Category Archives: Puisi Nyenius

Menantang Pagi

Pagi yang membara
ketika kuingat lukaku
pagi tanpa embun dingin
kepalaku membentur batu

Ahh,
matahari yang pengecut
datanglah kau
keluarlah dari tata surya
masukilah kepalaku

Aku mau meledak!

Pagi yang menggelora
aku terbangun dan luka
Kehilangan demi kehilangan datang
menendang-nendang di ulu hati

Pepohonan
daun-daun kering
jatuh dan tumbang di atas kepala

Aku sudah kunyah setiap luka
sudah kukeraskan ototku
demi mengikat tiap kesedihan
dalam peti mati

Hari ini aku akan berhenti
akan kujegal tiap luka
akan kubalut tiap daging yang menganga

Pagi yang membara
pagi tanpa titik embun di ujung daun
kutantang kau!


============
Toba.
Bandung, 15/08/02, 04:50 AM

Bantu Aku

“Love can never be betrayed
the same way as the tree, nor the sea
nor any other mistery
it’s the ayes that betrayed them
it’s the sinner and the saint
it’s the line inside the paint”
“The Million Dollar Hotel”

Aku tahu
kata-kataku mati
terekat di telinga

Aku tergeletak di sini kawan
tanpa seseorang menarikku
dari lumpur yang lengket

aku sendirian di sini kawan
dengan gagap aku hadapi hari-hari
aku gelisah

diriku menjadi samar
tak bulat
seperti kabut
terlihat jelas
tapi tak ada

cari aku kawan
aku mulai tersesat
pangil namaku kawan
karena aku tak ingat siapa aku
seperti apa mencinta
seperti apa nafsu

Keputusanku seperti kilat
dan aku mati setelah mengatakannya

tolong aku kawan
sebelum aku lenyap dari sini

cepatlah keu ke langit
lalu ulurkan tambang dari sana
bantu aku!

Sebelum aku hilang
sebelum aku benar-benar senyap
datanglah ke sini
ke sampingku dan sentuh hidungku
agar aku tahu
kau sudah tiba

=============
Toba
Bandung, 27/08/02, 12:02 PM

Cinta Orang Idiot

LELAKI :

Cinta kita
adalah cinta yang aneh
yang pepohonan pun tak mau mengakuinya

Aku hanya inginkan kamu
dan dunia kecil kita

kata-kata kita yang berbisik
melampaui semua angan-angan
dan segala kenikmatan

Kita akan berlari
bersama dunia kecil kita
dan harapan0harapan kita yan gsederhana

Aku mau mimpi-mimpi itu
Aku tak tahu bahwa aku hidup
sampai kamu muncul dalam hidupku

Aku melihatmu kemarin
kau terasa begitu jauh, begitu tinggi.

Sekarang aku melihatmu didepanku,
memelukmu, kita berbicara denan aneh
aku merasa telah menggapaimu

Tak ada yang peduli
dengan cinta kita yang aneh
dunia dan kehidupan terus berputar
tanpa menghiraukan kita

Gelap dan terang
hitam dan putih
tak pedul pada kita

Kita pun tak perlu
mempedulikan mereka
sebab kita punya dunia kecil kita

Tapi ada yang peduli pada kita,
Hidup.
dengan kepeduliannya
ia ingin memisahkan kita

Aku marah pada hidup
dia hanya peduli pada diri dan segala
skenarionya
Dia tak peuli pada keingnan kita,
pada dunia kecil kita

Dia tak mengerti
bahwa di sini bersamamu
duduk dengan segala kebodohan kita yang manis
adalah seluruh hidupku

Aku hargai seluruh dayamu
untuk melindungi aku dari hidup
– membuatku semakin mencintaimu –
– makin tak ingin meninggalkan dunia kecil kita –

Tapi aku tahu itu tak akan berhasil

Tapi itu adalah
hal termanis yang pernah aku dengar
Hal termanis yang pernah aku dengar

Kemarin,
kukira dunia kecil kita punya hidup sendiri
Hari ini kusadari, dunia kecil kita
berada dalam hidup yang lebih besar

