Category Archives: Puisi Nyenius

Satu Episode Terakhir

“Kenapa kau tak memelukku?”

“Tak bisa, kau harusnya lebih dari sekedar pelukan”

“Aku membutuhkannya”

“Ya, dan mungkin juga dengan sebuah kecupan manis dibibir sebagai pembuka…”

“Itupun aku membutuhkannya”

“… Kau lebih dari sekedar kecupan…”

“Aku menginginkannya, dan aku inginkan itu darimu”

“Kenapa kesepianmu jadi penuh nafsu?”

“Entahlah, dia memperlakukanku begitu, dan aku jadi membutuhkannya, terlebih bila datangnya darimu… atau sekedar usapan di kepala mungkin?”

Tangan si pemuda hampir meraih kepala sang gadis, hingga rasa takut kehilangan melanda hati dan tangannya.

“Tidak bisa juga, usapan itu hanya pintu menuju sentuhan yang lain”

“Inilah aku, orang yang kau cari katamu. Aku pun mencarimu. Aku telah berubah.”

“Maaf sayangku, tapi hati bukanlah besi yang berkarat. Hatiku tetap mencintaimu seperti dulu, dan juga tanganku masih tak berani menyentuhmu (juga seperti dulu). Aku tak peduli berapa lelaki telah menyentuhmu, tapi itu bukan pilihanku terhadapmu. Cukup aku sentuh kau dengan senyum dan hati – setidaknya saat ini -”

“Kau bodoh, aku menderita”

“….”

“Ini mungkin dosa, tapi begini adanya”

“Bukan dosa benar jadi pikiranku. Tapi kesucianmu yang terpatri pada tiap senti tubuh ini, mencegah mereka meluluskan inginmu”

Gadis itu membisu. Diam-diam ia kecewa, hanya angin dan karpet lembut yang diberitahunya.

“…. Akan kubelai kepalamu…”, lelaki memutuskan.

Gadis itu tetap diam, hanya kepalanya bergerak mengharap belai. Tangan lelaki yang gemetar coba meraihnya, tapi tak bisa, tangan itu kembali lagi pada tempatnya.

Gadis itu makin diam. Gusar dan sangsi hanya diberi pada pegangan kursi semata.

“Percayalah, sakit sekali menahan tangan ini dari menyentuhmu, dari sekedar merasakan pasir lembut yang tersasar dipipimu…. Tapi aku tak bisa, itu hanya akan menyamakanmu dengan perempuan-perempuan lainnya.”

“kau mencintai bayangku kalau begitu.”

“Aku mencintaimu, dirimu seutuhnya. Tapi bukan ini perjalanan yag kuinginkan bersamamu.”

“Apa yang kau inginkan itu tak pernah ada. Aku yang kau harapkan telah jadi fatamorgana, tipuan menggiurkan di tengah gurun. Kau, kau yang kudamba begitu lama. Sentuhanmu yang kuharap melebihi sentuhan siapapun yang pernah menyentuhku (yang aku tak pernah benar-benar rela), harus tertepis oleh bayang kosongmu tentang cinta. Kau, aku menjaga wajahku dan semuanya demi kau, agar kau bisa merasakan kelembutanku, dan jemari tanganku (yang bila kau sentuh) akan mengirimkan getaran kerinduan yang telah menjadi kegilaan dalam damba yang sangat akan dirimu…. tapi semuanya terbentur bayangmu tentangku, bukan diriku yang sebenarnya”

“Kau….”

“Sudahlah, lebih baik kita bicarakan tentang mentari yang terbenam ke dalam kebun sore ini”

“….”

“….”

Mereka diam, wajah sesekali bertemu pandang. Sedari tadipun mereka tak bicara, hanya tubuh yang menyampaikan bahasa. Masing-masing tubuh diam kaku diatas bangku yang berdampingan. setelah gelap memagut pori-pori bumi, lelaki itu berpamit.

“Aku sayang padamu”, perempuan itu berkata.

