Tag Archives: ngomong-ngomong

Colokan yang Canggih

Btw, gue kemaren baru beli colokan seperti yang ada di gambar di bawah ini. Apa itu? ini adalah steker yang bisa di set waktunya. Misalkan kita cuma pengen steker ini ngalirin listrik setiap harinya pada jam 6 pagi selama 2 jam saja begitu. NAAAAAHHHH, masalahnya adalah gue gak tau cara ngoperasiinya gimana. Baca manualnya? Udah baca, didalem kemasannya cuma ada dua carik kertas yang terus mengatakan “pencet tombol ini-pencet tombol itu” PADAHAL, barang kampret ini kan gak punya tombol!!! Yang ada cuma ‘sesuatu’ yang berbentuk lingkaran, dan memang HANYA BISA diputer, bukannya DIPENCET.

Ok, ok, calm down dude,….. Gue cuma mao nanya, ada yang tau gak cara makenya gimana? plis?….

colokan ber-timer

Air Beriak Tanda Tak Dalam

Ketika sesuatu memasuki tahap serius, banyak hal-hal kecil yang sebelumnya terlewati muncul. Celakanya ia sering kali menjadi masalah. Mungkin sebetulnya bukan masalah, hanya saja ia perlu diperhitungkan kembali, dan diambil tindakan untuk mengatasinya, menghapusnya dari checklist atas hal-hal yang memang seharusnya dilakukan.

Ketika berpikir masalah tujuan, strategi, kita bicara tentang hal yang global. Ketika strategi dan tujuan itu dijabarkan, dijalankan, kita berhadapan dengan hal-hal kecil dan detail. Ini kesadaran yang harus diterima, supaya muncul tindakan mencegah detail-detail tersebut tidak menjadi masalah.

Waktu jalan semakin meruncing ke satu arah, ada prioritas-priritas yang harus dipilih. Pilihan ada banyak, ia akan selalu banyak, begitu juga kesempatan. Tapi mereka hadir bukan untuk dijalani semuanya, ia memberitahu tentang keterbatasan manusia dan mengajarkan bahwa kita harus memilih. Mengutip suatu tajuk rencana koran kompas yang tanggalnya saya lupa, tulisan itu berkata: “…memilih tidak selalu antara yang baik dan yang buruk, tidak jarang kita harus memilih antara yang buruk dan yang lebih buruk…”

Kesempatan; terseret atau menyeret

Suatu hari pada tahun 2001, gue lagi duduk di tangga SMA gue (saat itu gue baru beberapa bulan lulus) sambil ngobrol-ngobrol sama guru matematika gue yang pikiranya cukup idealis (setidaknya gue pikir demikian). Dia bicara tentang kesempatan, dia bilang; “Kesempatan itu Cuma datang sekali, selebihnya kita yang harus bekerja keras membuat kesempatan itu.”

Gue tercenung mendengar paparan itu, dari awal ngedengernya, ada sesuatu yang rasanya ngganjel di kuping. Gue bertanya beberapa kali tentang pernyataannya itu, dan jawabannya selalu membenarkan pernyataannya tentang kesempatan. Gue berhenti nanyain hal itu, tapi dikepala, kalimat itu terus muter-muter, pertanyaan terbesarnya adalah “BENARKAH BEGITU???” Selalu, gue kalo denger kalimat atau pernyataan dari seseorang yang umur dan pengalamannya jauh diatas gue, gue akan lebih banyak diem ngerenungin omongannya, ketimbang membantah. Pertimbangannya adalah, pasti ada suatu pengetahuan, terutama yang sifatnya empirik, yang membuat dia mengeluarkan pernyataan tersebut. Ini salah satu masalah yang kalau diomongin aja gak akan selesai-selesai, dia harus dibuktiin dengan pengalaman.

Bertahun-tahun lewat sampai hari ini, selama itu gue gak pernah mengambil sikap setuju atau tidak terhadap pernyataan itu. Sisi percaya dan ragu sama kuatnya, walaupun munculnya bergantian (masak barengan 50-50, gak mungkin lah hehehehehe). Pada beberapa sisi, sikap ‘golput’ gue ini agak mengganggu pengambilan keputusan gue terhadap situasi atau kesempatan yang sedang gue hadepin pada masa-masa itu. Berkali-kali hal ini dipertanyakan dengan keras oleh kepala gue, tapi tetep gak ketemu jawabannya. Mungkin karena

Sekarang gue sadari bahwa pernyataan itu tidak lengkap. Ya sebagai sebuah kalimat pernyataan dia sudah selesai, tapi untuk aplikasinya tidak seperti itu tampaknya. Setiap orang memiliki banyak kesempatan, bahkan terkadang dia dihadapkan dengan berbagai kesempatan pada waktu yang nyaris bersamaan. Mending kalau kesempatan itu seragam, bisa dibuat tingkat-tingkat prioritas atau tingkat profitnya. Nah, kalau kesempatan itu beragam bentuknya? Pada akhirnya yang menentukan bukan banyaknya pilihan atau kita mengambil semua kesempatan itu, tapi; mengambil keputusan!

