Author Archives: Nyenius

Ke”AKU”an.

Lepaskan segala kata itu
jangan ikat diri dengan kalimat itu
biarkan jiwa bebas menari dalam pusaran
yang berpusar pada sumber segala kata

Kata Akulah yang mengikat dirimu
lepaskan seluruh kalimat dari “aku” “kamu”
dialah dualitas itu
bukan ke-Tunggal-an seperti yang dikira

Masih bergunakah kata aku
bagi lilin yang menghadapi pelita semesta ini
bagi segala hewan hutan dihadapan sang Singa

lepaslah keakuanmu dan terimalah pancarn cinta dari dari-Nya
seperti Musa di Thursina
Ibrahim dan Apinya
Mushtafa dan perangainya.

Fear

“Buka mata dan tataplah ketakutanmu. Dengan mata tertutup, di balik kelopak matamu wajah ketakutan itu menjadi semakin besar. Buka matamu dan lihat wujud ketakutan yang sebenarnya”

Komik 20th Century Boys vol. 4

Evaluasi sebuah shooting amatir, tertanggal 30 Maret 2003…

Ini adalah file evaluasi shooting sebuah film indie berjudul : ‘Sebuah Cerpen’ , berlokasi di Bandung, di sebuah kafe bernama Kafe 33, yang sampai sekarang film indie tersebut masih berbentuk kaset-kaset vhs, alias belum diedit. Sampai sekarang masih utang 2 scene lagi, tapi ga bisa kebayar, karena aktornya dan aktrisnya  sudah jauh berubah perawakannya.

evaluasi syuting hari kedua di kafe 33

pertama syuting hari ini dilaksanakan dalam keadaan sang sutradara capek berat setelah seminggu sebelumnya (hampir berturut-turut) terlibat dalam beragam aktivitas yang semuannya menguras energi. kedua sang sutradara dalam keadaan tidak enak hati kepada pemilik tempat syuting dan juga kepada para pemainnya, sehingga timbullah kepanikan tersendiri dalam dirinya yang mengakibatkan ke-terburu-buruan, sehingga banyak hal yang terlewat atau tidak terlaksanakan dengan baik. storyboard dan shoot list juga skenario yang seharusnya menjadi pegangan utama, justeru sering terbengkalai. kepanikan dari sutradara ini fatal dan mempengaruhi jalannya pengambilan gambar. baik dari segi keteraturan pengambilan gambar maupun mood pemain dan crew.

pengorganisiran keuangan kacau. karena tidak adanya rapat-rapat pra-produksi yang intens. tidak lupa juga kondisi wacana (baik teknis maupun praktis) dari sutradara, crew dan pemain tentang perfileman yang masih dalam tahap belajar.

satu hal yang jangan pernah hilang dalam suasana shooting (baik setelah marah-marah sekalipun) yaitu senyum, ini vital alias penting. karena secara psikologis, senyum menetralkan suasana mood yang kacau dan manimbulan kelegaan dan ketenangan tersendiri dalam diri setiap unit shooting.

buat kedepannya, tenang, rileks, dan lakukan sesuatu dengan lebih terencana, tidak asal jadi. sebelum bergerak pikirkan dan lihat lagi perencanaan awal, sehingga segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana.

jangan menganggap enteng, dan jangan pernah membayangkan segala sesuatunya akan berjalan terlalu mudah atau terlalu sulit. bayangan berbeda (hampir) 100% dari kenyataan di lapangan.
good luck.

Penganjingan Manusia disini..

Bau hujan tercium dari jauh
bercampur asap tabunan
udara jadi pekat sephia

terbayangkan masa lalu
masa kecil di tanah ini
ketika definisi beban sebatas
bermain dan larangan-larangan ibu

di kota ini
orang terus berpacu seperti kuda rabies
liur iri dan kesombongan
menjadikan manusianya anjing-anjing
turunan dajjal

kemarin Arjuna dan Gatot Kaca turun
mengajarkan ke-kesatriaan
audience bertanya: “Berapa honor menjadi seorang ksatria?”
berapa persentase buat analis ksatria?
audience mulai mendebat audience lainnya.
Masing-masing memperjuangkan agar bagiannya lebih besar
mereka terus bicara, hingga wajahnya menjadi babi.

nilai-nilai jungkir balik
curiga telah menggantikan tugas oksigen

Gerimis turun
senang rasanya hati
cuma ini yang selalu tulus
walau cucurannya telah bercampur kimia

kami terus berpacu
hingga lupa keindahan
semuanya tercebur ke dalam agenda-agenda
sampai ke titik ibu harus membuat janji
untuk bisa bertemu mahluk yang keluar dari selangkangannya

Mengenaskan, seperti di medan perang
melihat teman sendiri mati jiwanya
menjadi bangsat

Bau hujan tercium dari jauh
hawa udara yang basah bercampur tanah

terkenang kembali masa lalu
ketika beban tanah kampung ini
hanyalah kebun-kebun dan beberapa gelintir rumah
bukan tusukan beton-beton rumah kontrakan
dan real estate

Jakarta, 18:06 23/06/2006

Terima kasih Tuhan…

  • Terima kasih Tuhan, atas 6 tahun yang kulalui dengan terus bermain selama SD (sampai aku lupa, apakah benar-benar pernah belajar suatu pelajaran disana).
  • Terima kasih Tuhan, atas revolusi pemikiran selama 3 tahun di ‘smp’, kegagalan mendapat cewek, dan berkenalan dengan teater.
  • Terima kasih Tuhan, atas 6 tahun petualangan di kota Bandung, bersama orang-orang yang menarik dan penuh semangat.
  • Terima kasih Tuhan, karena telah memulangkanku ke kampung halaman (Kau benar-benar perhatian padaku).

Di lantai 2 toko H. Konin lama, Ciputat

Sesaat menghempaskan diri pada seperangkat kursi sofa keluaran lama, dengan ruang luas dan kosong menghampar di muka, keheningan mengambang di udara. Seperti ada di bioskop yang sunyi, tanpa penonton lain, tanpa layar pemutar film; kenangan masa lampau, itulah pertunjukan yang segera tergelar.

Masih kulihat anak kecil yang berlarian diantara sofa-sofa yang dijual, menemani ayahnya atau ibunya atau kakeknya yang melayani pembeli. Terdengar kembali hiruk-pikuk pasar yang dulu, pasar tradisional, lambang perkembangan enkonomi rakyat kecil. Sejarah, sepucuk sejarah masih menggenang di ruangan ini. Dengan sebagian langit-langit yang bobol, lantai kayu yang lapuk. Aku duduk disini, di tengah keheningan sempurna. Merasa jauh dari suara-suara, distorsi-distorsi pandangan mata, kegelapan ruang, cahaya menyilaukan, juga jauh dari kelembaban atau hawa panas, keheningan sempurna. Rasanya seperti istirahat sebulan penuh. Aku hanya duduk, merokok, dan merokok.

untuk lelaki tangguhku

seperti baja kau keras, tak tergoyah
bagaikan batu kau diam membisu
tak bisa luluh….
apalagi kutaklukan

napasmu napas pejantan
warnamu merah membara
hatimu keras sekeras karang
senyumu….., sungguh teramat mahal

angkuh benar pribadimu…….
bertahta diatas kesombongan
kokoh tak bergeming

kutantang kau dibara rindu
aku bersumpah….akan kulebur kerasnya baja
diatas lahar cinta yang membara

hai lelaki tangguhku…
kau semakin mempesona


(dalam keterasingan, california juni 2006)