Author Archives: Nyenius

Mau tidak mau

Masalahnya adalah bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak. Itu mendesak, karena waktu terus berjalan, setiap detik terhitung. Kemampuan adalah sesuatu yang diraih, bukan dewa yang datang dengan sendirinya. Jika keadaan ideal terlalu jauh dari kita, dekatkan, dengan jalan menurunkan kadar ideal itu untuk sementara kepada hal yang paling mungkin saat ini.

Bila bicara multi-tasking (mengerjakan beberapa hal bersamaan atau ‘dalam satu kurun waktu tertentu’), kita harus sadar, segala sesuatu didunia ini butuh ruang dan waktu demi eksistensi materi-nya. Ruang dan waktu dalam bentuk fisik juga dalam alam pikiran. Bila prasyarat tersebut nol, tidak terpenuhi, maka materi tidak dapat mengejawantah dalam alam riil. Ibarat planet tidak dapat dihuni mahluk hidup jika tak ada air, unsur yang menopang kehidupan. Apapun itu, aksi nyata ataupun ide, dia butuh ruang dan waktu. Jelas ruang dan waktu yang kita punya untuk segala sesuatu itu terbatas, limit. Dua hal tersebut adalah faktor ‘pemaksa’ eksternal, yang kita bisa hanya menyiasatinya.

Kecil Hati

Saat ini aku bimbang,
bimbang tak perlu yang kucari sendiri
Mulai takut pada usiaku yang bertambah
Mulai ragu pada diriku yang belum bisa apa-apa
Belum pernah kurasakan kesusahan mencari rejeki
Belum pernah kurasakan sakitnya melahirkan jiwa
Belum pernah pula kurasakan sulitnya membina keluarga

Sudah dewasakah aku?
Masih terlalu mudakah aku?
Apakah aku sudah siap membela hak milikku?
Apakah aku sudah berani memiliki sesuatu?

Bahkan jalanku belum lurus
Bahkan aku tidak bisa teriak kesal
Bahkan aku tidak dapat memilih musuh
Bahkan aku belum bisa mengasihi dengan sungguh-sungguh

Aku malu…
Pada usia dan jalan yang selama ini kulalui
Pada keluarga yang menyokong punggungku
Pada teman-teman yang selalu mendukungku
Karena ternyata,
Aku belum menjadi siapa-siapa

🙁

Choosing color; pelajaran hari ini

Udah lama gue meraba-raba tentang bagaimana sebenernya cara untuk memadukan warna, udah dua tahun mempelajari interior, tapi tetep aja sucks dalam hal mewarnai dan juga memilih warna. masalah teknik mewarnai (dengan dan atas berbagai media) mungkiin sebenernya masih bisa diatasi dengan pengetahuan akan perpaduan warna-warna yang baik. Selama ini gue hanya bisa kagum dan (masih juga) keheranan ketika melihat orang (misalnya) memadukan warna ungu dan hijau tapi tetap kelihatan klop, and end up in twilight zone.

marker
marker

Pagi ini, gue mulai membiasakan diri gue (kembali) dengan alat-alat pewarna, khususnya marker. Mencoba mengenali karakter warna yang dihasilkan sampai menyapukan marker dengan baik. Sasaran medianya adalah sketsa-sketsa yang udah gue bikin di buku skets A3 gue (jenis kertas sketsa tentu). Setelah mulai terbiasa, gue pun mulai coba-coba membuka buku ‘Teknik Pembuatan Gambar Berwarna‘ yang disusun oleh Michael E. Doyle. Dari situ gue mulai mencari beberapa sampel, baca-baca sedikit, dan kembali lagi ke buku sketsa. Gue warnain sebuah sketsa meja rias yang gue bikin beberapa waktu lalu. Didasari dengan marker berwarna Naples Yellow, target warna yang tergambar di benak gue adalah warna perpaduan antara kuning dan cokelat. Dua kali sapuan untuk bagian-bagian yang terkena cahaya, dan 4-5 kali lebih sapuan untuk daerah shade. Setelah selesai, gue perhatiin gambar itu dari jauh dan dekat, yup, the color works, gambarnya jadi keliatan lebih hidup dari sebelumnya. Gue lanjutin dengan meniban semua warna dasar itu dengan pensil warna murahan merk Lyra. Gue pilih warna oranye, gue coba sebentar, dan gue beralih ke warna cokelat standar. gue tiban semuanya, dengan penekanan yang berbeda pada tiap bagiannya, ringan pada bagian yang terkena cahaya, dan agak keras pada bagian shade. Hasilnya, BURUK. Gue nyesel nambahin warna itu. Terngiang kembali komentar-komentar dosen atas gambar-gambar berwarna gue. Mereka cuma berkomentar ringan, “kamu kurang berani ngewarnainnya”.