Hidup ini isinya pilihan-pilihan. Kenapa gue bilang begitu??? Gue melihat dari ‘fitur gacoan’ yang dianugerahi Tuhan buat manusia yaitu; akal; kemampuan untuk memilih – ini yang berulang kali ditekankan sebagai pembeda manusia dari mahluk lainnya. Dari situ timbul pertanyaan, kenapa kemampuan memilih yang dianugerahi kepada manusia? Bukannya kemampuan bisa terbang atau indera yang super tajam misalnya. Segala sesuatu dipersiapkan untuk menghadapi masalah atau environment (lingkung hidup) yang akan dihadapi. Malaikat dibuat tanpa cela dan tidak berpikir karena ia memang bakal ditugaskan untuk mengerjakan perintah Tuhan tanpa membantah. Disamping argumentasi tersebut, coba tengok keseharian kita. Pagi, kita memilih baju yang akan dipakai, baju dan celana ada banyak dilemari kita, tetap pada akhirnya kita harus pilih salah satu dari jenis-jenis pakaian tersebut (celana dalem sama celana jeans kan beda kikiki), begitu berangkat, kita pilih pakai angkot yang ana, misalkan gue di ciputat mau ke Terminal Lebak Bulus Jakarta, bisa aja gue naik angkot Parung-Bogor, terus sambung Bogor-Bandung, baru dari Bandung naik bis yang ke Terminal Lebak Bulus (info, aslinya dari ciputat ke lebak bulus cukup naik satu angkot kecil ajah). Pilihan itu bola liar yang memungkinkan untuk dipilih, dan setiap pilihan satu paket dengan konsekuensi yang dibawanya.

Teman saya, seorang programmer komputer yang cerdas pernah berkata; “Di dunia ini Cuma ada dua hal 1 (satu) dan 0 (nol). Jadi intinya, ya atau tidak.”

A nice week…..

Ngeselin, udahan hubungan asmara lagi gak bagus, kemaren ditambah gue gagal nginstall OS di laptop orang (maap maap, gue benerin ntar ya). Gue jarang ada di rumah kalo malem. Udah kayak ngontrak, pagi gak ketemu bokap nyokap, pulang malem pas mereka udah tidur. Entar malem ada rapat pula katanya, maaaaak mau dikata apa aku ni sama emak ku. Oh iya, dari kemaren bokap gue nyuruh bikin gambar buat langganan. Gambarnya sih sederhana, tapi ukuran-ukurannya ada di toko, sampai detik ini belum gue bikin, die udah ngomel-ngomel aja. Bleh iya ya, project sama aves masih sisa satu modul yang belum selesai…… Hahahahahahahahaha…….

The Floating Insanity

Tuhan, pada kesalahan kata-kata
Pada emosi diluar batas
Pada posisi diri yang hilang sesaat
Pada kesamaan darah yang bertengkar hebat
Pada pengertian yang silang arah sesaat
Sesudahnya kusebut namaMu
Sesudahnya bagaimana Tuhan….

Sudahlah Subhan…

Teruslah bergerak penuh gairah, seperti grafik pada equalizer yang memutar dance music. Tak perduli ada di atas atau di bawah, tak peduli ada kawan yang pergi dan bertahan. Kau pernah berkata, mimpi tak pernah mati, hanya mungkin terkubur jauh di dalam. Sudahlah jangan bersedih, dan jangan pula goyah.

Suatu malam kau bermimpi, terjatuh dari motor di tanjakan yang diapit pemandian, yang segera motor itu pun hilang dicuri orang, dua orang paruh baya datang menghampiri, menolong membawamu pergi ke sebuah ruang, mimpi itu datang pada saat kejatuhanmu yang pertama di bulan yang lalu. Lalu silih berganti kesempatan datang dan menghilang, silih berganti mulut-mulut yang tulus memompakan darahmu, persis seperti yang kau minta dalam puisi. Seorang ayah, yang terus memacu nyawanya demi kehidupanmu, mengulurkan tangan, menarik tubuh yang hampir jatuh, berdiri, mengajakmu pergi ke suatu mimpi yang ia dan ayahnya bina. “Berjalanlah pada jejakku”, ajaknya. Ya kau adalah pemberontak, tapi rupanya darah yang mengakar kepadanya menarik jiwamu untuk menurut dan menyatakan bakti. Mimpinya berubah menjadi mimpimu sendiri. Kita tidak akan mengungkapkan alasan kepada mereka yang meneriaki bahwa kita lari dari mimpi dan harapan yang dulu, ya, tidak perlu. Karena mereka tidak punya darah yang ini, karena darah kita bukan darah mereka. Sumpahi saja, semoga mereka nanti mengerti, entah dengan cara yang seperti apa.

