

kemarin Arjuna dan Gatot Kaca turun
mengajarkan ke-kesatriaan
audience bertanya: “Berapa honor menjadi seorang ksatria?”
berapa persentase buat analis ksatria?
audience mulai mendebat audience lainnya.
Masing-masing memperjuangkan agar bagiannya lebih besar
mereka terus bicara, hingga wajahnya menjadi babi.

nilai-nilai jungkir balik
curiga telah menggantikan tugas oksigen

Gerimis turun
senang rasanya hati
cuma ini yang selalu tulus
walau cucurannya telah bercampur kimia

kami terus berpacu
hingga lupa keindahan
semuanya tercebur ke dalam agenda-agenda
sampai ke titik ibu harus membuat janji
untuk bisa bertemu mahluk yang keluar dari selangkangannya

Mengenaskan, seperti di medan perang
melihat teman sendiri mati jiwanya
menjadi bangsat

Bau hujan tercium dari jauh
hawa udara yang basah bercampur tanah

terkenang kembali masa lalu
ketika beban tanah kampung ini
hanyalah kebun-kebun dan beberapa gelintir rumah
bukan tusukan beton-beton rumah kontrakan
dan real estate

Jakarta, 18:06 23/06/2006

Datang juga perpisahan, semakin jelas kebodohanku

“aku suka puisimu yang satu ini”
katamu suatu ketika
pada satu malam sejuk
di kota yang dilingkung gunung

Puisi yang bicarakan
jiwa yang ingin lari
dari jiwa lain yang terasa mendesak

aku cuma tersenyum diam
dan bertanya kenapa?
sebuah apresiasi keluar
bersama mata yang gelisah

waktu berlalu
kita benar dipisah-belah
oleh waktu

terbaca lagi puisi itu
dan teringat pula katamu
“Aku ingin lepas darimu,
lepas dari bayangmu…
Aku ingin namaku sepenuhnya,
bukan namaku yang ditambahi namamu…”

persis seperti puisi itu
“pergi dari dunia yang tanpamu…”

aku terpekur
maaf, berulangkali aku mintakan
“maaf, telah menyita umurmu
dengan perasaan terganggu”
sungguh.

dan kita tak pernah
benar-bersatu lagi setelahnya
dialo-dialog hambar,
tatap tak tulus bertemu

sudahlah
ratap tak guna
biar jiwaku memanggil sendirian

——-
1:27 AM 10/14/2005

Entah Kepada Siapa Dia Berteriak

sebuah gitar bergelung di dada
di tengah tumpukan kawan
dia bernyanyi
sendiri

meraung kepada ruang
yang gatal dihatinya

“Rasa iri telah menyakitiku”
katanya suatu ketika

Dan dia lari,
ke dalam kesendirian
ke tengah tembok-tembok

Orang-orang memperhatikannya
bersedekap, tolak pinggang, sambil-lalu
tak ada yang tahu pasti
bagaimana menghadapinya
tak ada yang mengerti
apakah dia butuh pertolongan,
dampingan.

Semuanya diam
melewatinya begitu saja.

pada keramaian pasar pun
ia selalu bernyanyi sendiri,
berteriak.
Seolah ada haknya
yang tercabut oleh keramaian
seperti kepuasannya direnggut
oleh mereka yang mengelilinginya

tak ada yang mengerti
pun yang tahu pasti
kepada siapa dia berteriak

================
2:30 PM 9/25/2005

Seorang Kawan yang Jatuh

Ketika angin gelap ini turun,
dalam bis, tak pelak wajahmu terbayang
“seorang kawan yang tersandung
di tengah perjalanannya”

Lampu-lampu kota seperti menonton kita
malam ini kaulah bintangnya
mereka selalu menyaksikan bersama waktu
mata mereka membisik di punggung kita
melahirkan kernyit-kernyit gelisah
dalam langkah-langkah kita yang salah

“Dan kita seringkali tak cukup pandai untuk menghiraukannya”

