Author Archives: Nyenius

Benar, Aku rindu hadirmu

Di gelapnya malam, kelam
sendu, aku merintih sendiri
ingin tertawa, dalam hati
Sayang, Tenyata aku butuh hadirmu

Hahaha Tertawa lagi,
ingat ku saat bersamamu.
Indah,

Maaf, aku memang pecundang
yang tidak bisa memberi arti,
Tapi yakinlah,
aku punya cinta
akan kujadikan modal,
Untuk memberi mu sedikit arti
Tentang aku.


——-
Aves.

Cobalah Perhatikan

Bertanya lagi kau padaku,
“Apakah kau sayang padaku?”
Bangsat, Apakah kau tak lihat?
Ini aku hadir disisimu

Kuakui mata matamu terlalu indah
Untuk sekedar melihat goresan penaku
Yang tertulis:
“Aku Sayang Kamu”

Tak lama, kau kembali bertanya,
“Apakah pernah kau rindu hadirku?”
Hahahaha, terasa ingin berteriak
meluapkan semua yang ada didada

Dengar,sayang!
Setiap hinaan yang terucap
Hanya ungkapan ketidak mampuanku
Untuk katakan:
“Sungguh Setiap detik pun aku rindu hadirmu”

Dan lagi,
diakhir pertemuan kau berkata:
“Bagaimana Aku menurutmu?”

Iya, memang semua Tertulis, Terucap
dan Terfikir takkan kau ketahui,saat ini.
setidaknya saat ini aku lumpuh,bisu dan dungu.
Hingga, saat nanti,
Saat kita berdebat lagi tentang masa depan anak kita
Akan kuucapkan semua, bahkan akan kuteriakkan seluruhnya
bahkan yang tak terbayang oleh mu tentang harapanmu itu.
ketika ku sedang asik menidurimu.


—–
Aves.

04 Nopember 2004

Aku ingin menulis, meluruskan benang kusut yang merintangi jiwa. Jembatan hati terputus, ngungun terpaku di awang-awang, ambang batas antara eksistensi, realitas, dan teori. Aku sudah tiba disini, di depan penanak jiwa, dengan jiwa sarat muatan, hendak meledak tapi kehilangan alamat tiba-tiba. Aku jadi diam, tersedak dikepung kata-kata yang lebih tulus dari perkiraanku, seperti zikir kudengar. Dalam hari terhitung belakangan ini,

kucatat, bahwa hakikat kehidupan itu begitu sederhana, sedangkan pemecahan kasus menuju kesana begitu rumit, melalui rumusan-rumusan verbal yang melelahkan.

Kucatat, bahwa segala sesuatu memiliki harga, dan dalam hidup ini kita hanya mendapatkan seharga yang kita bayarkan. Bisa lebih, ditambah rahmat Tuhan.

Kucatat, seorang tua yang menceritakan tentnag kenangan. Yang berjarak se-urat, se-mili, se-meter, se-mil jauhnya. Juga dia tukas bahwa kenangan merusakkan daging dan hati, mencemari pandang dengan rintik haru.

Kucatat, damba akan peluk meluluh-lantakkan panasnya hari-hari, dinginnya malam dalam hujan.

Kucatat, ketulusan kafilah Tuhan dalam doa universal pada tarawih-tarawih, teriakan bilal, dan jemaah subuh yang menggerombol sederhana.

Kucatat, maksud Paulo Cuelho dalam bukunya, bahwa Raja Salem adalah Raja Salaam (keselamatan, kesejahteraan), yang berada dimana-mana, menghinggapi senyum dan rambut orang-orang yang tenang ber-jalan teguh.

Kucatat, memainkan bunyi klakson seenaknya di jalan itu mengesalkan orang lain, terutama sopir Kopaja.

Kucatat, kutipan sadisme Lenin yang mendarah daging dalam karya Erich Fromm, menggigilkan akal sehat. Juga dorongan sadistis purba yang terdapat pada suku-suku terbelakang adalah bentukan alam yang menuntut mereka untuk bertahan dan hidup.

Kucatat, himpunan kesabaran dalam menuju tujuan adalah energi yang mengagumkan, sehingga di ujungnya kita sering berdecak tak percaya, bahwa yang di depan mata adalah hasil tangan kita.

Kucatat, segerombolan pemuda tanggung telah masuk dalam hidupku, sedikit-demi sedikit, meramaikan hari-hari di kampus baru. Juga segelintir wanita yang tersenyum menantang dan pandangnya memanggil: “Kejar aku…”, aku cuma tertawa, jiwa yang sialan ini kapok masuk ke dalam semak-belukar rupanya.

