Author Archives: Nyenius

berakhir

Dimanakah kau
penderitaan yang begitu pedih
Saat kita duduk berdampingan berpegangan
di atas baranya api
Bedua menjalin kepercayaan
tebaran abu-abu kertas cinta

Permainan hati
Demi cinta hanya pertentangan

Dengarlanlah jalan-jalan
Menusuri awal kegelapan

Kau tak akan tau
Begitu juga ketidak tau-an ku
Tali-tali yang terputus habis
Tetap berkesinambungan antara utara dan selatan

Kasih ini hanya kita yang tau
tak ada yang lain
Ingatlah aku

semua sudah selesai

Insan dunia, meninggalkan nama
Sang fajar berkabung
diredupkan keluarnya sinar
Langit terasa gelap
Dengan awan-awan temaram

Pepohonan nan rerumputan berduka
tertunduk sedih menatap pertiwi
tak terhiup harum dari bunga
tertutup pada setiap kelopaknya

Udara terhenti pada pusaran
terlihat hanya berhembus pelan dan lamban
angin membuat tangan mendekap badan
mengiringi haru biru

pada hari yang ditentukan
tercabut sudah segenggam nyawa
didahului dengan putihnya rambut
kerut-kerutnya kulit, rabunnya penglihatan
masa kemudaan telah terlewati
keturunan sudah lahir sebagai pengganti
masa kalian sudah habis
hanya segenggam nyawa

cuaca berganti kabar
tatkala matahari muncul
rintik hujan berjatuhan rapi.
kepala akan pusing karenanya
anak-anak hanya ikut bermurung

ibu-ibu satu persatu datang
dikenakan jilbab sekenanya
pada lengan kirinya menenteng
baskom berisi beras
pandangan hanya tertunduk laris

pada ketukan pintu gaib
Jibril datang menghadap,
memperkenan kan lintas dimensi waktu tuk
menjemput tanda, semua sudah selesai.

Endymon

Ter-untuk Dinar Rahayu

Ketika raga ini bergerak
Menusuri tapak demi setapak nyawa
Memberikan arti nikmat meracik cinta
Hamparan sengatan sel-sel darah memacu cepat terengah
menuju tulang tak berdaging bersama mengerasnya puting susu

aku tak lebih atau bahkan sekurang dari hewan
ketidaktakutan mereka untuk membunuh dan bersimbah darah

kepada jiwa ini aku bermain,
berlari dan bermain di atas mata pisau
layaknya Endymon,
bujang yang jatuh cinta kepada peri
yang hanya mengunjungi dan bercinta dalam mimpi*.
keinginan hati me-mustuskan,ketidakbutuhan perasaan
karna tidak akan guna ketika masuk menusuri kelambu kesedihan.
surga akan sempit tanpa neraka

gelembung pun berbuih
memenuhi semua lapisan organ tubuh ku
busa putih keluar dari pori-pori
menusuri kulit-kulit yang tak berdaging
aku lah jiwa ini.


—
Agam

masa kecil

Berlarian telanjang bebas tanpa mengenal kelamin.
Menggapai impian tanpa suatu rencana.
Berkata-kata lantang tanpa maksud.
Pencarian hal yang tak kenal saat nya tidur siang
dan sembrutan monster berkelamin wanita yang aku tidak mengerti

Menoreh coretkan dinding-dinding rumah
tersenggol pecah, gelas-gelas kaca
air bak pun menjadi kotor keruh.
Teriakan keras tanda ingin kan sesuatu
Menantikan wajah berkelamin pria yang tak kunjung pulang

Timang nya tubuh saat terlelah nya aku.
Dibelai nya rambut, termanja nya aku.
Pelukan lembut saat terderainya air mata.
Terkecup kening saat terucap selamat tidur.
Senyum manis yang hingga kini masih menyapa ku.

kurindukan ku masa-masa kecilku

Hati

Hidup itu indah
Indah ketika ingat kekasih hati
Lalui semua waktu
Semua ruang yang memiliki massa
Semua semua semua semua akan terlupakan

terlintas
Semua yang telah mengisi hati
Entah itu kau atau bukan
Yang ku tau aku rindu kamu

Benci akan diriku
Muakkan diriku
Ludah-i diriku
Bunuh diriku
tinggalkan jasad ku
dan simpan
Hati ku
Dilubuk hatimu
Ya…
ng
Pa…
ling

D

A

L

A

M


—
Agam.

17 November 2004

Merdeka dari Lautan

Laut kehilangan bahasanya atasku. Dia hanya bicara tentang dirinya dan ombak-ombak, tak lagi bicarakan kau, dia atau siapapun. Dia hanya menceritakan dirinya. Laut berdiri sebagai laut, aku berdiri sebagai aku. Tak ada sapa yang mendalam, jiwa kami enggan selam-menyelam. Bibirnya tak lagi ungkapkan luka dan segala kenang yang lewat. Kami berhadapan dalam gagap dan tanya. Laut kehilangan bahasanya, dia hanya ceritakan pinggulnya yang tak lagi perawan. Kami saling pandang berjauhan, panasku-panasnya adu-beradu, saling lambai tanpa basah.