Karenanya aku harus meninggalkanmu
aku harus terus berlari
menjalankan hidup yang lebih besar itu
Aku akan melompat
dan berakhir

WANITA :

Jangan tinggalkan aku
ini dunia kecil kita
Begitu sempurna
sudah cukup bagiku

Jangan rusakkan
jangan pergi

Aku akan menangis
saat kau pergi dan matahari siang menyinari aku
Saat itu aku akan sadar
tak ada yang peduli pada kesedihanku
dan pada dunia kecil kita yang hancur

Aku akan marah
dan tak bisa berbuat apa-apa
– karena kita bukan apa-apa –

Aku akan merindukan
gonggongan kecilmu yang aneh

Jangan bicara
bahwa kau akan pergi
Karena aku akan marah padamu
Katakan itu bohong
dan segera peluk akau sedekap-dekapnya

Suatu hari kau akan menyesalinya
Karena aku akan datang ke kamarmu
dengan seluruh diriku
dan kau tak disana

Biarkan aku mencintaimu
Biarkan aku menyelamatkanmu

Kembalilah
Bersama kebodohan yang hanya cinta
Bersama kebodohan yang hanya cinta

LELAKI :

Tapi ada hidup yang lebih besar

WANITA :

Air mataku akan menitis
dan dia akan kesepian


==========
Toba.
Bandung, 30/09/01

Ballada Humaira, Si Kemerah-merahan

Seorang gadis
dengan cahaya seredup malam
datang depanku

Dengan mata berkaca
Ia muntahkan semua karat
didadanya

Dan demi duka tak terkira
menitiklah air matanya
– jernih dan murni –

Sudahlah! Wahai!
Sudahlah!
Demi langit yang menangis
dan daunan yang berguguran
mana kuat hatiku
melihatmu begitu

Bulan sembunyi lihat dukamu
Beburungan patahkan sayapnya
Demi matamu sembap dan hati yang luka

Apalagi aku!

Dalam sepoi angin menghulu
Dukamu manis nyusup ke kalbu

O, demi hatimu menyuram ungu
Kusadap semua getih dari lukamu
– kau tidak sendiri –

Tenang! Wahai!
Tenangkan hatimu
Curahkan semua air matamu
persetan mereka semua

Seorang gadis
dengan cahaya seredup malam
datang depanku
dan kubisikkan ke matanya
– kau tidak sendiri –


============
Toba.
Bandung, 14- Mei- 1999

Kembalilah Kalian

Hatiku tersayang
biarkan saja, mereka tidak tahu
lepaskanlah kutukmu,
malu terdengar Tuhan

Bersihkan jendelamu
sudah kusam rupanya
aku tak mau menjadi buta
dan kehilangan cahaya-Nya

Badanku yang lapuk
Waktu rasa takut menggigilkanmu
Ada baiknya kita terus melaju
Karena ia tak mungkin kita hilangkan
sedang langkah adalah lambang kehidupan

Mataku yang bodoh
hentikanlah melahap buah dada mereka
uratmu sudah terlalu lelah
sekarang kita butuh lebih dari sekedar buah dada
tapi kita juga perlu hati yang mencintai

Lidahku yang licin
Berkatalah yang baik
Semaikanlah bunga di hati tetangga kita
dan tegaskanlah batas fakta dan fiksi

Jiwaku,
Jiwaku yang terus berkelana
ke dalam seribu warna lembah
pulanglah nak

Tubuh ini telah lama kosong
Jasad ini hanya menagih jasad kembali
dan kau semakin jauh dari pendampingmu

Pulanglah,
agar urat ini kembali menghijau
dan penuh kehidupan

Pulanglah,
agar jalan kita yang membayang
menjadi jembatan lurus menuju kesejatian

Jiwaku, pulanglah
karena kita akan kembali
mencangkul sawah ini
dari petak yang paling mula

