Category Archives: Puisi Katarsis Nyenius

Sebatang Tembakau dan Kopi

Dalam secangkir kopi
yang meyisakan
satu-dua asap
Berenang jiwaku, berseloroh

Semua kebusukan
memang harus ada
semua tikus-tikus
memang harus hidup

Dalam sebatang rokok asing
senandung bergema
rra ta tam tam
rra ta tam tam
rra ta ta tam

kemudian tertawa geli
melihat akuarium
berisi ketololan-ketololan kita

Tragisnya drama
hasrat yang mandul
Impian-impian muda
Renungan-renungan cengeng

perlahan hadir
dalam secangkir kopi
yang tercelup tembakau asing


—
Toba.
03/02/2003

Berlarilah Anaku!

berlari dengan tangan terkepal
berlarilah anaku

biarkan angin menghapus air matamu
biarkan debu mengusapi hatimu

berlari dengan hati yang tegap
berlarilah anaku

janganlah kau berhenti
jangan biarkan kehidupan merenggut hidupmu
walau sedetik

berlari dengan kaki yang kekar
berlarilah anaku

jadilah perkasa
jadilah orang yang selalu menantang ketidakpastian
jadilah kamu

berlari dengan pikiran yang tenang
berlarilah anaku

tak peduli orang menyebutmu apa
kau harus punya cita-cita

dengan kesegaran langit
dan malaikat-malaikat malam
janganlah bersedih

jika kau jatuh saat berlari
bangun!
dan teruskan berlari

jangan berlari kosong
berlarilah demi mengejar sesuatu
berlarilah demi membangun sesuatu

ini masamu nak!
ini zamanmu!

berlari dengan segala dirimu
berlarilah anaku

kemana pun kau pernah tersesat
dalam berlari
tetaplah nak
pada akhirnya
berlarilah sebagai manusia
dan
berlarilah menuju Tuhan


===================
Toba.
2:46 AM 12/9/01

Kepada Penyair Muda

“To be read at the opening of Poet Society Meetings”

Angin yang berputar
akan merasuki kulitmu, matamu, hatimu

Langit gelap, biru
akan meledakkan hatimu
dengan inspirasi-inspirasi

Ada orang-orang dengan mata-mata
akan merasuki hidupmu
memaksamu mencari pena dan menuangkannya

Jiwamu akan penu
lalu tumpah di atas kertas-kertas
Kau menggelepar dalam coitus pikiran raga

Semua tenaga
semua jiwa raga
tersebar dan lumer
lalu terbang ke langit
mencari keindahan, mencari kata-kata
dan kau tulis
sebagai rasa terima kasih
kepada tuhan

==========
Toba.
Bandung, 26/03/02, 22:59 PM

Menantang Pagi

Pagi yang membara
ketika kuingat lukaku
pagi tanpa embun dingin
kepalaku membentur batu

Ahh,
matahari yang pengecut
datanglah kau
keluarlah dari tata surya
masukilah kepalaku

Aku mau meledak!

Pagi yang menggelora
aku terbangun dan luka
Kehilangan demi kehilangan datang
menendang-nendang di ulu hati

Pepohonan
daun-daun kering
jatuh dan tumbang di atas kepala

Aku sudah kunyah setiap luka
sudah kukeraskan ototku
demi mengikat tiap kesedihan
dalam peti mati

Hari ini aku akan berhenti
akan kujegal tiap luka
akan kubalut tiap daging yang menganga

Pagi yang membara
pagi tanpa titik embun di ujung daun
kutantang kau!


============
Toba.
Bandung, 15/08/02, 04:50 AM

Bantu Aku

“Love can never be betrayed
the same way as the tree, nor the sea
nor any other mistery
it’s the ayes that betrayed them
it’s the sinner and the saint
it’s the line inside the paint”
“The Million Dollar Hotel”

Aku tahu
kata-kataku mati
terekat di telinga

Aku tergeletak di sini kawan
tanpa seseorang menarikku
dari lumpur yang lengket

aku sendirian di sini kawan
dengan gagap aku hadapi hari-hari
aku gelisah

diriku menjadi samar
tak bulat
seperti kabut
terlihat jelas
tapi tak ada

cari aku kawan
aku mulai tersesat
pangil namaku kawan
karena aku tak ingat siapa aku
seperti apa mencinta
seperti apa nafsu

Keputusanku seperti kilat
dan aku mati setelah mengatakannya

tolong aku kawan
sebelum aku lenyap dari sini

cepatlah keu ke langit
lalu ulurkan tambang dari sana
bantu aku!