“Begitu juga aku”

Ia menghilang ke arah kebun singkong, berjalan dengan hati meninggalkan gadis itu selamanya, menyadari ia cuma mimpi. Dan si gadispun melepasnya sepenuhnya, ia lelah terus menimang-nimang perasaanya terhadap sang lelaki.

Udara petang beraroma tanah gembur dan perpisahan.

1:52 29/02/2004

Ini Titik Kita

Senyum saja.
kita mati kata waktu jumpa

kalimat-kalimat berlarian cepat
tanpa arah hendak kemana

dari balik pintu bus
kau hilang, sehilang-hilangnya
dari pandangan

biar sekali lagi kita jumpa
setelahnya tutup saja
benang tanpa ujung ini

mau apa lagi?
semua sudah kita lewati
hanya ada kalimat rahasia yang
belum tersampaikan

sudahlah, lupakan saja harapan kosong kita
buang ganjalan dihati
masuki dunia baru

kita harus berenang
dipasir kehidupan ini
jangan tambahi beban lagi

aku bilang ingin jumpa
dan kita berjumpa

“Baik-baiklah kau selalu”

puisi inilah
titik itu.

.2:07 AM 7/22/2003

Ini Harus Selesai

Jangan bertanya sekarang
Kau sudah kuhapus
sudah kubuang

Tapi kau bertanya juga
setelah diammu selama itu

Ternyata kau simpan
jauh di hatimu
perasaan yang membingungkan

Kau bertanya dengan manis
tentang dirimu dan mimpiku
Aku teringat lagi kamu
Aku mencium lagi harummu

Harapmu bicara
Dalam kemurungan penuh ragu

Aku tak mampu jujur sekarang
Telah kubuat banyak dosa
Mereka menjadi jaring
dan menjeratku

Dan kau datang
sebagai tanda tanya
yang selalu ingin kubuka

ruangmu sudah kututup
tapi tak hilang

aku jadi bingung
dimana kesejatian
aku jadi ragu
tentang kebenaran

kau tahu
aku muak dengan urusan ini
tapi memang belum selesai

Kuminta, datanglah suatu waktu
dimana kau dan aku
tak peduli penuh luka
kita harus bicara
tak peduli siapa berdarah
siapa tertawa
tapi jadikan hari itu sebuah titik.
Sebuah penghabisan

Tak peduli luka atau sebaliknya
Ini harus selesai

2:13 AM 6/30/2003

Bayanganku dan Kau Saat Ini

kukira akan datang hujan senyum
tapi tidak

hujan luka dan penderitaan
merambat dari langit tak terduga

kau, datang begitu saja
menghadirkan satu lembaran putih
yang tersobek

aku tersenyum waktu
luka itu kembali
aku tahu ada bahasa yang lari
dari tempatnya

kukira kau akan hadir
dalam bayang mimpi malamku
tapi tidak, bahkan dalam angin pun
bisikmu hilang

aku tak tahu
apa kau menari atau menangis
tapi aku tahu kenapa
bila dua hal itu terjadi

kau selalu hadir
dalam satu lagu yang tak pernah
mau kau dengarkan
dan saat itu, aku
duduk dalam ruang temaram
penuh asap dan angin purba

“jaman berubah,
waktu terus berjalan,
dan semuanya menjadi remeh”
sekali waktu, luka dikaki
sering berkata itu

tapi tidak
kita memang harus bicara
entah sebagai apa
kita harus bertemu
entah untuk apa
ada kado yang belum kuberikan
entah itu apa
tapi hatiku bilang begitu
– kita harus jumpa –

4:16 AM 5/13/03

Puisi yang Pudar

Lewat tinta
sebuah puisi yang pudar
teraba lagi hari-hari keemasan
dan malam-malam yang selalu senja

sudah tertuliskan begini
kita hanya diizinkan untuk merasa
tidak menyentuh dan memiliki

Dekapan yang dirindui
benar-benar tinggal kerinduan

malam dirundung sendu
menghapus air matanya dengan
sapu tangan; selendangmu yang lepas
dan tak pernah teraih lagi

cerita kuno itu
menjadi tempaan keras bagi hati
menumbuhkan, menopang ketika goyah

Begini hidup itu
Kafilah besar yang terus melaju
yang mati dan luka ditinggalkan
dan ia tetap melaju

puisi yang pudar
sisa masa yang mati
kuburkan baik-baik,
lupakan.