Sudahlah, jangan risau, perubahan-perubahan mendadak dan begitu singkat yang datang belakangan ini, biarkan saja. Hidup memang penuh dengan hal-hal itu. Ingatlah hari-hari yang kau jalani, ingatlah wajahmu ketika tertawa dan berbicara keras di koridor-koridor kampus, satu-persatu orang kau sapa kau senyumi, sebisa mungkin kau artikan maksud mereka, sebisa mungkin kau lebur bersama mereka, tanpa memperdulikan apakah mereka tahu kegalauan tentang waktu yang merobek-robek hatimu. Kau lihat sendiri bukan, hidup seolah berjalan pada mode fast forward begitu kau jatuh dan menyatakan tidak menyerah. Begitu kau tahu kesalahanmu dan menerima konsekuensinya. Seolah-olah Tuhan menarik kerah baju kita, dan menyeret kita ke depan. Mungkin Dia ingin lihat apakah kaki kita dapat mengimbangi seretan itu dan tidak terseret lagi, atau mungkin Dia ingin mengajarkan cara agar kita tidak terseret. Coba kau pegang dadamu yang mulai memelihara ke-lapang-annya, hargai dia, walau sesekali masih tersendat juga.

Subhan, kau tahu, diam adalah kematian, kau tahu menyerah adalah bunuh diri. Maka sudahlah Subhan, tegarlah, berjuanglah. Jadikan risau itu bahan bakar untuk berlari. Hukum dasar bagi hari esok adalah, buram, tidak kelihatan. Hukum dasar bagi perubahan adalah usaha, perjuangan. Terimalah hukum dasar hari esok, dan jalankan hukum dasar perubahan.

Ayolah Subhan, hidup ini hanya gurauan, kau tahu itu, dan kau senang sekali bersenda gurau. Namamu telah dicatatkan Tuhan dalam sejarah kehidupan, dan sejarahmu sendiri telah dituliskanNya pada masa 120 hari sebelum kau lahir. Nah begitu, tersenyumlah, Ya, ya, tak apa, jangan perdulikan mereka, ya ayo berjalan, lalu berlarilah, masih ada dimensi yang harus kau tembus, masih ada waktu yang harus kau akrabi. Bawa serta ketakutanmu, ia pendorong hidup, penimbul keberanian. (dalam teriakan) Ya, ya, teruslah melaju!

Wall Graffiti

Kemarin, gue ngecat (dengan pilox) maenan RC gue, yang mana lokasinya berada di bagian belakang rumah gue, yaitu teras dapur. Waktu ngecat hampir selesai, cewek gue nelpon. Maka sekalian nunggu kering tuh hasil pilox, gue telponan sama cewek gue. Terbawa suasana iseng-iseng, di ujung teras dapur itu ada sebidang tanah kecil yang sudah seperti ‘Markas Besar Bekicot’ di rumah gue. Binatang ini banyak terdapat di depan rumah gue, di sepetak tanah yang ditanami tumbuh-tumbuhan dan bunga. Tapi kita ga mo ngomongin yang di depan, tapi yang di teras dapur ini. Bener-bener kayak Mabesnya, disitu mereka bercengkerama, bercanda, makan kulit petai atau sisa buangan sayuran lainnya, dan juga tak lupa berkembang biak alias kawin (FYI, proses perkawinannya lumayan erotis bo!).

