Author Archives: Nyenius

Wall Graffiti

Kemarin, gue ngecat (dengan pilox) maenan RC gue, yang mana lokasinya berada di bagian belakang rumah gue, yaitu teras dapur. Waktu ngecat hampir selesai, cewek gue nelpon. Maka sekalian nunggu kering tuh hasil pilox, gue telponan sama cewek gue. Terbawa suasana iseng-iseng, di ujung teras dapur itu ada sebidang tanah kecil yang sudah seperti ‘Markas Besar Bekicot’ di rumah gue. Binatang ini banyak terdapat di depan rumah gue, di sepetak tanah yang ditanami tumbuh-tumbuhan dan bunga. Tapi kita ga mo ngomongin yang di depan, tapi yang di teras dapur ini. Bener-bener kayak Mabesnya, disitu mereka bercengkerama, bercanda, makan kulit petai atau sisa buangan sayuran lainnya, dan juga tak lupa berkembang biak alias kawin (FYI, proses perkawinannya lumayan erotis bo!).

Singkat kata, sambil nunggu kering, dan sambil telponan ma cewek gue, gue merhatiin kawanan bekicot yang sedang merayap kemana-mana itu. Bahkan gue sempet ngasih makan mereka masing-masing sesobek kembang kol. Mereka pun makan dengan lahapnya. Makin gue perhatiin makin tertarik gue, gue foto beberapa dari mereka. Gue menemukan bahwa mereka tidak terpengaruh oleh cahaya maupun suara kamera bapuk SonEr 700 gue. Mereka asik aja terus asoy-geboy makan atau merayap-rayap. Dan semakin diperhatiin, bentuk, postur dan image mereka tanpa gue sadarin makin melekat di kepala gue. Gue segera ambil sketch book A3 di kamar dan sebuah pensil. Gue sudahi aktivitas observasi, beralih ke membuat corat-coret di buku sketsa. Emang bener-bener kecetak gambaran bekicot di kepala gue, sekali bikin jadi tuh gambar. Setelah jadi satu gambar, gue buat sketsa-sketsa bekicot yang lainnya, dan sampe akhirnya bosen gue bikin gambar-gambar gak jelas lainnya. Lalu begitu gue memandang tembok yang berdiri di atas sarang mereka itu (tembok perbatasan rumah gue dengan tetangga), tembok itu sebagian warna biru muda gak jelas dan sebagian lagi hitam gosong, karena sebelumnya tempat itu dijadiin tungku masak oleh nyokap. Oh iya, lanjut ya, begitu gue ngeliat warna hitam gosong yang tegas itu, gue mikir, kayaknya bagus kalo di tengah warna item itu ada gambar dengan warna-warna terang yang lembut dan bersih. Dan gue inget punya cat tembok sekaleng kecil yang belum kepake, dan juga bibit warnanya yang warna merah dan kuning, ya gue pikir cukuplah buat gambar yang gue bayangin.

Maka masih sambil telponan sama cewek gue, gue mulai menggambar sebuah bekicot yang lumayan besar di tengah tembok gosong itu. Setelah gue bikin outline-nya (garis pinggir, red.), gue gosok bagian dalam gambar itu dengan tissue sampai akhirnya nggak berwarna hitam ataupun biru gak jelas lagi, tapi putih. Setelah beres, langsung gue cat pake cat tembok putih sebagai dasarnya. Sebetulnya gue kurang menguasai teknik mewarnai, juga teknik yang menggunakan pewarna cair seperti ini. Tapi waktu ngewarnain dasarnya itu, sapuan kuasnya gue buat mengikuti bentuk objeknya. Kalo bulet ya gue nyapuinnya melingker dan seterusnya. Kenapa begitu? Tujuannya adalah supaya nanti hasil akhirnya punya kontur sendiri yang sesuai dengan bentuk gambarnya. Nah malem itu, proses pembuatannya cuma sampe sini.

