Category Archives: Puisi Katarsis Nyenius

Dia yang Merasa Puas

Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Akan mati hari ini juga

Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Akan tersia-sia dari kecukupan
Sebab ditutupnya gerbang langit luas
Dan didudukinya kursi kebijaksanaan yang paling rendah

Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Akan mati saat ini juga
Waktu hatinya mebubung ke langit
Dan mementahkan segala realita

Ia tak akan berkembang
Menjadi pulau yang luas
Ia tak kan mampu terbang
Sebebas burung lepas

Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Semata karena kebanggaan akan dirinya
Akan hancur mulai sekarang juga

Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Semata karena kesombongan
Telah menutup kalbu
Akan jatuh berdebam dan kesepian

Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Dan berjalan dengan kekaguman akan dirinya
Telah lupa; bahwa dia manusia

Toba, 22/08/02

Sepi yang Seperti Ini

seperti ini sepi
sendiri dalam keputus asaan
dan keraguan

seperti ini sepi
ketika penghianatan yang lewat
melahirkan luka ditangan sendiri

seperti ini sepi
ketika kau menginginkan seisi dunia
sambil kau tidak menginginkannya

seperti ini sepi
ketika hati goyah
dan enggan bergantung kemana-mana

seperti ini sepi
setelah sekian lama hidup
riuh rendah dan tertawa penuh kemenangan

seperti ini sepi
waktu sadar kau benar-benar
sendiri

seperti ini sepi
ketika kerinduan-kerinduan
memukul tembok-tembok hati yang luka

sepi yang seperti ini
seperti sepi yang ini
sepi yang tertawa liar mengejek langit
lantas mati kesepian

3:14 AM 11/3/02

Bicara Kenangan

menoleh ke belakang
melalui bahu
menilik langkah yang lewat

kemudian mengayun kembali
melangkah dalam senyum ringan

sesekali kita duduk
mengemil kenangan
mengunyahnya dengan tawa

kegelapan-kegelapan baru
kita masuki
pagi-pagi yang renyah, lembap
kita kunjungi

suatu hari nanti
dengan bijak
kita rebahkan semua badai itu
dalam pelabuhan yang penuh
angin sore

23:48 04/02/03

Luka Daunan

Daun yang tersobek tak menangis
Menyisakan hidupnya ditanah
dan mati

Perih pada tiap seratnya
Tak dihiraukan
dia tak menyalahkan

Dia tak menghancurkan orang lain
dengan marahnya
cuma tersenyum :
“Lihat lukaku, menggores indah
membelahku, dari sini akan lahir
tanah dan harapan baru”

Tak ada yang bersedih
Orang-orang hanya berlalu
menginjaknya, menambahkan luka

Tetap tanpa jerit
Tetap tanpa duka
Tanpa pengumuman kematian di masjid-masjid,
di koran-koran
Ia serap dalam senyum, dalam
kehijauan yang semakin pudar

Saat mengering dan wajahnya kaku
dalam senyum tak henti
-sedang luka sudah tak terhitung-
Ia mencapai nirwana

25 Februari 2003

Semua Galaumu

sebenarnya kau bicara kepada apa
dan untuk siapa?!

bukankah hanya suaramu saja
yang terdengar

apa yang kau igaukan itu?
begitu jelas tertera di jalan-jalan
seperti iklan rokok yang memuakkan

rupanya ada bajingan yang lepas
dari kejaran polisi dan ia berteriak
mengelukan pengejaran atas pengecut itu

tidakkah sakit waktu kau teriak?
tidakkah perih waktu kau menunjuk-menghitamkan

marahlah
ya, marah
banting botol itu, lemparkan ke tembok
dan biarkan semut-semut tahu kau kesal banget

aku sudah muak
pada dualisme mulut dan hati
berapa kali kau terjebak?

berbicara manis di gagang telepon,
begitu agung, meyakinkan, penuh daya
lantas sesudahnya kau lunglai di atas kasur
dan membunuh bukti-bukti

kau guru dari segala rubah
dan kau kalah oleh lidahmu sendiri
jadi bisu dalam-dalam

sembunyilah
lari ke dalam selimut
cari pembenaran di atas seprei buluk
larilah pengecut

kau adalah nabi yang gagal
menangkap wahyu
hingga lepas, membentur kepalamu
dan kau jadi gila

tahukah kau
arti kata cukup?

5:39 PM 9/9/2003

Nyanyian Rumput Buat Jiwa Muda

apa yang kau cari
setelah jauh berjalan
memarahi nasib
dan meludahi sungai-sungai

apa yang kau mau
setelah kesedihan demi kesedihan
kau lipat dalam baju
dan pekik kalut
selalu membayangi bunga
yang kau cium

keharuman yang kau cari
itu racun
kau akan tertusuk pedangmu sendiri
karenanya

bisa jadi kau tertipu
akan kebenaran yang kau pegang

tidak maukah kau diam sejenak
memusatkan semesta pada hatimu
dan kembali berjalan dengan
langkah penuh terisi

kemudaanmu adalah besi tempa
dan perjudian yang penuh perhitungan
sekali kau salah memukulnya
ia hanya akan menjadi arit pemotong rumput belaka

jalanmu tak tentu
seperti kucing gelandangan
menggantungkan hidup
pada tempat sampah yang dilewatinya

kosong

lupakan harapan akan kegagahan
kenapa tidak berguru pada angin, pada gunung
dan pada bambu?!
mereka bekerjasama demi satu cita-cita
sedang dengan tubuhmu sendiri
kau terus bertengkar
bagaimana dengan jiwamu?!

sudahlah
diam
jangan banyak berkoar tentang keinginan
bangun dulu satu gapura sederhana
hingga selesai

12:34 AM 4/9/03

Kebijaksanaan

semua sungai yang mengalir liar
semua jalan setapak yang mengakar
mabuk di gunung-gunung ganas
mengalir pada satu muara berkilau

semua rambut yang terurai resah
semua dada yang berdentum gelisah
berjalan meramu serpih-serpih
jawaban sebuah pertanyaan hidup

semuanya bergolak
berlari, memburu
kepada satu keadaan
di antara langit dan bumi
sebuah kutub antara.

semuanya menuju kebijaksanaan
semua laku semua kata
semua yang terjadi
semuanya menuju kebijaksanaan

sungai yang deras akan menjadi bening
hujan yang menghujam, mengikis tanah-tanah tinggi
akan menjadi ketiadaan

di sana
dalam kebijaksanaan
tak ada lagi sesal
cahaya berlimpahan
merajut-rajut jalan menuju Tuhan

mengalahkan kepicikan-kepicikan
tersembunyi manusia
menumbangkan semua pertanyaan-pertanyaan konyol tentang
hidup
membukakan mata pada
yang tak terlihat

kebijaksanaan,
sebuah alam tua penuh keriput
berwarna biru

sejuk dalam senyum
yang membunuh segala kekakuan
berdiri di tengah hitam-putih

kebijaksanaan,
sebuah kereta kencana
yang diajarkan Tuhan dan Kekasih-Nya

10:58 PM 7/7/02