c-wheels
Color Wheel

Shit, they’re right, seringkali gue ‘ngerusak’ gambar yang udah gue bikin begitu tangan ini menyentuh pewarna dan menyapukannya pada gambar tersebut. Sedikit desperate terbit dalem ati. Ow, it’s 3 am, harus tidur, tapi iseng buka buku Michael E. Doyle lagi, dan disitu ada sedikit kalimat diantara tutorialnya masalah perpaduan warna. Di gambarnya terlihat warna Mauve (ungu muda) hasil marker, ditimpa dengan Celadon Green. Kalimat selanjutnya berbunyi; “Warna yang hampir-berkomplemen ini menghasilkan kelabu yang hidup.” Ber-KOMPLEMEN, ah bodoh sekali gue ini, yup, tentu saja warna nggak bisa sembarangan di gabungin begitu aja, buat apa ada teori warna, Color Scheme, broer! Geblek sekali gue. Selama ini gue kurang menyadari dan mengerti fungsi dari color-scheme tersebut, tapi hari ini gue dapet sedikit gambaran tentang fungsi mereka. Mungkin.

Tunggu Aku

Tempat yang bukan barat dan timur
dihatimukah?

Kalau begitu, tunggu aku
pelayaran ini terasa lambat
tapi jelas, pelabuhan berikutnya
kamu

aku harap ini pelayaran terakhir
hingga jiwa ini dapat
bersemayam pada pantainya

lambai ombak yang kau kirim
datang bersama senyummu
menguatkan jiwa sampai kesana

ragu masih menderak juga
tanya-tanya timbul bagai
percik gelepar ikan

senyummu, pelukmu, belai hatimu
rumah yang aku nanti
atap yang aku cari
kita harus isi-mengisi
jegal juga keraguan yang buta

– tak tahu hatimu seperti apa –

entah kapan tiba
peta sudah kubalik-balik
menetapkan kebenaran titik koordinat
menilik angin, apakah mengantarku kesana?

Sinar yang menggelorakan itu
matamu kah?

itulah api titik pusat
navigasiku. Hampir sampai?
Duhai kelasi, topang kaptenmu ini
sambutan yang tak tentu
melahirkan mabuk laut yang jarang

rapihkan semua yang di kapal
biar bagaimana
dia harus tahu

=================
Toba.
23:56 16/10/2004

Jogja…

Deepest Sympathy buat orang-orang Yogyakarta
Semoga semua urusan mereka dimudahkan
Semoga bumi yang menggeliat memberikan keberkahan yang lebih di masa datang
Semoga yang kehilangan sanak saudara dikuatkan dan ditabahkan
Semoga mereka yang tiada, mendapat rahmat dan ampunan dari Tuhan
Semoga yang kehilangan rumah diganti dengan yang lebih baik,
Semoga semua urusan mereka dimudahkan

Ternyata Memang Kamu

ternyata
padamulah hatiku bercokol nyaman
pada belaimu kepalaku tunduk syahdu

pada pengertianmu
pada marahmu

aku sadar
cinta telah menjadi bahasa keseharian kita
bukan lagi bunga, bukan lagi bahasa verbal

makin hari, hati makin saling mengunci
semakin terlibat, semakin ketergantungan

ternyata
hatimulah yang bersenyawa dengan hatiku
saling mengisi kondisi-kondisi
dan variabel-variabel baru

kaulah orang yang ingin kulindungi
dan berbagi keriput wajah suatu hari nanti

14:32 07/05/2006

Buah dada itu….

Aku harus sadar sesadar-sadarnya, harus terbebas dari ruang dan waktu yang sekarang menjebak. Karena luasnya langit baru terdeteksi begitu jiwa berada diatas ‘peta-peta’. Ketakutan-ketakutan dramatis dapat segera dijadikan bahan tertawaan ringan – jika saja dapat terbebas dari ruang dan waktu -.

Ruang, petak ini, naungan ini, kamar ini, desa ini, taman ini, kota ini, pulau ini, negara ini, dunia ini, planet ini, harus bisa diatasi dengan jiwa yang lebih luas dari mereka. Muatan nuansa, memori, emosi, intelegensia, kekuatan yang mereka kandung, harus bisa diatasi. Manusia dipaksa terus berjalan oleh waktu. Walau mereka diam, hakikatnya tetap berjalan. Sehingga pikiran-pikiran, perilaku, karakter massa atau personal ter-pattern ke dalam warna dan kotak-kotak. Ya, manusia cenderung terkondisikan oleh ruang dan waktu yang membungkus mereka, dan -sedikit- manusia yang ‘bisa keluar’ dari sana dianggap wali atau orang gila. Gila itu sehat, karena disana ada denyut kehidupan yang sebenarnya, bukan kehidupan yang seharusnya. Gila adalah upaya radikal untuk bebas dari ruang dan waktu.