Gue lanjutin pada siang lusa-nya, mulai gue warnain pake warna pink dan coklat. Bagian warna pink-nya gampang, kan tinggal merah sama putih, nah yang cokelat-nya ini yang repot soalnya gak ada warna item. Soalnya cokelat itu kan campurannya merah (banyak), kuning (sedikit), dan hitam. Bibit warna warna hitamnya ini yang ga ada. Akhirnya gue berimprovisasi dengan menggunakan warna item dari cat air. Sukurnya berhasil, jadilah warna cokelat. Hasilnya pun oke-oke aja. Tapi setelah gue perhatiin, setelah sekian lama dibiarin, campuran warna cokelat itu sebagian warna itemnya misah, ya emang bukan campurannya, tapi hasil yang di tembok ok, gak luntur. Gue selesain lah itu gambar dari jam delapan pagi sampe jam satu siang. Begini hasilnya :

Ketika Kotoran Itu Menghantam Wajahku

Tuhanku
nafsu telah menghalangiku
dari menyembahMu penuh seluruh

Tuhanku
nafsuku memburamkan hati
sehingga cahyaMu tak sampai-sampai

lelaki yang berdiri
diatas tumpukan keinginan
bayang-bayang khayal
yang mengantarnya pada jembatan rapuh

dimanakah aku?

dan ketika suaraMu sejuk
menegur jiwa yang bebal
dunia bayangan retak dan hancur
terlihatlah bangunan busuk yang dijalaninya

bahwa semuanya abu, menuju kesia-siaan
bahwa semua warna yang disangka menyala
ternyata hitam belaka

dan waktu, makhluk tanpa rasa itu
terus melaju
banyak jejak langkahku berwarna hitam
sesak

Dimanakah aku?

Bermandi peluh mengejar mimpi kosong
bekerja keras menggapai mimpi porno siang hari

Keinginan-kewajiban,
Kewajiban-keinginan.

Dimanakah aku?
mendadak jadi asing sendiri
segala tubuhku terlihat sebagai arang
jiwa yang pernah kupupuk hilang terbang
tergambar kebodohanku, dan kesia-siaan itu

Kebodohan,
selalu terlalu mahal harganya.

Di Dada Wanita yang Baru Kukenal Sehari

Itu ranjang untuk dua orang
aku gumuli dia, entah milik siapa.
melenguh, menjambak,
memercikkan energi hidup yang tak seharusnya

Semua bermula pada kerling sepintas
dan hati yang bertanya ingin mengenal
gelap telah menutupi mata dari dosa
aku sudah lupa cerita Yusuf yang Mulia
kami tak berkata-kata
hanya kasur sialan itu terus berderit

tapi tidak Tuhanku
kau tahu aku tak sebuta itu
aku berhenti pada saat yang seharusnya
kutiupkan nafas, meredakan deru pada perutku
dan kami bergelimpangan
bertanya-tanya dimana ini?

hati mengawang di langit-langit kamar
sisa nafas masih terasa panas pada seprai
kutelusuri pikiran yang tersisa
bertanya-tanya seperti apa selanjutnya

kami tersasar
meracau karena kesepian
mencari-cari pegangan
dan serampangan menyerahkan diri

Ah, jiwa yang hijau
serentak mereka bergetar
ingin pergi, lari dari kamar itu
tapi dalam kepalsuan, kami berpeluk
dan mengecup kening

“Selamat tidur..”, ucapnya lembut.
Dan dunia pun gelap
kepalaku tersuruk ke dadanya
yang montok

“Semoga aku tak mati malam ini..”

Aku berbisik keras dalam hati.

Wanita Pada Suatu Subuh

Di suatu subuh ramadhan
aku berdiri pada pintu
menimang antara pergi
atau menghampiri wanita yang
duduk menunggu di atas kasur

aku hanya tersenyum kecut,
“Selamat tinggal.”
Kata-kata terasa menggantung di bibir.
Dia pun tertawa,
“Aku telah mengalahkan orang
yang memukau publik”

Kata-katanya kacangan,
aku tak peduli, tapi tawanya.

Perempuan itu lurus-lurus tertawa menang
memandangi tembok, sembari memeluk lututnya
di atas kasur tanpa ranjang

Aku pergi menembus pintu
menuju lorong gelap
ke jalan menuju pasar

Kupandangi penjual bubur ayam
yang tengah menuang hidupnya ke dalam
mangkok-mangkok putih

“Tidak jalang, aku yang menang”

Maenan Baru : RC

Ah, mainan baru. Kemaren gue dan Aves beli mubil RC (remote control). Yah, sebenernya gue nitip sama dia, dan yah iya, dibayarin dulu sama dia… udeh, apa lagi? Emang dari minggu sebelumnya kita saling mengutarakan keinginan buat punya maenan itu. Lumayanlah pikir kita, abis capek coding atau ngerjain tugas kuliah (itu gue), abis ngadepin monitor ato kertas A2 terus-menerus, sebagai jeda nya kita maenin RC ini. Sesuatu yang bisa kasih suasana dan pemandangan baru buat otak. Daripada terus-terusan duduk, muka mengkerut, punggung pegel, mending ada hiburan yang ‘rada motorik’ sedikitlah. Nasib kami ini terhitung sama soal RC, sama-sama mupeng, sama-sama baru tahu pada pengen punya barang itu, dan sama-sama ditentang oleh kekasih masing-masing. Tanggapan pacar kami hampir senada; “gak penting, kayak anak kecil”. Dan juga sama, kami tetap membelinya

