Author Archives: Nyenius

Di Tengah Pelayaran

Pelayaran tengah berjalan, pintu baru yang dulu kubuka, mulai tertinggal jauh di belakang. Kata-kata ‘tak ada lagi jalan kembali’ sudah tak lagi diucapkan tapi berbicara pada langkah dan harap yang berubah. Awal pelayaran itu berat, ketika ombak-ombak baru menghadang, kabut yang memupuskan pandang, kegelapan malam yang menelan keberanian bersatu menggetarkan langkah. Dan sekarang, ketika pelayaran mulai lebih ‘disadari’, ketika pagi yang disongsong (walau disambut badai dan ombak menggila) mulai menjadi biasa, hembusan angin panas tak menghadang senyum berkibar, jiwa menjadi lalai. Ya itulah, ketika pelaut mulai terbiasa dengan pelayarannya ‘rintangan yang manis’ tengah menjeratnya. Ia bisa membelokkan kemudi perahu, juga mampu melupakan pelaut untuk menengok dan mematuhi arah kompas. Keadaan yang membius, kondisi semi-mapan adalah pembunuh sejati para petualang.

Aku takut. Kemudi yang oleng luput dari penglihatan. Tiang kapal yang retak tak juga jadi kutengok.

Aku takut. Tak yakin pada koordinat sendiri.

Stuck in Stupidity

Ketika kereta-kereta telah berangkat pergi, aku masih merutuk disini. Menimbang-nimbang, membayangkan jauh, terjebak dalam hayal sendiri, dikabuti kebodohan yang terus menertawai. Aku lebih takut menjadi tumpul ketimbang tua. Tapi gambaran-gambaran yang berlintasan terus mengatakan ketuaan menyeret pada ketumpulan.

Sebatang Tembakau dan Kopi

Dalam secangkir kopi
yang meyisakan
satu-dua asap
Berenang jiwaku, berseloroh

Semua kebusukan
memang harus ada
semua tikus-tikus
memang harus hidup

Dalam sebatang rokok asing
senandung bergema
rra ta tam tam
rra ta tam tam
rra ta ta tam

kemudian tertawa geli
melihat akuarium
berisi ketololan-ketololan kita

Tragisnya drama
hasrat yang mandul
Impian-impian muda
Renungan-renungan cengeng

perlahan hadir
dalam secangkir kopi
yang tercelup tembakau asing

Ke Langit Saja

Aku yang selalu greget dan taksabaran, akhirnya memaksakan diri kembali lagi kesana. Padang rumput luas, tempat ilalang yang malu untuk tumbuh lebih tinggi dari mata kaki hidup, bunga-bunga liar bertebaran begitu saja, cukup satu pohon yang mengisi padang seluas itu, pohon yang kekar dan rindang. Satu hal lagi yang mutlak ada, angin sepoi-sepoi. Langit biru tentu saja makin luas bila dipandang dari sini, serasa kita cuma semut yang nempel di dinding biru yang luas.

Aku jatuh kangen pada mereka, savana ini. Aku tiduran, mencoba relaks, tapi tetap saja, isi pikiran masih terbentur hasrat-hasrat, gejolak-gejolak yang berdebur tak menentu, semua pikiran yang hanya tentang diriku. Keindahan yang memanjakan jadi hilang harganya. Bagaimana bisa angin menjadi mahal, bila isi kepala masih terbentur-bentur di dalam juga. Tak lepas, tidak bebas, tidak ikut menghambur dengan angin kesana kemari, atau bergoyangan dengan bunga dan rumput liar. Langit yang luas itupun jadi sekedar wallpaper yang menjemukan, cuma memberi terik dan kapas-kapas putih yang berlaluan tanpa henti. Alam jadi sedih, mereka merasa konyol dan dianggap murahan. Tapi mereka baik. Tersinggung, tapi tak lantas langit ambruk menimpaku, atau bumi mendadak gempa dan menelanku penuh murka. Semuanya tetap tersenyum dan tertawa, kejengkelan padaku rupanya cukup disampaikan lewat semut hitam yang mengigit telingaku tiba-tiba.

