Ke Langit Saja

Aku yang selalu greget dan taksabaran, akhirnya memaksakan diri kembali lagi kesana. Padang rumput luas, tempat ilalang yang malu untuk tumbuh lebih tinggi dari mata kaki hidup, bunga-bunga liar bertebaran begitu saja, cukup satu pohon yang mengisi padang seluas itu, pohon yang kekar dan rindang. Satu hal lagi yang mutlak ada, angin sepoi-sepoi. Langit biru tentu saja makin luas bila dipandang dari sini, serasa kita cuma semut yang nempel di dinding biru yang luas.

Aku jatuh kangen pada mereka, savana ini. Aku tiduran, mencoba relaks, tapi tetap saja, isi pikiran masih terbentur hasrat-hasrat, gejolak-gejolak yang berdebur tak menentu, semua pikiran yang hanya tentang diriku. Keindahan yang memanjakan jadi hilang harganya. Bagaimana bisa angin menjadi mahal, bila isi kepala masih terbentur-bentur di dalam juga. Tak lepas, tidak bebas, tidak ikut menghambur dengan angin kesana kemari, atau bergoyangan dengan bunga dan rumput liar. Langit yang luas itupun jadi sekedar wallpaper yang menjemukan, cuma memberi terik dan kapas-kapas putih yang berlaluan tanpa henti. Alam jadi sedih, mereka merasa konyol dan dianggap murahan. Tapi mereka baik. Tersinggung, tapi tak lantas langit ambruk menimpaku, atau bumi mendadak gempa dan menelanku penuh murka. Semuanya tetap tersenyum dan tertawa, kejengkelan padaku rupanya cukup disampaikan lewat semut hitam yang mengigit telingaku tiba-tiba.

Ah, aku melonjak kaget, mengibas-ngibaskan telingaku, melepaskan diri dari terkaman semut kecil yang terasa besar menyengat. Waktu duduk, mataku dihadang gelap sesaat, lalu seperti tivi yang dimatikan lantas dihidupkan kembali, aku sadar keberadaanku. Angin menerpa wajah, rambut panjangku berkibaran dengan jaya. Langit biru bercumbu dengan hamparan rumput di ujung pemandangan mata. Jelas hijaunya, jelas birunya. Rumput pun melambai ditiup angin, awan bergantian hadir, seolah kubah biru besar yang selalu dibersihkan. Tenang. Hanya suara angin.

Mataku tak berkedip, kesadaran ini menyegarkan, seperti muka lusuh yang dibasuh air tiba-tiba. “Bukan hanya aku yang ada disini…”. Aku bangkit berjalan-jalan keliling, tak habis pandangi langit, bumi, rumput, bunga, pohon yang hanya satu itu. Kulahap semuanya tanpa puas, tanpa gengsi, sebagai pengakuan akan keberadaan mereka, sebagai pengakuan akan nihilnya diriku diantara mereka.

“Ada yang lain selain diriku disini….. selain kepalaku dan isinya….. selain kebimbangan dan gelisahku…… ada yang lain, yang terus bekerja, sementara aku tertidur atau jaga…..”

2 thoughts on “Ke Langit Saja”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

96 − 93 =