Tapi jangan lantas mikir kita beli yang juteng-jutengan (jutaan), yang kita beli itu RC kelas bawah, Aves beli yang dibawah 150 rebu, gue beli yang 90 rebu. Gue beli yang merk Auldey. Gue emang sengaja beli yang segituan, pertama tujuannya bukan buat serius (seperti hobiis RC), kedua gue pengen yang mungil jadi bisa dimaenin dimana aja, gak mesti di track nya ato jalanan, ketiga, jelas lebih murah. Ini pake batere, jadi bukan mesin, jadi gak pake ribet plus gak perlu perawatan yang mahal.

Kesan pertama dari cewek gue (dan sepertinya sampai saat ini) adalah; “kayak anak kecil.” Kalo dari nyokap, begitu ngeliat gue maen beginian di dalem rumah adalah: “Udah lama Ban?”, pertama gak ngeh gue, tapi setelah diulangin lagi “Udah lama ban?”, gue jawab aja, “Baru kok”, dijawab; “Sukurlah, kalo gitu masih bisa disembuhin” sambil mesam-mesem. Gak lama babeh gue pulang, rupanya dari depan rumah dia dah liat gue maenin ginian, pas masuk, dia ngomong sama adek gue; “Duh, neng liat tuh, bapak punya anak bayi lagi” Gue cuma ketawa-ketawa aja, cuek, sambil terus maenin ini mubil-mubilan.

Waktu itu yang beliin kan si Aves, jadi gue gak liat langsung barangnya. Keterangan dari dia cuma, kecil, ada kotaknya (compact), tapi warnanya rada norak, biru metalik. Gue pikir, ah warna sih ntar bisa gue cat lagi. Maka gue setuju dengan pilihannya. Setelah gue dapetin tuh barang (malem hari), gue langsung maenin selama satu setengah jam-an. Soalnya gue masih gagap maenin RC, jadi masih suka bingung kanan-kirinya .  Gear-nya bunyi, rada berisik juga sebenernya, “serrrrr” begitu kira-kira suaranya. Dan malem itu gue maenin di depan rumah, tepat di depan kamar enyak-babeh gue. Jadi rada-rada kawatir juga maennya, takut-takut kalo bokap keluar dan ngomel-ngomel (saat itu jam 2 pagi). Soalnya kuping bokap rada sensitif sama suara-suara. Tapi sukurlah rupanya gak ada yang bangun, dan gue mulai familiar sama belok-beloknya maenan baru ini.

Setelah sehari gue pegang langsung gue wujudin rencana gue, ngecat tuh RC. Gue pilih warna item dop (dull black).

Menjadi

Kebebalan yang Masih Kembali

Sepi, hari berlarian cepat. Dengan tandas minggu berjumpa minggu dan aku berusaha menggaruk habis kebodohanku, di kamar ini. Mencoba istirahat dari entah apa, tersenyum berdasarkan ketidakpedulian.

Kulihat, takdir itu percabangan. kondisi-masa-depan yang pasti dan sudah terdefinisi. Dihamparkan dalam ranting-ranting kemungkinan – yang semuanya sudah pasti -. Dan kita yang menentukan susunannya. Itulah mahkota kita, kemampuan untuk memilih. Menurut atau membangkang, berjuang atau menyerah, terus mencari atau menunggu, bergerak atau digerakkan.

ketika seorang penyair sedang mengupas kata-kata, tak lain, jiwanya lah yang dia kupas. ketika seorang pematung mengukir batu-batu, tak lain jiwanyalah yang dia gurat. Ketika seorang pekerja tengah menyelesaikan pekerjaannya, tak lain, dia sedang menyelesaikan keutuhan dirinya.

Angin yang tanggung seperti tak putus menerpa. Dan pertanyaan usang segera menyergap: “Kapan usai?” Ah, kenapa selalu terburu-buru? hendak kemana kaki itu berlari? sedangkan hidup disusun pada saat ini.

