Kulukis warna merah di lantai
Ketika aku akan menjumpaimu
Hening.
Bersama matahari sore yang melintas
aku berangkat
2:28 PM 7/8/2003
Kulukis warna merah di lantai
Ketika aku akan menjumpaimu
Hening.
Bersama matahari sore yang melintas
aku berangkat
2:28 PM 7/8/2003
Harus lewat juga
semuanya
Harus hilang
Harus tak menangis
Harus tak menoleh
Harus berdada tegap, tegar
dan terus
Harus lewat juga
semuanya
Hilang dalam kabut
terbakar
27/11/2002
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Akan mati hari ini juga
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Akan tersia-sia dari kecukupan
Sebab ditutupnya gerbang langit luas
Dan didudukinya kursi kebijaksanaan yang paling rendah
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Akan mati saat ini juga
Waktu hatinya mebubung ke langit
Dan mementahkan segala realita
Ia tak akan berkembang
Menjadi pulau yang luas
Ia tak kan mampu terbang
Sebebas burung lepas
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Semata karena kebanggaan akan dirinya
Akan hancur mulai sekarang juga
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Semata karena kesombongan
Telah menutup kalbu
Akan jatuh berdebam dan kesepian
Dia yang merasa puas akan pencapaiannya
Dan berjalan dengan kekaguman akan dirinya
Telah lupa; bahwa dia manusia
Toba, 22/08/02
seperti ini sepi
sendiri dalam keputus asaan
dan keraguan
seperti ini sepi
ketika penghianatan yang lewat
melahirkan luka ditangan sendiri
seperti ini sepi
ketika kau menginginkan seisi dunia
sambil kau tidak menginginkannya
seperti ini sepi
ketika hati goyah
dan enggan bergantung kemana-mana
seperti ini sepi
setelah sekian lama hidup
riuh rendah dan tertawa penuh kemenangan
seperti ini sepi
waktu sadar kau benar-benar
sendiri
seperti ini sepi
ketika kerinduan-kerinduan
memukul tembok-tembok hati yang luka
sepi yang seperti ini
seperti sepi yang ini
sepi yang tertawa liar mengejek langit
lantas mati kesepian
3:14 AM 11/3/02
menoleh ke belakang
melalui bahu
menilik langkah yang lewat
kemudian mengayun kembali
melangkah dalam senyum ringan
sesekali kita duduk
mengemil kenangan
mengunyahnya dengan tawa
kegelapan-kegelapan baru
kita masuki
pagi-pagi yang renyah, lembap
kita kunjungi
suatu hari nanti
dengan bijak
kita rebahkan semua badai itu
dalam pelabuhan yang penuh
angin sore
23:48 04/02/03
Daun yang tersobek tak menangis
Menyisakan hidupnya ditanah
dan mati
Perih pada tiap seratnya
Tak dihiraukan
dia tak menyalahkan
Dia tak menghancurkan orang lain
dengan marahnya
cuma tersenyum :
“Lihat lukaku, menggores indah
membelahku, dari sini akan lahir
tanah dan harapan baru”
Tak ada yang bersedih
Orang-orang hanya berlalu
menginjaknya, menambahkan luka
Tetap tanpa jerit
Tetap tanpa duka
Tanpa pengumuman kematian di masjid-masjid,
di koran-koran
Ia serap dalam senyum, dalam
kehijauan yang semakin pudar
Saat mengering dan wajahnya kaku
dalam senyum tak henti
-sedang luka sudah tak terhitung-
Ia mencapai nirwana
25 Februari 2003
sebenarnya kau bicara kepada apa
dan untuk siapa?!
bukankah hanya suaramu saja
yang terdengar
apa yang kau igaukan itu?
begitu jelas tertera di jalan-jalan
seperti iklan rokok yang memuakkan
rupanya ada bajingan yang lepas
dari kejaran polisi dan ia berteriak
mengelukan pengejaran atas pengecut itu
tidakkah sakit waktu kau teriak?
