Kemarin, gue ngecat (dengan pilox) maenan RC gue, yang mana lokasinya berada di bagian belakang rumah gue, yaitu teras dapur. Waktu ngecat hampir selesai, cewek gue nelpon. Maka sekalian nunggu kering tuh hasil pilox, gue telponan sama cewek gue. Terbawa suasana iseng-iseng, di ujung teras dapur itu ada sebidang tanah kecil yang sudah seperti ‘Markas Besar Bekicot’ di rumah gue. Binatang ini banyak terdapat di depan rumah gue, di sepetak tanah yang ditanami tumbuh-tumbuhan dan bunga. Tapi kita ga mo ngomongin yang di depan, tapi yang di teras dapur ini. Bener-bener kayak Mabesnya, disitu mereka bercengkerama, bercanda, makan kulit petai atau sisa buangan sayuran lainnya, dan juga tak lupa berkembang biak alias kawin (FYI, proses perkawinannya lumayan erotis bo!).
Singkat kata, sambil nunggu kering, dan sambil telponan ma cewek gue, gue merhatiin kawanan bekicot yang sedang merayap kemana-mana itu. Bahkan gue sempet ngasih makan mereka masing-masing sesobek kembang kol. Mereka pun makan dengan lahapnya. Makin gue perhatiin makin tertarik gue, gue foto beberapa dari mereka. Gue menemukan bahwa mereka tidak terpengaruh oleh cahaya maupun suara kamera bapuk SonEr 700 gue. Mereka asik aja terus asoy-geboy makan atau merayap-rayap. Dan semakin diperhatiin, bentuk, postur dan image mereka tanpa gue sadarin makin melekat di kepala gue. Gue segera ambil sketch book A3 di kamar dan sebuah pensil. Gue sudahi aktivitas observasi, beralih ke membuat corat-coret di buku sketsa. Emang bener-bener kecetak gambaran bekicot di kepala gue, sekali bikin jadi tuh gambar. Setelah jadi satu gambar, gue buat sketsa-sketsa bekicot yang lainnya, dan sampe akhirnya bosen gue bikin gambar-gambar gak jelas lainnya. Lalu begitu gue memandang tembok yang berdiri di atas sarang mereka itu (tembok perbatasan rumah gue dengan tetangga), tembok itu sebagian warna biru muda gak jelas dan sebagian lagi hitam gosong, karena sebelumnya tempat itu dijadiin tungku masak oleh nyokap. Oh iya, lanjut ya, begitu gue ngeliat warna hitam gosong yang tegas itu, gue mikir, kayaknya bagus kalo di tengah warna item itu ada gambar dengan warna-warna terang yang lembut dan bersih. Dan gue inget punya cat tembok sekaleng kecil yang belum kepake, dan juga bibit warnanya yang warna merah dan kuning, ya gue pikir cukuplah buat gambar yang gue bayangin.
Maka masih sambil telponan sama cewek gue, gue mulai menggambar sebuah bekicot yang lumayan besar di tengah tembok gosong itu. Setelah gue bikin outline-nya (garis pinggir, red.), gue gosok bagian dalam gambar itu dengan tissue sampai akhirnya nggak berwarna hitam ataupun biru gak jelas lagi, tapi putih. Setelah beres, langsung gue cat pake cat tembok putih sebagai dasarnya. Sebetulnya gue kurang menguasai teknik mewarnai, juga teknik yang menggunakan pewarna cair seperti ini. Tapi waktu ngewarnain dasarnya itu, sapuan kuasnya gue buat mengikuti bentuk objeknya. Kalo bulet ya gue nyapuinnya melingker dan seterusnya. Kenapa begitu? Tujuannya adalah supaya nanti hasil akhirnya punya kontur sendiri yang sesuai dengan bentuk gambarnya. Nah malem itu, proses pembuatannya cuma sampe sini.
Gue lanjutin pada siang lusa-nya, mulai gue warnain pake warna pink dan coklat. Bagian warna pink-nya gampang, kan tinggal merah sama putih, nah yang cokelat-nya ini yang repot soalnya gak ada warna item. Soalnya cokelat itu kan campurannya merah (banyak), kuning (sedikit), dan hitam. Bibit warna warna hitamnya ini yang ga ada. Akhirnya gue berimprovisasi dengan menggunakan warna item dari cat air. Sukurnya berhasil, jadilah warna cokelat. Hasilnya pun oke-oke aja. Tapi setelah gue perhatiin, setelah sekian lama dibiarin, campuran warna cokelat itu sebagian warna itemnya misah, ya emang bukan campurannya, tapi hasil yang di tembok ok, gak luntur. Gue selesain lah itu gambar dari jam delapan pagi sampe jam satu siang. Begini hasilnya :
nah, sekarang udah di upload gambarnya. Udah keliatan tuh.
ih… jadi inget gary nya spongebox.. hihihi…
hehehehe, rupanya, gambarnya lupa diupload :p
Mana bang ? gak keluar gambar nya…
punten mana ya gambarnya