Di Tengah Pelayaran

Pelayaran tengah berjalan, pintu baru yang dulu kubuka, mulai tertinggal jauh di belakang. Kata-kata ‘tak ada lagi jalan kembali’ sudah tak lagi diucapkan tapi berbicara pada langkah dan harap yang berubah. Awal pelayaran itu berat, ketika ombak-ombak baru menghadang, kabut yang memupuskan pandang, kegelapan malam yang menelan keberanian bersatu menggetarkan langkah. Dan sekarang, ketika pelayaran mulai lebih ‘disadari’, ketika pagi yang disongsong (walau disambut badai dan ombak menggila) mulai menjadi biasa, hembusan angin panas tak menghadang senyum berkibar, jiwa menjadi lalai. Ya itulah, ketika pelaut mulai terbiasa dengan pelayarannya ‘rintangan yang manis’ tengah menjeratnya. Ia bisa membelokkan kemudi perahu, juga mampu melupakan pelaut untuk menengok dan mematuhi arah kompas. Keadaan yang membius, kondisi semi-mapan adalah pembunuh sejati para petualang.

Aku takut. Kemudi yang oleng luput dari penglihatan. Tiang kapal yang retak tak juga jadi kutengok.

Aku takut. Tak yakin pada koordinat sendiri.

3 thoughts on “Di Tengah Pelayaran”

  1. aves

    “tak ada jalan kembali”, tapi pilihan untuk belok kapan saja dapat terjadi…

    keadaaan semimapan, seharusnya lebih bisa memerhatikan segala faktor yang ada. Di sanalah seharusnya kita lebih sadar, tentang setiap detil kapal yang kita gunakan untuk berlayar.Disini, lupakan sejenak mimpi, coba berfikir dengan jernih, berbelok sejenak memperbaiki kapal yang retak?, atau berjuang meraih mimpi dengan berbagai keadaan yang ada?

    Tak ada kondisi kembali… namun pilihan untuk sejenak berlabuh selalu terbuka…
    Jika takut, coba berlabuhlah sejenak… himpun kekuatan, persediaan dan batin. Dengan itu, kita akan kuat dalam berlayar…

    Reply ↓
  2. Toba

    “Jika takut, coba berlabuhlah sejenak… himpun kekuatan, persediaan dan batin. Dengan itu, kita akan kuat dalam berlayar… ”

    Yups, only in theory…

    Reply ↓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 4 = 2