Kucatat, seorang kawan yang menumpahkan kehilangannya, merindukan masa-masa silam dan juga hidup yang semakin serius. Tanpa sengaja dia mengingatkanku pada loyalitas. Naluri primitif yang sederhana tapi menagihkan, menggolakkan jiwa, memacu adrenalin dalam perjuangan, dan bayaran darinya yang tinggi. Bahwa Loyalitas sejati, akan memacu ‘loyalitas-loyalitas’ lainnya datang menghampiri dan melebur menjadi satu loyalitas besar (dalam contoh kecilnya: kebersamaan).

Kucatat, jiwa yang tak sengaja jumpa, lantas jiwa kami saling sahut bersahutan, coba mengenal dari jauh dalam tatap dan tilik kebenaran panggilan mereka. Kami saling hampiri, dalam jabat tangan dan senyum menyambungkan silaturahmi Jiwa Buana* dalam bahasa verbal. “Kita sepertinya telah kenal lama….”

Kucatat, silaturahmi, memadukan kembali rantai karat yang terputus atau hampir putus, melahirkan kebahagiaan tersendiri, kelegaan melebihi dahaga yang terpuaskan.

terakhir,

Kucatat, kabel headphone-ku putus, rupanya itulah yang menyebabkan bunyinya sering hilang-timbul (sampai akhirnya hilang sama sekali). Kucoba sambung dengan cara konvensional, tak bisa, rupanya tiap kabel didalamnya dilapisi plastik pelindung berwarna, kukadali, akhirnya bisa, malah lebih jernih, bahkan suara bass-nya lebih edun lagi, kembali ke hakikatnya, sesuai perkataan mereknya, Clarion Digital Super Bass Monitor.

Percikan kebahagiaan hadir setiap hari, dalam hal-hal terkecil, sengaja-tidak-sengaja. Dalam kopi yang pas komposisinya, dalam ujung cutter yang baru dipotong, dalam kuas dari bulu musang, bahkan dalam jalan baru yang tak sengaja kita temui. Cinta yang mendorong totalitas dalam pekerjaan, menghasilkan sesuatu yang tegas berkarakter, sejahtera, berbenih keabadian, dengan jiwa yang tak henti bicara.

Jiwa Buana: istilah, dipinjam dari buku Paulo Cuelho.

Mmmm

Satu hal.
Nanti kalau
orang tanya
perlakuanku padamu,
entah kau suka atau tidak.
Mengakulah!
Bicaralah yang lantang dan anggun!
Endapkan dalam telinga mereka bahwa kau;
Ratuku

Sayangku

Sayang,
maaf,
saat ini,
mahar yang bisa kubayar,
hanya perasaan,
hanya cara,
hanya cita-cita,
hanya tekad untuk terus berkelahi
dengan angin dan hujan.

Aku mencintaimu, Lies.
Biarkan terus
kunaiki tiap anak tangga
walau tanpa kaki.

Akbar
===============
2 November 2004

Terima Kasih

(untuk Eulis, ST, FM, IM)

Kita memang harus sabar.
Sehingga benar kenal siapa
itu setetes keringat,
yang membuat selalu
bertahan ketika semua perasaan habis.

Waktu memang tak dimiliki kita.
Jadi, aku tak mau sok tahu
dengan menyerah
pada ketakutan,
pada lelah,
pada bentuk jalan malam,
pada perih,
pada puas,

-pada angin yang menusukku dalam-

Manusia, lelaki khususnya.
Ia takkan pernah siap,
tapi ia tak pernah tanpa persiapan.
Tidakkah pernah kukatakan,
"jangan berhitung denganku!"
Aku akan berdarah
Kau akan merintih sakit, dalam.
Kita bicara bahasa pengorbanan.
Harga hanya untuk kecap!

Aku tidak akan "berak"
jika perutku tak minta.
Aku takkan menikahinya
jika ia tidak ingin kunikahi.
Tapi siapa yang tahu?
Kalau begitu aku takkan makan sampai mati
Aku takkan merayu.
Dan berdosa
karena enggan berlari.
Tidakkah itu kita lakukan untuk diri sendiri?
Tanpa harus menciptakan novel
yang isinya hanya dunia ego kita,
dan menjadi tuhan yang lemah
bagi tokohnya.

Terima kasih.
Aku memang tak pandai dalam hal itu.
Tapi, terima kasih
karena meludahiku.
hingga aku tahubegitu hina
menjadi pengecut atau penekad.

Akbar
===============
2 November 2004

Bintang dan Kau

malam sunyi menatap langit..
menunggu bintang jatuh
berharap dapat mengharapkan sesuatu
tentang mu….
mengharapkan kau hadir seiring munculnya bintang itu

akan kah bintang itu hadir malam ini?
akan kau sudi hadir malam ini?
jangan enggan karena ku akan selalu menunggu mu disini disetiap malam sepiku…..
sendiri..


===============
Harir.