Aku bertanya, apakah kenyataan harus menunggu? Apakah saat ini belum kutemui dia? Akankah dia hanya berlaku pada atau setelah suatu waktu dan suatu kondisi? Ataukah dia telah terdefinisi dengan jelas jauh sebelum kelahiran kita? Dan sedari kita belum ada, lahir, hingga mati, dan lenyap musnah, dia telah berjalan-jalan memenuhi semesta?

Sepertinya tak bisa kita berkata : “Kau belum menghadapi kenyataan yang sesungguuhnya.” Semua orang punya kenyataan masing-masing, tidak terdefinisi dalam satu keyakinan tunggal, baik pribadi maupun jamak. Dan kenyataan selalu sungguh-sungguh. Masa lalu adalah kenyataan yang lewat, saat ini adalah kenyataan yang nyata, masa depan adalah angan-angan.

Dalam beberapa hal, aku akan belajar untuk tidak peduli. Kulemparkan jiwaku ke pantai, bersama Bob Marley. Dan akan terus kucoba menuruti Muhammad kekasih Tuhan.

Minggu yang Dibalut Pertengkaran

Minggu-minggu ini
lengkap kita balut
dengan pertengkaran

sekian detik termakan
dalam marah dan sedih

lelah ya,
dan tentu bosan sangat

kita harus mencari wajah lain
dari percintaan kita
mengeluarkan sisi-sisi
menarik yang belum lagi terlihat

Ya, setelah bulan-bulan yang
menyenangkan sebelumnya,
rasanya pertengkaran itu menyehatkan
dia mengalirkan lagi darah kotor
hubungan kita,
ekses dari kebahagiaan sebelumnya
– tak ada yang tanpa efek samping di dunia ini –

dan sebagai penyadaran penuh
bahwa keadaan selalu berbalik-balik
tidak selamanya berdiri di satu posisi

pertengkaran adalah tanda kehidupan
dan pemahaman yang menyelam makin dalam
pertengkaran adalah penyegar
karena dunia tak bisa seluruhnya putih

Tapi,
lelah ya,
dan tentu bosan sangat

dan ya sayang,
segala sesuatunya tak boleh berlebih
juga dengan pertengkaran kita
dan ya sayang,
semua ada kadarnya, ada batasnya
janganlah kita lewati garis itu

minggu-minggu ini
lengkap kita balut
dengan pertengkaran

dalam tenang kata-kata hambar
dan korsleting mudah terjadi
pada emosi kita

Jadi rawan pada disorientasi
jadi sawan pada bosan

ayo, sebisanya kita pergi
dari lembah ini

5:20 20/02/2007

Pandangan Buram, Aku Merutuk

“And if the daylight feels like it’s a long way off
And if your glass heart should crack
And for a second you turn back
Oh no, be strong”
cit.

Lihatlah
apa aku jalan ditempat?
aku tak tahu
sejujurnya betul tak tahu
rasanya mau nangis saja

aku lupa halte
lupa simpangan
berjalan begitu saja
hingga compang-camping dan merasa letih

debu di wajah setebal kepala
kaki yang memar dan hati yang sakit
Istirah, tangan bertumpu pada lutut
mataku samar melihat jalan ke depan

“Bukankah itu jalan yang kemarin?”

Tercenung, pandangan membayang

“Ataukah jalan yang lain?”

aku terpuruk berlutut
terdengar dengan jelas
suara kawan di kejauhan sana
– terdengar semakin jauh –

Hatiku menciut
Dimana ini?
Hari apa?
Dimana barat dan timur?

Aku mengatupkan mata
sebal, sesebal-sebalnya
ah

=============
9:30 11/02/2007

U2, Walk On

Pandangan Buram, Aku Merutuk II

“You’re packing a suitcase for a place none of us has been
A place that has to be believed, to be seen”
Cit.

Selalu saja
ada orang seperti awan
datang dalam bayangan atau suara
datang memapah

Yang terus memompa nyawaku
agar tetap beraroma kehidupan

ada suara bidadari
ada suara kawan yang baik sekali
terdengar dari tempat yang jauh
mengatrol kerongkonganku agar terus
mengalirkan nafas dan vitamin

-selalu dari jauh-

jadi, memang sendirian
manusia memang musafir
Dunia hanya penghias latar

aku tengok ke dalam hati
masih ada impian-impian lama
yang disikapi dengan sangat pengecut

remuk redam disini
aku jadi tahu
kenapa orang ingin bunuh diri

==============
10:19 11/02/2007

By: U2, Walk On