Singkat kata, sambil nunggu kering, dan sambil telponan ma cewek gue, gue merhatiin kawanan bekicot yang sedang merayap kemana-mana itu. Bahkan gue sempet ngasih makan mereka masing-masing sesobek kembang kol. Mereka pun makan dengan lahapnya. Makin gue perhatiin makin tertarik gue, gue foto beberapa dari mereka. Gue menemukan bahwa mereka tidak terpengaruh oleh cahaya maupun suara kamera bapuk SonEr 700 gue. Mereka asik aja terus asoy-geboy makan atau merayap-rayap. Dan semakin diperhatiin, bentuk, postur dan image mereka tanpa gue sadarin makin melekat di kepala gue. Gue segera ambil sketch book A3 di kamar dan sebuah pensil. Gue sudahi aktivitas observasi, beralih ke membuat corat-coret di buku sketsa. Emang bener-bener kecetak gambaran bekicot di kepala gue, sekali bikin jadi tuh gambar. Setelah jadi satu gambar, gue buat sketsa-sketsa bekicot yang lainnya, dan sampe akhirnya bosen gue bikin gambar-gambar gak jelas lainnya. Lalu begitu gue memandang tembok yang berdiri di atas sarang mereka itu (tembok perbatasan rumah gue dengan tetangga), tembok itu sebagian warna biru muda gak jelas dan sebagian lagi hitam gosong, karena sebelumnya tempat itu dijadiin tungku masak oleh nyokap. Oh iya, lanjut ya, begitu gue ngeliat warna hitam gosong yang tegas itu, gue mikir, kayaknya bagus kalo di tengah warna item itu ada gambar dengan warna-warna terang yang lembut dan bersih. Dan gue inget punya cat tembok sekaleng kecil yang belum kepake, dan juga bibit warnanya yang warna merah dan kuning, ya gue pikir cukuplah buat gambar yang gue bayangin.

Maka masih sambil telponan sama cewek gue, gue mulai menggambar sebuah bekicot yang lumayan besar di tengah tembok gosong itu. Setelah gue bikin outline-nya (garis pinggir, red.), gue gosok bagian dalam gambar itu dengan tissue sampai akhirnya nggak berwarna hitam ataupun biru gak jelas lagi, tapi putih. Setelah beres, langsung gue cat pake cat tembok putih sebagai dasarnya. Sebetulnya gue kurang menguasai teknik mewarnai, juga teknik yang menggunakan pewarna cair seperti ini. Tapi waktu ngewarnain dasarnya itu, sapuan kuasnya gue buat mengikuti bentuk objeknya. Kalo bulet ya gue nyapuinnya melingker dan seterusnya. Kenapa begitu? Tujuannya adalah supaya nanti hasil akhirnya punya kontur sendiri yang sesuai dengan bentuk gambarnya. Nah malem itu, proses pembuatannya cuma sampe sini.

Gue lanjutin pada siang lusa-nya, mulai gue warnain pake warna pink dan coklat. Bagian warna pink-nya gampang, kan tinggal merah sama putih, nah yang cokelat-nya ini yang repot soalnya gak ada warna item. Soalnya cokelat itu kan campurannya merah (banyak), kuning (sedikit), dan hitam. Bibit warna warna hitamnya ini yang ga ada. Akhirnya gue berimprovisasi dengan menggunakan warna item dari cat air. Sukurnya berhasil, jadilah warna cokelat. Hasilnya pun oke-oke aja. Tapi setelah gue perhatiin, setelah sekian lama dibiarin, campuran warna cokelat itu sebagian warna itemnya misah, ya emang bukan campurannya, tapi hasil yang di tembok ok, gak luntur. Gue selesain lah itu gambar dari jam delapan pagi sampe jam satu siang. Begini hasilnya :

Maenan Baru : RC

Ah, mainan baru. Kemaren gue dan Aves beli mubil RC (remote control). Yah, sebenernya gue nitip sama dia, dan yah iya, dibayarin dulu sama dia… udeh, apa lagi? Emang dari minggu sebelumnya kita saling mengutarakan keinginan buat punya maenan itu. Lumayanlah pikir kita, abis capek coding atau ngerjain tugas kuliah (itu gue), abis ngadepin monitor ato kertas A2 terus-menerus, sebagai jeda nya kita maenin RC ini. Sesuatu yang bisa kasih suasana dan pemandangan baru buat otak. Daripada terus-terusan duduk, muka mengkerut, punggung pegel, mending ada hiburan yang ‘rada motorik’ sedikitlah. Nasib kami ini terhitung sama soal RC, sama-sama mupeng, sama-sama baru tahu pada pengen punya barang itu, dan sama-sama ditentang oleh kekasih masing-masing. Tanggapan pacar kami hampir senada; “gak penting, kayak anak kecil”. Dan juga sama, kami tetap membelinya

Tapi jangan lantas mikir kita beli yang juteng-jutengan (jutaan), yang kita beli itu RC kelas bawah, Aves beli yang dibawah 150 rebu, gue beli yang 90 rebu. Gue beli yang merk Auldey. Gue emang sengaja beli yang segituan, pertama tujuannya bukan buat serius (seperti hobiis RC), kedua gue pengen yang mungil jadi bisa dimaenin dimana aja, gak mesti di track nya ato jalanan, ketiga, jelas lebih murah. Ini pake batere, jadi bukan mesin, jadi gak pake ribet plus gak perlu perawatan yang mahal.