Lubang hitam yang menghantam kepalamu
jangan biarkan membatu
bicaralah padaku, satukan kembali
keringat yang dulu pernah jatuh bersama
jadikan aku rantingmu, bergayutlah padaku
kita bersihkan lukamu

Jika pintu-pintu terkunci untukmu
ketuklah pintuku,
pelukan seorang kawan menantimu

Kita mungkin tak bisa mengalahkan waktu,
lampu-lampu kota, dan peristiwa yang pergi dengannya
Tapi selama nafas masih melekat
kita masih mungkin memperbaikinya


==================
2:56 18/09/2005

Bayang Buram Melewati Senja

Sekarang kita berkata
waktu terus berjalan
dan semuanya mati begitu saja

seperti pohon tumbang membusuk di tanah
seperti mayat yang mengenyangkan bakteri pengurai

wajah-wajah yang dulu tertawa
dalam barisan semangat muda
semakin tua dan pudar
terpisah dalam jarak dan tanggungan

tinggal bayang buram
dalam lintasan-lintasan kenangan

aku pun tak tahu
berapa lama ingatan itu bertahan

yahh, tak ada yang abadi memang
disitulah keegoisan Tuhan
dan disinilah keegoisan kita
menuntut

selamat jalan
berlayarlah,
terus berlayar,
perhatikan arah angin,
lalui badai-badai,

kemudian tinggal doa-doa terkirim
juga harapan

===============
4:16 18/09/2005

Hujan yang di nanti

Bahagia merekah
bila hujan datang
walau hati ini sakit bagaimana
rintiknya menjinakkan
galau dan dengki

hujan, kegelapan, dan angin
kesanalah aku berlari
jika dunia disekitar tak hendak menampungku

dalam kegelapan
menikmati derai tawa hujan pada bumi
hati menjadi lerai, kepala seperti ditadahi awan
ini adalah ruang pesta malaikat

hujan pun bercerita -selalu cerita yang sama-
“Manusia lahir dan menangis,
ia lahir bersama galau, meneriakkan kegelisahan yang murni.
Tentang eksistensinya, kesombongannya, dan Tuhan.
Pada galau Tuhan menitipkan harapan,
harapan dunia dan harapan Dunia Yang Akan Datang.

Dan kami bangsa hujan, dilahirkan dengan senyum.
Peluntur hasrat-hasrat dan dengki, pelipur kesedihan,
pelipur galau di titik puncak.”

Hujan, kegelapan, dan angin
adalah ruang rahim ibu yang penuh kasih
ruang tanpa justifikasi, alasan, dan kecaman.
segalanya diluluhkan menjadi senyum.

Dalam senyum
“Ah, hujan…”

—–
6:28 PM 7/17/2005

Kau Tak Bisa Kulewati

Tak bisa kuselesaikan
puisi-puisimu
dalam satu kedipan

3-4 puisi yang terlewati
selalu menghentak lambungku
tak mampu terus lagi

Luka dari
kata-katamu
mengucur bagai air mata

aku tak pernah
kenal kesunyian sepertimu
alunan hidup yan kau ceritakan
dan kerutan kening yang kau tuliskan

Jiwamu seperti kapas
lembut, hitam
menjerat sebagai
jaring laba-laba

kau seakan tak menoleh
sudah kupanggili namamu
kupanggili namamu

kau ada
hanya untuk jendela-jendela
di kamarmu

Duduk di kursi
menanti senja


—-
Toba.
15 Januari 2003

–edited on 12:46 pm 30/12/2010–

Kembali ke Kamar yang Dulu

Kembali
ke kamar yang dulu

merayap lagi
di tembok-tembok sepi
menerawang
menembus bayangan gelap

Ada hati kembali
terasa benar
pergantian musim dalam hidup

cekaman yang halus
dengan nikmat memijat kepala

kembali ke kamar yang dulu
tanpa ketakutan-ketakutan buruk
di kepala

aku bisa pukul temboknya
kupecahkan dalam satu
geliat segar

Mampus kau semua!!!


—
Toba.
16 Januari 2004