Category Archives: Puisi Katarsis Nyenius

Sekali Saja

sekelebat saja
kepusingan memanggil
belum juga mengedip penuh
kita telah jatuh dan menangis

kata-kata lahir begitu cepat
sebagai benih penyesalan
kita lemas, begitu lemas
hingga tertidur

sekali saja
kita harus berbuat benar
sekali saja kita harus memberi
selapangnya

dan kita harus
sadar sepenuh dan
seterusnya

5:02 PM 4/19/03

Sudah Waktunya

ayolah
kapan kau keluar
dari kubangan itu

ini sudah waktunya
jangan hanya diam.
kau lebih,
hantam saja!

gelap bukan halangan
kalau kau maju terus
nanti terkuak juga

seperti hutan-hutan yang kau masuki
sama sewaktu kau tersesat di jalan
cabangnya
kau hanya duduk sesaat dan
memutuskan untuk terus

nanti juga kau tertawa
di puncak gunung
sudahlah
hentikan semua ratap

ada yang menantikan senyummu
ada yang menunggu pelukmu

pancarkan lagi
inti semangatmu
hup!!!

12:37 AM 8/21/2003

Berlari

keluarlah dari kehangatan itu
masukilah dingin berabad-abad
masukilah siang yang buntu
pusingkan kepalamu
resahkan hatimu
berteriaklah
biar penduduk langit mendengar

ketakutan tak
menghasilkan apa-apa,
hanya kosong dan ruang gelap

berlarilah tembusi hujan
tembusi kabut
tembusi tembok-tembok
pukul kegelisahan

menarilah dalam sakit
tertawalah waktu luka menghujam
karena masih banyak kerja
harus selesai
karena masih banyak tugas
harus diringkas

karena kita manusia
karena kita ingin menjadi sesuatu
bukan sekedar lukisan menghiasi dunia
tapi kita adalah dekorasi dunia!

kita adalah ular meliuk cepat
kita adalah kijang berlari menembus hutan
kita adalah jiwa bebas yang terbang ke ujung langit
kita adalah roh-roh halus yang liat
karena kita ingin menjadi sesuatu

jatuh tak akan menghentikan kita
karena kaki kita
adalah himpunan luka
karena hati kita telah didera seribu gejolak dan resah

ayo terus berlari
ini perang terhadap diri sendiri
akan banyak yang jatuh dalam barisan
bangunkan mereka dan terus maju

berlari
berlari
terus berlari!

9:17 22/02/03

Ballada Gelap

sudah
tak ada cinta
tak ada kata-kata

seperti kabut
menguap
tak menyentuh apa-apa
hanya telinga
membutakan mata

seperti api tanpa nyala
tak jadi apapun

tangan yang pucat
tanpa darah
mengering ditengah perjalanan
mati sebelum sama sekali berjalan

semua kata-kata dikepala
adalah omong kosong
semua puisi adalah kelicikan

keinginan hitam
keinginan biru
adalah tak tulus

ambisi-ambisi
mencekat dalam, nadi
kepicikan yang gelap
lincah dan sangat pandai

seberat inikah tubuh manusia
sebanyak itukah bercabang
jalan

samar semuanya
berputar, selalu kembali
pada satu titik
tak pernah menjadi tinggi
selalu kembali nol

bermain-main dengan gelang besi
pada lehermu, betapa bahayanya
kenikmatan terasa ketika
kulit kita mulai terkupas
darah sedikit demi sedikit mengalir
kita meringis dan tertawa
dan besok
kita menangis tanpa air mata

merasa menyesal
tapi tahu itu tak guna

semua telat sudah
satu episode hidup
telah bertemu kiamatnya

II

tanah dan rumputan kering menyerap
penyesalan dosa Daud
tapi sekarang
makhluk apa yang mendengarkan
penyesalan kita

tak ada yang tulus mendengar
semua sibuk dengan dirinya
tiba-tiba kita tersadar
kita sendirian!

seperti biasa
dengan hina kita menengok langit
coba menjenguk Tuhan
dan bertanya apa Dia ada;
untuk kita

Tuhan selalu membalas senyum
menurunkan sinar dari langit

setelah hati bebas
kita pergi keluar pintu
dan tertawa terbahak tanpa henti
sampai rahang kita membusuk
dan kemalangan menanti sembari
membaca koran di perempatan jalan

III

setiap saat bersenandung lagu
mencari pembenaran melupakan kebenaran
menerka-nerka alasan menepis kenyataan
menghibur hati yang bingung
dan kembali ngawur berjalan kesana kemari

berbusa-busa bicara cinta
merasa-rasa hati
meyakinkan bahwa itu cinta
lantas tertawa dan berkata;
aku jatuh cinta

berlari menari
merasakan hawa cinta
mabuk karenanya
dan lupa tugas manusianya

terus memberi makan cinta
dan dirinya hangus
dalam kesia-siaan mimpi

kepala penuh pikiran berkarat
tidur-tiduran dan menjadi tumpul
pipi penuh lemak
dan kembali dihantui tanggung jawab

memilih-milih
apa yang terenak
bukan yang terbaik
semua dunia berpusat pada dirinya
hitam putih
ya dan tidak
berpusat pada ruang sempit
diotaknya

IV

beratus kali meyakinkan dirinya
mampu
dan beribu kali gagal untuk bangkit

kesulitan oleh kerikil
jadi seperti tertimpa langit
wajah suram lebih dari mendung
tensi darah yang lebih panas dari kemarau

pemuda
yang merasa tanpa harapan
putus semuanya
dunia kiamat begitu saja
tak ada kepercayaan
bayangan dianggap kenyataan

kepintaran berubah menjadi
kesalahan terbesarnya di dunia
fikiran merubah dirinya
sekering biji kurma

ia menjadi binatang
buta
kemudian semuanya suram

dan sebagai pengumuman
hari ini;
dia mati.

1:01 AM 10/24/02