2:47 PM 9/20/2003

Mengingatmu, Merepotkan

tidak bisa tidak
pikiran tentangmu memang mengganggu
ketenangan selalu rusak
senja yang terbangun buyar
mencair seperti limun tanpa gizi

wajahmu selalu melahirkan tanya
menghadirkan keraguan yang tak diharapkan
tak kurang dayaku melepas, menghapusmu
tapi sia-sia
kau seperti hama
selalu lahir dan semakin penuh

“apa yang kau mau dariku?”
itu pertanyaan kita berdua

mungkin kita ini bodoh
tertipu oleh kemudaan
dan dunia yang baru terpandang setitik

dalam apa hendak kukubur kau
mungkin itu juga tanyamu suatu ketika

“aku yang kau inginkan?”
itu pertanyaan kita berdua

tapi juga tidak bisa tidak
bayangmu membantuku berjalan
memapahku berdiri dan
menggelorakan pikiran

tapi
kau ya cuma kau
kau hanya kau
sekedar kau
tak lebih dari kau
dan
justeru karena kau
aku sulit melupakan

3:10 AM 4/26/03

Harapan

Setiap langkah kecil
yang kita bisikkan pada angin
penuh cinta

Kita akan jadi anak nakal
meninggalkan ruangan ini
tanpa izin dari angin itu sendiri

kita akan melangkah
kepada sesuatu yang hidup
kita akan membelai bunga-bunga yang terlewati
kita candai mereka hingga cemburu dan kesal

kita telah pulang,
menyingkirkan semua kebohongan
dan kembali menghimpun doa-doa

dalam hitungan tahun-tahun
kita kais rahmat Tuhan
yang tercecer satu-persatu

Dalam tiap senyum yang lepas
kita melewati angin,
membasahi hujan,
membasuh air
dalam wudhu rahasia

kita intip Kitab Penghimpun
dengan cinta

Kita akan segera jumpa
Nanti kita bunuh jarak ini.

3:38 22/12/2003

Persembahan

kerinduan
dan kenyataan yang tersentuh
seperti dua kutub
yang enggan berjumpa

Pada kita
perpisahan menjadi deru nafas
wajah-wajah yang hilang
kecemasan dalam menanti

Ini tentang sejarah,
perasaan, kecemasan, perjalanan
dan kisah kita
yang penuh tikungan

Jelas, ini
buatmu

1 Januari 2003

About Us

From our small window of love
We will see the sun comes up
From the edge f the God’s love

Then,
We’ll force the night
Not to show hos darkful face

And we’ll make the days
Always bright by suns
Anda the night
Always full by stars
Always in God’s blessings
Always together
Always share each other
And avoid the farewell spells

If the trees and grasses
Grown up surely on the ground
So do our love
It’ll be shining brightly from
Our hearts and our prayers

And now
I put my hands in the sky
Surrender
Surrendering
My
Heart
To
You

23/08/99
Toba.

Perih Mendendam

Kesedihan berlompatan riang
sebagai anak kecil tanpa dosa
seperti angin menghembus
aku tak tahu sebabnya

kesedihan tersenyum
waktu kulihat kamu
seperti keringat mengalir
ia tiba-tiba saja ada

aku tak pernah mengundangnya
ia datang ketika
kusebut kamu

kau telah menyatu
dalam nadi yang tak kutahu
letaknya

luka karena kehilanganmu
menjadi bom waktu
setiap saat bisa membunuhku

aku tak bisa menangis
tapi ada sebuah luka yang lebih
menusuk dari balik kulitku
waktu kuingat kamu

kau mungkin takkan pernah tahu
Darah-darah yang tercecer
hanya karena kusebut namamu

12:55 AM 10/16/2003