Category Archives: Puisi Katarsis Nyenius

Sebuah Panggilan

Kepada jiwa-jiwa yang bergejolak
aku memanggilmu!
Dengan satu warna kepalan tangan
kemari
berikan aku hembus yang menggelisahkan itu

Tumpahkan!
Tumpahkan!

Biar remuk tanah pijakanku
biar hancur langit idamanku
beri aku satu bisikan
yang membangunkanku dari tidur
yang mengusik ketentramanku

Kepada jiwa-jiwa yang bergejolak
aku menyerumu
menghimpun desir-desir hati
yang menggelorakan itu

Hantam aku
dengan sorotmu yang menyala
dengan wajahmu yang membakar
hantam aku!
wahai jiwa-jiwa topan badai
hantam aku!

Kehausan ini
kegatalan ini
seperti menagih badanku
Untuk bergerak dan memanggil
Rumpuan jiwa yang gelisah

O,
Sekali aku menyeru kau
Seratus kali jiwaku bergetar

Wahai jiwa-jiwa yang bergejolak
datanglah
dan teriakkan semuanya
di telingaku!

13:47 06-04-2002

Sajak Gagal

Remuklah aku
sebelum sampai ditujuan
sebelum kusentuh
apa yang kuimpikan semalam

Mencairlah aku bersama gerimis
Jatuh satu-persatu ke tanah
menjadi bongkahan lumpur
yang mencari laut

Remuklah aku
Hilang pada akhirnya
Tertelan nafas sendiri
tertelan mimpi-mimpi tinggi

Mati
Tanpa nisan dan tangis sanak saudara
ditengah jalan ini
Ketika belum jadi apa-apa

25 Februari 2003

Perih

Kuhirup kegelisahan dalam-dalam
tak kutitipkan pada siapapun

Kusanggah kepalaku sendiri
dalam api
mata tak pejam sedikitpun

Ini memang akan datang
aku tahu dari jauh hari

Aku mengulum senyum
kubuat balon seperti permen karet
didalamnya kukunyah daun saga
rasa pahit menjalar dengan rahasia

Kau takkan tahu
dan tak mau tahu
aku gauli perih begini sendiri

25 Februari 2003

Meracau

meracau beberapa hari
bicara tak jelas
lantang, kuat, dan kosong

pada tiap sudut
hanya diri sendiri terlihat

kau mungkin melihatnya
kau mungkin menciumnya

entah kemana suara itu pergi
entah kemana tangan itu menggenggam
pada kesadaran penuh
kau tak bisa hentikan langkah

ketika ramai kau menjadi lebih ramai
ketika sendiri kau menangis penuh sesal

sudahlah!
hentikan, ini konyol

mencari apa tangan yang mengerjap itu?
memburu apa kaki yang melaju itu?
kesia-siaan bukanlah pilihan
hentikan!

9:55 AM 3/17/03

Mama!

Ketika burung malam
istirahat di kerucut pohonan
aku masih saja mengeluh

mama!
aku belum menemukan jalan pulang
tidak juga jalan untuk terus
semuanya gelap

aku diam
gemetar sendiri
meski disekitarku malaikat berkeliaran

aku tidak bisa melihat
buta,
hanya gelap

mama!
apa aku terlalu sombong
padahal kepada tembok dan daun
aku selalu berderma!

mama!
temukanlah aku
tidak! jangan dengan nasihatmu
gunakan yang lain
keluarkan aku!

di antara jeruji diriku sendiri
aku terpenjara
hilang segala keinginan

apakah kakiku sudah terlalu lemah?

mama!
sudah cukup batinku mengamuk
jangan marahi lagi
peluk saja aku
peluk saja
hingga aku hilang
dalam tubuhmu yang
subur

aku ingin lihat
pesan Tuhan

3:29 PM 8/26/2003

Larut Malam

Sudah malam
petir masih sibuk juga
ricik air kali bicarakan hidup

Langit gelap seperti esok
dalam kemayu gadis desa
hujan bisikkan mantra ketenangan
di dahi yang mengkerut panas

sudah malam
giliran jangkrik bekerja
dan kita bercanda dengan nasib
“apakah kita akan mati malam ini?!”

dalam gelap begini
kita tak akan tahu
seseorang di suatu tempat
mati terpanah,
jatuh dalam kelukaan sangat

pejamkan mata
peluklah

26 feb – 3 Maret 2003

Kematian Seorang Pemuda

seorang pria kecil
membuat sarang dalam kotak beton
mencari hangat yang dirindui

sementara itu
waktu membunuhnya perlahan-lahan
semua miliknya berubah
kecuali satu; hati yang mengharap

jendela di atas kepalanya terbuka
angin dingin membelai lehernya
ayam jantan terus bicara tentang malaikat
dan ia terus memeluk nadi di tangannya

seorang pemuda
yang gemar akan dongeng dan mimpi
seorang pemuda
yang merindukan kekuatan penuh
tapi dia hanya diam dalam sarang

“jangan bangunkan aku,
aku sudah mati.
Beritahu aku kalau
bahagia datang.”

3:11 AM 9/10/2003

Jangan Takut Lagi

Apa yang kau cari
dalam tumpukan daun kering
kau bantai cinta-cinta yang datang

Bangun gunung yang teguh didalam
Genggam jiwamu
Jangan biarkan lepas

Malam menaungimu
Jangan takut lagi
Seorang bidadari akan selalu siap
dengan peluknya

Jadilah baru
Hapus sebagian kata-kata
Dengarkan kalimat yang tak terlihat

Hidup hanya sebuah titik
dibalik garis tanpa batas

06/10/03
Kebon Jeruk, Jkt