Ah, aku melonjak kaget, mengibas-ngibaskan telingaku, melepaskan diri dari terkaman semut kecil yang terasa besar menyengat. Waktu duduk, mataku dihadang gelap sesaat, lalu seperti tivi yang dimatikan lantas dihidupkan kembali, aku sadar keberadaanku. Angin menerpa wajah, rambut panjangku berkibaran dengan jaya. Langit biru bercumbu dengan hamparan rumput di ujung pemandangan mata. Jelas hijaunya, jelas birunya. Rumput pun melambai ditiup angin, awan bergantian hadir, seolah kubah biru besar yang selalu dibersihkan. Tenang. Hanya suara angin.

Mataku tak berkedip, kesadaran ini menyegarkan, seperti muka lusuh yang dibasuh air tiba-tiba. “Bukan hanya aku yang ada disini…”. Aku bangkit berjalan-jalan keliling, tak habis pandangi langit, bumi, rumput, bunga, pohon yang hanya satu itu. Kulahap semuanya tanpa puas, tanpa gengsi, sebagai pengakuan akan keberadaan mereka, sebagai pengakuan akan nihilnya diriku diantara mereka.

“Ada yang lain selain diriku disini….. selain kepalaku dan isinya….. selain kebimbangan dan gelisahku…… ada yang lain, yang terus bekerja, sementara aku tertidur atau jaga…..”

Jumlah Anak dan Konflik

Saya pikir, angka 10 sampai 11 anak yang dipengenin kalo nikah nanti adalah angka yang tidak efisien untuk masa-masa sekarang ini. Mungkin lebih tepat atau proporsional kalau target itu diturunkan menjadi 5-6 anak saja. Sukur-sukur bisa selang-seling laki-perempuan-laki-perempuan dst…. Sebab, 10 itu terlalu besar resiko konflik yang timbul, baik ketika mereka masih dalam penanggungan orang tua, maupun setelah mereka hidup berkeluarga masing-masing. Ya memang sih, seberapa pun jumlahnya, resiko konflik tetap ada, karena konflik adalah faktor alamiah yang tak mungkin dihilangkan, dia hanya mungkin untuk diminimalisir, atau dimanipulasi menjadi sebuah sinergi. Dan seperti mungkin sering kita lihat, di setiap keluarga, biasanya selalu ada ‘biang-kerok’nya, yang tindak-tanduknya sering mengundang masalah, dari asumsi di atas, saya seolah-olah mengatakan konflik atau biang-kerok itu timbul karena banyaknya jumlah anak dalam suatu keluarga (sehingga mungkin ada yang tersisih dan perilakunya menjadi ‘menyimpang’ dari saudaranya yang lain, atau juga ada anak yang merasa dia lebih istimewa dari yang lain), tapi sialnya, asumsi di atas adalah asumsi yang tidak sepenuhnya benar, saya juga menemukan kasus biang-kerok yang timbul pada keluarga yang anaknya berjumlah sekitar lima-enam.

Walau sekarang ini belum begitu perlu bagi saya untuk memikirkan hal-hal di atas, tapi melihat fenomena ‘biang-kerok keluarga’ terjadi di depan mata, mau gak mau jadi kepikiran juga. Ya jauhnya soal calon anak-anak saya nanti (insaalah, kalo dikasih, amiin :P), deketnya adalah saya dan adik-kakak saya. Saya jadi tegang sendiri, akankah hal itu terjadi di antara kami, atau malah justru saya jadi biang-kerok yang ngebebanin keluarga???? ammpuuunn jangan sampe dah… Yah sekedar ketakutan aja, dan saya bersukur atas ketakutan ini, semoga jadi semakin awas (waspada).

Umur makin nambah, dosa makin kerasa, tanggung jawab makin jelas, harapan orang tua makin bertambah juga, keinginan mandiri makin besar… hmmmm gelisah juga nyadarin kondisi ini. Tapi itulah hidup, lepas dari satu masalah ke masalah lainnya, jadi lari dari salah satu masalah-masalah yang ada sama saja bunuh diri.

Ok ok balik ke poin pertama, 5 anak…. hmmmm.. ya 5-6 anak…. dan saya akan lihat bagaimana DNA saya akan dipecah menjadi 5-6 karakter baru ๐Ÿ˜€

Sujud Rindu

Tabir malam menghampiri
menganyam tali rinduku pada tahmid
kidung kudus yan berserak terberai
kumerajuk dalam sujud rinduku
menyitirkan sajak, untukku
tentang takbir yng terasing
terjajah dalam terali ini
terali dalam temali nafsu kami

Sujud rinduku, padanya