Dengan kekuatan, aku harus berkelana, selemah-lemahnya, setidaknya jiwaku. Harus meringkas makrokosmos ke dalam jagat inti dalam jiwa, lantas me-replay mereka sesuai kehendak. Untuk memperjelas ‘jalan’ yang sudah menjadi ‘seharusnya’ ini, aku harus terbebas dari ruang dan waktu, memandang dari segala sudut, menemukan inti dari ‘jalan’. Dalam apapun, dalam ruang dan waktu yang bagaimana pun, aku harus terbebas dari mereka, supaya dapat melihat inti-nya. Karena ruang dan waktu adalah kulit yang membungkus hakikat dari peristiwa-peristiwa hidup, nukleus yang berpendar dalam rahasia.

Aku harus terbebas dari ruang dan waktu, agar tangan ini mampu mewarnai dengan baik.

Saya tak suka tulisan ini

Seorang bocah yang rapuh, mencoba mengatakan pada dunia bahwa dirinya ada. Setitik sinyal dolontarkannya ke langit dan selalu hilang ditelan malam. Seorang bocah yang selalu jatuh (seperti bocah-bocah lainnya), dan bangkit dengan beragam tangisan, mencoba untuk tetap berjalan. Terkadang ia takut kepada esok, tak jarang ia tantang mentari pagi, dan ada kalanya tak dipikirkan sama sekali.

Seorang bocah lusuh yang berusaha tampil serapih mungkin, tetap saja berhiaskan noda-noda cipratan dari tempat-tempat ia bermain. Selama ini telah menjadi bocah bengal yang tak memperhatikan waktu, ingin bermain selama mungkin dengan sebanyak mungkin peralatan yang bisa/akan diraihnya, dan tiba-tiba waktu menampakkan dirinya. Teman-teman yang menghilang/dihilangkan, lapangan bermain yang digusur, dan tali-tali yang tak terlihat bernama tanggung jawab melilitnya makin erat, sehingga kakinya tak dapat berlari sejauh yang pernah ia bisa. Ia merasa hanya dapat berjalan lurus-lurus, sebab waktu yang terus berjalan mengantarkan dunia disekelilingnya membangun jalan layang tinggi melalui dirinya, melaju beberapa tahun melewati dirinya. Dia menyadari, dirinya masih dikubangan lumpur yang lama, dengan jenis mainan yang sama. Dengan bodoh, ia masih penasaran dengan lumpur-lumpur yang sulit digenggam, kental, liat dan menggemaskan.

Begitu waktu menampak dengan jelas, dengan tangan belepotan ia berdiri terperangah melihat bagaimana semuanya telah berubah. Ia berlari mengejar sekuat yang dibisa, tapi waktu tak pernah berhenti, dan ia telah (dan terus) berlari mendahuluinya. Sia-sia, tak mungkin dikejar dalam cara bodoh begitu. Terpekur, melihat ke depan, ke belakang, dan pada dirinya sendiri, lantas pada lumpur ditangannya. Digenggam sisa lumpur itu dan berkata; Lumpur ini harus bisa membayar atas apa yang telah kuhabiskan atasnya, sebatas lumpur biasa atau modal.

Perasaan bodoh, bocah yang paling bodoh, menekan kepalanya keras-keras ke tanah, menyakitkan hatinya. Hanya Tuhan semata yang boleh sombong di jagat raya – atau apapun namanya-. Ia lanjut berjalan, tidak berlari, ia harus menata semuanya dan terus melaju. Tak ada yang bisa disalahkan, dan dalam urusan menjalani hidup memang tidak ada yang dapat disalahkan, karena sepenuhnya pilihan pribadi, dan dia tahu dengan sadar bahwa melakukan sebuah kebodohan sama dengan menciptakan sebuah perangkap yang kelak menjepit kakinya di satu ketika, dan dia dipaksa untuk tahu, bahwa bodoh itu mahal, lebih mahal ketimbang menjadi cerdas.

Dia pernah berambisi menjadi sesuatu yang berarti di jagat raya, ah dunia pun masih terlalu besar tampaknya, sedang jagat dihatinya pun masih belum terkendali, seorang bocah yang benar-benar rapuh, hampir mendekati keledai.

Di Jakarta, kota ambisi dan persaingan.

wyswyg

Ohohoho, saat ini editor teks di user panel udah pake WYSIWYG (What You See Is What You Get). Ini gue lakukan setelah sekian waktu mencari skrip teks editor WYSIWYG yang ringan dan simple, gue temuin  OpenWysiwyg memenuhi kriteria tersebut. Apa itu WysiwyG? nggg, singkatnya ketika lo bikin posting, suasananya kayak ngetik di word, gitu aja, silahkan coba di sini.

(news ends here)