Laut, kali ini tak perlu kita bermasam-masam, muram itupun tak usahlah disambungkan lagi. Kita cumbu saja tawa dan riak-riak yang menampar pasir putih.

Aku terbebas darimu, laut! Juga dari lautan kenang yang melahirkan pekur lunglai dan rembesan perih yang mengakar (yang biasa lahir saat aku bertemu kau). Aku dapat memandangmu tanpa perlu berlindung dari kilauan luka, aku dapat menghadapimu dengan ringan, dan memandangmu sebagai laut yang benar-benar baru.

16 November 2004

Sekiranya kita tahu perbatasan yang tepat antara mata, hidung, telinga, dengan hati, mungkin tak begini jauh kita tersasar. Tersungkur di semak belukar berbau darah dari jiwa. Kita tak akan hanya mengenal nafsu, tapi juga punya air peredam-nya. Segala itu melahirkan lingkaran kepusingan yang tampak tanpa ujung. Akan jelas, mana perkataan-hati,mana perkataan-daging.

Nafsuku, bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke temapt lain saja? Tak perlu hingga puncak kemuliaan dulu, ke tempat yang antara (murka dan pahala-Nya) pun tak apa; sebagai laku yang mula. Jangan ke taman yang itu-itu lagi, yang penuh bunga dan pohonan plastik.

Nafsu: “Aku selalu hidup dengan jujur. Aku berjalan sesuai arahan jalan dari hati”.

Hatiku, tunjukkan yang benar padanya.

Hati: “Aku adalah sekumpulan cahaya murni. Mengandung partikel-partikel kecil ‘sifat ilahiah’ yang disuntikkan bagi manusia. Akankah kutunjukkan jalan yang celaka?! Hanya saja aku diselubungi kerak-kerak hitam, hingga jangankan mengarahkan, suaraku pun sulit menjangkaumu”.

Tuhanku, aku elu-kan nama-Mu, aku sadar, segala komponen yang kau berikan, hakikatnya adalah Lurus dan alat menuju ke-Lurus-an.

Sorotkanlah sinar-Mu, bumi-hanguskan kerak yang membatu ini. Nafsu pun suci, hanya saja, aku masih gagap dalam menjadikannya perkakas hidup, hingga seringkali ia menjadi senapan yang menembak kakiku sendiri.

14 November 2004

Lebaran 2004

Tidak kutemukan jejak kemenangan di sini, tidak juga detak-detak kebebasan hati. Pengap dalam semesta menyumpal dada. Tuhanku, nama-Mu didengung-dengung jiwa-jiwa suci, tapi aku bahkan gagap mengeja huruf pertamanya. Tanah dan langit yang terpijak hilang identitas, tanpa wajah, menyarungi aku, gamang.

Kemenangan! Mereka meneriakkan kemenangan! Tuhanku, serdadu yang mangkir ini, malah menjauhinya. Tuhanku, aku kehilangan makna hari-hari. Hati menuntut lebih deras dari detakan detik jam, nafsu meracau melebihi kerasnya firman-Mu. Urat kenikmatan terus menarik-narik, menyorongkan hidangan pembuka murka-Mu.

Wajahku retak, seratus kemenangan meninggalkanku. Apalah artinya, apakah berarti, setumpuk amal tambal-sumbal yang kuhendaki khusus untuk-Mu?

Kalau kemenangan tak kau beri, salaam, cukup basahi kerongkonganku dengan salaam.

Palestina

jika kau mengira tangan2 yang melempar batu itu hampa tak berarti
maka kau salah….
batu yang mereka lempar adalah nyawa,
darah yang mereka cucurkan bukanlah darahmu darahku,
melainkan hanyalah air untuk menyuburkan kebun-kebun jeruk mereka
agar tetap subur dan berbuah,
karena setiap buah yang dipetik dari tangkainya akan kembali tumbuh
dengan lemparan batu dan kucuran darah

apakah kau tahu,
setiap jeruk yang tumbuh dengan siraman darah
akan hidup berkembang untuk keyakinan.
mereka tidak lemah, tidak pula pengecut.
yakinlah….. mereka sungguh tidak lemah!!!

mungkin kau memandangnya dengan cara lain,
perduli setan dengan tembok kokoh itu
mereka akan tetap menyebranginya,
dengan darah dan batu
atau dengan segelintir kebencian.
katakan padaku sekarang!!
siapa yang dapat menahannya?.


—
Rizky Nugraha.