Seorang bocah yang rapuh, mencoba mengatakan pada dunia bahwa dirinya ada. Setitik sinyal dolontarkannya ke langit dan selalu hilang ditelan malam. Seorang bocah yang selalu jatuh (seperti bocah-bocah lainnya), dan bangkit dengan beragam tangisan, mencoba untuk tetap berjalan. Terkadang ia takut kepada esok, tak jarang ia tantang mentari pagi, dan ada kalanya tak dipikirkan sama sekali.
Seorang bocah lusuh yang berusaha tampil serapih mungkin, tetap saja berhiaskan noda-noda cipratan dari tempat-tempat ia bermain. Selama ini telah menjadi bocah bengal yang tak memperhatikan waktu, ingin bermain selama mungkin dengan sebanyak mungkin peralatan yang bisa/akan diraihnya, dan tiba-tiba waktu menampakkan dirinya. Teman-teman yang menghilang/dihilangkan, lapangan bermain yang digusur, dan tali-tali yang tak terlihat bernama tanggung jawab melilitnya makin erat, sehingga kakinya tak dapat berlari sejauh yang pernah ia bisa. Ia merasa hanya dapat berjalan lurus-lurus, sebab waktu yang terus berjalan mengantarkan dunia disekelilingnya membangun jalan layang tinggi melalui dirinya, melaju beberapa tahun melewati dirinya. Dia menyadari, dirinya masih dikubangan lumpur yang lama, dengan jenis mainan yang sama. Dengan bodoh, ia masih penasaran dengan lumpur-lumpur yang sulit digenggam, kental, liat dan menggemaskan.
Begitu waktu menampak dengan jelas, dengan tangan belepotan ia berdiri terperangah melihat bagaimana semuanya telah berubah. Ia berlari mengejar sekuat yang dibisa, tapi waktu tak pernah berhenti, dan ia telah (dan terus) berlari mendahuluinya. Sia-sia, tak mungkin dikejar dalam cara bodoh begitu. Terpekur, melihat ke depan, ke belakang, dan pada dirinya sendiri, lantas pada lumpur ditangannya. Digenggam sisa lumpur itu dan berkata; Lumpur ini harus bisa membayar atas apa yang telah kuhabiskan atasnya, sebatas lumpur biasa atau modal.
Perasaan bodoh, bocah yang paling bodoh, menekan kepalanya keras-keras ke tanah, menyakitkan hatinya. Hanya Tuhan semata yang boleh sombong di jagat raya – atau apapun namanya-. Ia lanjut berjalan, tidak berlari, ia harus menata semuanya dan terus melaju. Tak ada yang bisa disalahkan, dan dalam urusan menjalani hidup memang tidak ada yang dapat disalahkan, karena sepenuhnya pilihan pribadi, dan dia tahu dengan sadar bahwa melakukan sebuah kebodohan sama dengan menciptakan sebuah perangkap yang kelak menjepit kakinya di satu ketika, dan dia dipaksa untuk tahu, bahwa bodoh itu mahal, lebih mahal ketimbang menjadi cerdas.
Dia pernah berambisi menjadi sesuatu yang berarti di jagat raya, ah dunia pun masih terlalu besar tampaknya, sedang jagat dihatinya pun masih belum terkendali, seorang bocah yang benar-benar rapuh, hampir mendekati keledai.
Di Jakarta, kota ambisi dan persaingan.
cm pengen tau apa ini merupakan pic of ur life. bagus juga isinya tapi sbg saran bisa dibuat dengan sedikit diberi bahasa puitis biar lebih cakep!!!!
hmmm betul juga ya..