Sudahlah Subhan…

Teruslah bergerak penuh gairah, seperti grafik pada equalizer yang memutar dance music. Tak perduli ada di atas atau di bawah, tak peduli ada kawan yang pergi dan bertahan. Kau pernah berkata, mimpi tak pernah mati, hanya mungkin terkubur jauh di dalam. Sudahlah jangan bersedih, dan jangan pula goyah.

Suatu malam kau bermimpi, terjatuh dari motor di tanjakan yang diapit pemandian, yang segera motor itu pun hilang dicuri orang, dua orang paruh baya datang menghampiri, menolong membawamu pergi ke sebuah ruang, mimpi itu datang pada saat kejatuhanmu yang pertama di bulan yang lalu. Lalu silih berganti kesempatan datang dan menghilang, silih berganti mulut-mulut yang tulus memompakan darahmu, persis seperti yang kau minta dalam puisi. Seorang ayah, yang terus memacu nyawanya demi kehidupanmu, mengulurkan tangan, menarik tubuh yang hampir jatuh, berdiri, mengajakmu pergi ke suatu mimpi yang ia dan ayahnya bina. “Berjalanlah pada jejakku”, ajaknya. Ya kau adalah pemberontak, tapi rupanya darah yang mengakar kepadanya menarik jiwamu untuk menurut dan menyatakan bakti. Mimpinya berubah menjadi mimpimu sendiri. Kita tidak akan mengungkapkan alasan kepada mereka yang meneriaki bahwa kita lari dari mimpi dan harapan yang dulu, ya, tidak perlu. Karena mereka tidak punya darah yang ini, karena darah kita bukan darah mereka. Sumpahi saja, semoga mereka nanti mengerti, entah dengan cara yang seperti apa.

Sudahlah, jangan risau, perubahan-perubahan mendadak dan begitu singkat yang datang belakangan ini, biarkan saja. Hidup memang penuh dengan hal-hal itu. Ingatlah hari-hari yang kau jalani, ingatlah wajahmu ketika tertawa dan berbicara keras di koridor-koridor kampus, satu-persatu orang kau sapa kau senyumi, sebisa mungkin kau artikan maksud mereka, sebisa mungkin kau lebur bersama mereka, tanpa memperdulikan apakah mereka tahu kegalauan tentang waktu yang merobek-robek hatimu. Kau lihat sendiri bukan, hidup seolah berjalan pada mode fast forward begitu kau jatuh dan menyatakan tidak menyerah. Begitu kau tahu kesalahanmu dan menerima konsekuensinya. Seolah-olah Tuhan menarik kerah baju kita, dan menyeret kita ke depan. Mungkin Dia ingin lihat apakah kaki kita dapat mengimbangi seretan itu dan tidak terseret lagi, atau mungkin Dia ingin mengajarkan cara agar kita tidak terseret. Coba kau pegang dadamu yang mulai memelihara ke-lapang-annya, hargai dia, walau sesekali masih tersendat juga.

Subhan, kau tahu, diam adalah kematian, kau tahu menyerah adalah bunuh diri. Maka sudahlah Subhan, tegarlah, berjuanglah. Jadikan risau itu bahan bakar untuk berlari. Hukum dasar bagi hari esok adalah, buram, tidak kelihatan. Hukum dasar bagi perubahan adalah usaha, perjuangan. Terimalah hukum dasar hari esok, dan jalankan hukum dasar perubahan.

Ayolah Subhan, hidup ini hanya gurauan, kau tahu itu, dan kau senang sekali bersenda gurau. Namamu telah dicatatkan Tuhan dalam sejarah kehidupan, dan sejarahmu sendiri telah dituliskanNya pada masa 120 hari sebelum kau lahir. Nah begitu, tersenyumlah, Ya, ya, tak apa, jangan perdulikan mereka, ya ayo berjalan, lalu berlarilah, masih ada dimensi yang harus kau tembus, masih ada waktu yang harus kau akrabi. Bawa serta ketakutanmu, ia pendorong hidup, penimbul keberanian. (dalam teriakan) Ya, ya, teruslah melaju!

3 thoughts on “Sudahlah Subhan…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

47 − = 45