Ballada Gelap

sudah
tak ada cinta
tak ada kata-kata

seperti kabut
menguap
tak menyentuh apa-apa
hanya telinga
membutakan mata

seperti api tanpa nyala
tak jadi apapun

tangan yang pucat
tanpa darah
mengering ditengah perjalanan
mati sebelum sama sekali berjalan

semua kata-kata dikepala
adalah omong kosong
semua puisi adalah kelicikan

keinginan hitam
keinginan biru
adalah tak tulus

ambisi-ambisi
mencekat dalam, nadi
kepicikan yang gelap
lincah dan sangat pandai

seberat inikah tubuh manusia
sebanyak itukah bercabang
jalan

samar semuanya
berputar, selalu kembali
pada satu titik
tak pernah menjadi tinggi
selalu kembali nol

bermain-main dengan gelang besi
pada lehermu, betapa bahayanya
kenikmatan terasa ketika
kulit kita mulai terkupas
darah sedikit demi sedikit mengalir
kita meringis dan tertawa
dan besok
kita menangis tanpa air mata

merasa menyesal
tapi tahu itu tak guna

semua telat sudah
satu episode hidup
telah bertemu kiamatnya

II

tanah dan rumputan kering menyerap
penyesalan dosa Daud
tapi sekarang
makhluk apa yang mendengarkan
penyesalan kita

tak ada yang tulus mendengar
semua sibuk dengan dirinya
tiba-tiba kita tersadar
kita sendirian!

seperti biasa
dengan hina kita menengok langit
coba menjenguk Tuhan
dan bertanya apa Dia ada;
untuk kita

Tuhan selalu membalas senyum
menurunkan sinar dari langit

setelah hati bebas
kita pergi keluar pintu
dan tertawa terbahak tanpa henti
sampai rahang kita membusuk
dan kemalangan menanti sembari
membaca koran di perempatan jalan

III

setiap saat bersenandung lagu
mencari pembenaran melupakan kebenaran
menerka-nerka alasan menepis kenyataan
menghibur hati yang bingung
dan kembali ngawur berjalan kesana kemari

berbusa-busa bicara cinta
merasa-rasa hati
meyakinkan bahwa itu cinta
lantas tertawa dan berkata;
aku jatuh cinta

berlari menari
merasakan hawa cinta
mabuk karenanya
dan lupa tugas manusianya

terus memberi makan cinta
dan dirinya hangus
dalam kesia-siaan mimpi

kepala penuh pikiran berkarat
tidur-tiduran dan menjadi tumpul
pipi penuh lemak
dan kembali dihantui tanggung jawab

memilih-milih
apa yang terenak
bukan yang terbaik
semua dunia berpusat pada dirinya
hitam putih
ya dan tidak
berpusat pada ruang sempit
diotaknya

IV

beratus kali meyakinkan dirinya
mampu
dan beribu kali gagal untuk bangkit

kesulitan oleh kerikil
jadi seperti tertimpa langit
wajah suram lebih dari mendung
tensi darah yang lebih panas dari kemarau

pemuda
yang merasa tanpa harapan
putus semuanya
dunia kiamat begitu saja
tak ada kepercayaan
bayangan dianggap kenyataan

kepintaran berubah menjadi
kesalahan terbesarnya di dunia
fikiran merubah dirinya
sekering biji kurma

ia menjadi binatang
buta
kemudian semuanya suram

dan sebagai pengumuman
hari ini;
dia mati.

1:01 AM 10/24/02

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + 3 =