Kesan pertama dari cewek gue (dan sepertinya sampai saat ini) adalah; “kayak anak kecil.” Kalo dari nyokap, begitu ngeliat gue maen beginian di dalem rumah adalah: “Udah lama Ban?”, pertama gak ngeh gue, tapi setelah diulangin lagi “Udah lama ban?”, gue jawab aja, “Baru kok”, dijawab; “Sukurlah, kalo gitu masih bisa disembuhin” sambil mesam-mesem. Gak lama babeh gue pulang, rupanya dari depan rumah dia dah liat gue maenin ginian, pas masuk, dia ngomong sama adek gue; “Duh, neng liat tuh, bapak punya anak bayi lagi” Gue cuma ketawa-ketawa aja, cuek, sambil terus maenin ini mubil-mubilan.

Waktu itu yang beliin kan si Aves, jadi gue gak liat langsung barangnya. Keterangan dari dia cuma, kecil, ada kotaknya (compact), tapi warnanya rada norak, biru metalik. Gue pikir, ah warna sih ntar bisa gue cat lagi. Maka gue setuju dengan pilihannya. Setelah gue dapetin tuh barang (malem hari), gue langsung maenin selama satu setengah jam-an. Soalnya gue masih gagap maenin RC, jadi masih suka bingung kanan-kirinya .  Gear-nya bunyi, rada berisik juga sebenernya, “serrrrr” begitu kira-kira suaranya. Dan malem itu gue maenin di depan rumah, tepat di depan kamar enyak-babeh gue. Jadi rada-rada kawatir juga maennya, takut-takut kalo bokap keluar dan ngomel-ngomel (saat itu jam 2 pagi). Soalnya kuping bokap rada sensitif sama suara-suara. Tapi sukurlah rupanya gak ada yang bangun, dan gue mulai familiar sama belok-beloknya maenan baru ini.

Setelah sehari gue pegang langsung gue wujudin rencana gue, ngecat tuh RC. Gue pilih warna item dop (dull black).

Menjadi

Kebebalan yang Masih Kembali

Sepi, hari berlarian cepat. Dengan tandas minggu berjumpa minggu dan aku berusaha menggaruk habis kebodohanku, di kamar ini. Mencoba istirahat dari entah apa, tersenyum berdasarkan ketidakpedulian.

Kulihat, takdir itu percabangan. kondisi-masa-depan yang pasti dan sudah terdefinisi. Dihamparkan dalam ranting-ranting kemungkinan – yang semuanya sudah pasti -. Dan kita yang menentukan susunannya. Itulah mahkota kita, kemampuan untuk memilih. Menurut atau membangkang, berjuang atau menyerah, terus mencari atau menunggu, bergerak atau digerakkan.

ketika seorang penyair sedang mengupas kata-kata, tak lain, jiwanya lah yang dia kupas. ketika seorang pematung mengukir batu-batu, tak lain jiwanyalah yang dia gurat. Ketika seorang pekerja tengah menyelesaikan pekerjaannya, tak lain, dia sedang menyelesaikan keutuhan dirinya.

Angin yang tanggung seperti tak putus menerpa. Dan pertanyaan usang segera menyergap: “Kapan usai?” Ah, kenapa selalu terburu-buru? hendak kemana kaki itu berlari? sedangkan hidup disusun pada saat ini.

Aku bertanya, apakah kenyataan harus menunggu? Apakah saat ini belum kutemui dia? Akankah dia hanya berlaku pada atau setelah suatu waktu dan suatu kondisi? Ataukah dia telah terdefinisi dengan jelas jauh sebelum kelahiran kita? Dan sedari kita belum ada, lahir, hingga mati, dan lenyap musnah, dia telah berjalan-jalan memenuhi semesta?

Sepertinya tak bisa kita berkata : “Kau belum menghadapi kenyataan yang sesungguuhnya.” Semua orang punya kenyataan masing-masing, tidak terdefinisi dalam satu keyakinan tunggal, baik pribadi maupun jamak. Dan kenyataan selalu sungguh-sungguh. Masa lalu adalah kenyataan yang lewat, saat ini adalah kenyataan yang nyata, masa depan adalah angan-angan.

Dalam beberapa hal, aku akan belajar untuk tidak peduli. Kulemparkan jiwaku ke pantai, bersama Bob Marley. Dan akan terus kucoba menuruti Muhammad kekasih Tuhan.