tidakkah perih waktu kau menunjuk-menghitamkan
marahlah
ya, marah
banting botol itu, lemparkan ke tembok
dan biarkan semut-semut tahu kau kesal banget
aku sudah muak
pada dualisme mulut dan hati
berapa kali kau terjebak?
berbicara manis di gagang telepon,
begitu agung, meyakinkan, penuh daya
lantas sesudahnya kau lunglai di atas kasur
dan membunuh bukti-bukti
kau guru dari segala rubah
dan kau kalah oleh lidahmu sendiri
jadi bisu dalam-dalam
sembunyilah
lari ke dalam selimut
cari pembenaran di atas seprei buluk
larilah pengecut
kau adalah nabi yang gagal
menangkap wahyu
hingga lepas, membentur kepalamu
dan kau jadi gila
tahukah kau
arti kata cukup?
5:39 PM 9/9/2003
Diam seperti daun diatas air
mengambang
tanpa tenggelam tanpa basah
ikut ke hulu
ikut ke hulu
“kenapa tidak ke muara?”
persetan!
aku tersenyum dan
ikut ke hulu
kembali ke Sumber Segala
1:26 AM 7/5/2003
apa yang kau cari
setelah jauh berjalan
memarahi nasib
dan meludahi sungai-sungai
apa yang kau mau
setelah kesedihan demi kesedihan
kau lipat dalam baju
dan pekik kalut
selalu membayangi bunga
yang kau cium
keharuman yang kau cari
itu racun
kau akan tertusuk pedangmu sendiri
karenanya
bisa jadi kau tertipu
akan kebenaran yang kau pegang
tidak maukah kau diam sejenak
memusatkan semesta pada hatimu
dan kembali berjalan dengan
langkah penuh terisi
kemudaanmu adalah besi tempa
dan perjudian yang penuh perhitungan
sekali kau salah memukulnya
ia hanya akan menjadi arit pemotong rumput belaka
jalanmu tak tentu
seperti kucing gelandangan
menggantungkan hidup
pada tempat sampah yang dilewatinya
kosong
lupakan harapan akan kegagahan
kenapa tidak berguru pada angin, pada gunung
dan pada bambu?!
mereka bekerjasama demi satu cita-cita
sedang dengan tubuhmu sendiri
kau terus bertengkar
bagaimana dengan jiwamu?!
sudahlah
diam
jangan banyak berkoar tentang keinginan
bangun dulu satu gapura sederhana
hingga selesai
12:34 AM 4/9/03
semua sungai yang mengalir liar
semua jalan setapak yang mengakar
mabuk di gunung-gunung ganas
mengalir pada satu muara berkilau
semua rambut yang terurai resah
semua dada yang berdentum gelisah
berjalan meramu serpih-serpih
jawaban sebuah pertanyaan hidup
semuanya bergolak
berlari, memburu
kepada satu keadaan
di antara langit dan bumi
sebuah kutub antara.
semuanya menuju kebijaksanaan
semua laku semua kata
semua yang terjadi
semuanya menuju kebijaksanaan
sungai yang deras akan menjadi bening
hujan yang menghujam, mengikis tanah-tanah tinggi
akan menjadi ketiadaan
di sana
dalam kebijaksanaan
tak ada lagi sesal
cahaya berlimpahan
merajut-rajut jalan menuju Tuhan
mengalahkan kepicikan-kepicikan
tersembunyi manusia
menumbangkan semua pertanyaan-pertanyaan konyol tentang
hidup
membukakan mata pada
yang tak terlihat
kebijaksanaan,
sebuah alam tua penuh keriput
berwarna biru
sejuk dalam senyum
yang membunuh segala kekakuan
berdiri di tengah hitam-putih
kebijaksanaan,
sebuah kereta kencana
yang diajarkan Tuhan dan Kekasih-Nya
10:58 PM 7/7/02