Sebelum aku hilang
sebelum aku benar-benar senyap
datanglah ke sini
ke sampingku dan sentuh hidungku
agar aku tahu
kau sudah tiba

=============
Toba
Bandung, 27/08/02, 12:02 PM

Kembalilah Kalian

Hatiku tersayang
biarkan saja, mereka tidak tahu
lepaskanlah kutukmu,
malu terdengar Tuhan

Bersihkan jendelamu
sudah kusam rupanya
aku tak mau menjadi buta
dan kehilangan cahaya-Nya

Badanku yang lapuk
Waktu rasa takut menggigilkanmu
Ada baiknya kita terus melaju
Karena ia tak mungkin kita hilangkan
sedang langkah adalah lambang kehidupan

Mataku yang bodoh
hentikanlah melahap buah dada mereka
uratmu sudah terlalu lelah
sekarang kita butuh lebih dari sekedar buah dada
tapi kita juga perlu hati yang mencintai

Lidahku yang licin
Berkatalah yang baik
Semaikanlah bunga di hati tetangga kita
dan tegaskanlah batas fakta dan fiksi

Jiwaku,
Jiwaku yang terus berkelana
ke dalam seribu warna lembah
pulanglah nak

Tubuh ini telah lama kosong
Jasad ini hanya menagih jasad kembali
dan kau semakin jauh dari pendampingmu

Pulanglah,
agar urat ini kembali menghijau
dan penuh kehidupan

Pulanglah,
agar jalan kita yang membayang
menjadi jembatan lurus menuju kesejatian

Jiwaku, pulanglah
karena kita akan kembali
mencangkul sawah ini
dari petak yang paling mula

06/10/04

Menjadi Tua

Semakin tua, kita menjadi takut pada kenangan
ngeri menatap mereka dan jadi hidup lagi

karena memang kita tak mampu kembali ke sana
dan menjauh dari harapan itu

Cinta yang membara
percumbuan-percumbuan menjadi ritual
dan tujuan yang tak perlu dipikir ulang
adalah kegilaan yang dirindu

semakin tua, makin menjauh dari romantisme
kenyataan menggembleng kita begitu rupa
tangan kita, kaki kita, dipaksa membenci mimpi
dan cita-cita

seringkali keterpaksaan dan menyerah pada keadaan
menjadi pijakan untuk terus hidup
ah, kita semakin lapuk

sepertinya kita harus hijrah
melakukan langkah besar yang sepenuhnya beda
kita harus berani mati setiap waktu
kita harus berjuang hingga nafas ini habis
dan perlawanan sudah tak mungkin lagi

Tak boleh menyerah
tak boleh mengatakan cukup
Jiwa tak boleh kalah
semangat tak boleh mati

kita harus selesaikan perjanjian kita dengan Tuhan
kita memang tak diizinkan untuk bilang menyerah
karena kita telah dilahirkan

0:29 03/03/2004

Dalam Mabuk

aku pejam mata
tanganku seperti bengkok
membelai kepala

dunia terlihat bayang-bayang
ketuaannya menjadi jelas
tempat yang penuh cerita basi

kasur berbau wanita
memanjakan dagingku
sedang darah mendesirkan pening di kepala

aku pejam mata
dunia ini jadi bengkok
tubuhku menjelma cahaya
hanya pikiranku yang tinggal

Lahir kembali
memilah dan membuang rasa takut
berkekuatan penuh di tiap urat

semuanya merasuk berhimpitan
menjadi kantuk
perlahan terlihat tulisan:
Mengandung alkohol 40 %

aku jatuhkan botol itu
pecah berserakan di lantai
aku hilang

10:32 PM 10/12/2003

Waktu diluar Sini

di luar sini
waktu pergi begitu saja
seperti kaki yang bersijingkat
melangkah keluar kamar
tanpa bicara

tanpa sadar
sudah dua depa
kita melangkah

karena keramaian hidup
kita lupa
segalanya akan hilang segera
sedang Pemilik Langit akan terus
mengatur semua debu

kita menangis dan bersorak
entah menjadi apa atau kenapa
tapi waktu, di luar sini
terus habis terbakar

8 april – 3:40 PM 26 aug 2003