06/10/04

Buat Lukamu

Buat kawanku F****

dari sana rupanya
luka itu bermula
pada wajah kemayu penuh senyum
dan jalan gontai seorang dara

angin yang diperkosa waktu
mengantarkankannya ke sudut hatimu

tuk!
dititikkannya sebilah luka

dari sini rupanya tangismu berasal
noda hitam yang melegamkan kemudaanmu

berusaha berulang kali
membangun benteng tinggi dan kuat
tapi selalu luruh pada akhirnya

berusaha pada tiap waktu
menghadirkan tameng terkokoh
tapi justeru kau jatuh bersamanya

bersabarlah.
Paulo Cuelho bilang:
“Berdamailah dengan hatimu”

Kenalilah,
ia luka, dan tetap namanya luka
ia tamumu saat ini
jangan kau banting pintu ke depan mukanya
karena ia akan datang lewat jendela, langit-langit,
bahkan dari lantaimu
sampai dia mengepung relung jiwamu
hingga kau sesak dan pingsan

bukakan pintu itu
dia hanya ingin menyampaikan
sepucuk surat dari hidup,
yang akan diletakkannya di ruang tamu
lantas pergi dari pintu yang tak kau ketahui

Tapi aku senang melihat deru-mu
kegagahan kecil yang lahir dari amarah merah

– kepada dia yang meninggalkanmu serta-merta –

kokok ayam jantan yang kehilangan cinta
antara parau kesedihan dan kebaikan mentari pagi
jangan lupa, itu fantastis!
itulah kau saat ini

06/10/04

4 Malam di Tengah Sya’ban

Malam 1. Sabtu, dini hari.

Malam terang
Bulan putih bergelung
dibalik mendung

Setalah mengamuk
Halilintar terduduk tenang
mengatur nafas

Malam tenang
semuanya memutih begitu datar

Cahaya-cahaya putih tipis
Menyelimutiku
Memelukku
Menenangkanku

Sesekali aku meraung
Ada binatang bersarang dalamku
begitu kental menyeringai

– cahaya-cahaya putih tipis terus bersinar –

Mengingatmu
Gadis bunga merah jambu
Mengingat dosaku
Jatuh aku

Pertemuan tempo waktu
Adalah pertemuan bunga binatang
Yang satu menggeliat buas
Yang lain anggun merekah

Malam tenang
Bulan dan bintang pergi cuti
Sebab ini malam Sya’ban yang suci
Aku rasa entah hidup entah mati

Waktu terus bergulir
Pagi menjelang, Nishfu Sya’ban hendak pergi
Belum kusapa ia
Aku tergantung dalam celaka

– kelembutan cahaya tipis yang manis menemaniku –

Bagaimana aku
harus bertemu bungaku
Aku rasa tak pantas
Aku rasa malu

Aku tunggu kamu
Tak datang juga
Aku butuh kamu

Terduduk bersama mendung
Akumerindukanmu
Terduduk bersama mendung
Aku berdosa padamu

– cahaya tipis datang menenangkan –

Sesekali noda hitam itu
Mencuat ke atas jidat
AKu menjadi begitu marah
Sesal dan jijik menari

Siang. Sabtu, tengah hari.

Siang begitu tenang
Hari tengah puasa
Sepenggalah lagi raja hari di atas kepala
Aku terbangun dengan ludah
mengental di tenggorok

Maam tadi aku bermimpi
Aku di dikte oleh malaikat
Aku diajar tenang
“Dalam tenang ada cahaya,
emosi menunduk pergi”

Aku bangun dan terpana
teringat kamu bungaku
sudah siang rupanya
malam Sya’ban lewat tanpa kusapa

Aku lapar akan wajahmu
Tapi teringat dosaku
Aku diam

Akhirnya aku bunuh diri juga
Si Keparat itu pisaunya
Nafsu

Nafasku bersesakkan
Aku kacau
Tapi hari yang puasa
Aturkan semuanya

Semuanya,
membuatku takut dan rindu
kepada mati

Sabtu, magrib

Di luar
Hujan berlarian dnegan tangkas
Langit mendung tentu
Dan guntur terbahak bersama angin

– Langit tengah pesta rupanya –

Kutengadah ke atas
Kurasa air bersijingkat lincah
diwajahku

Aku basah
Kutertawakan segalamendung
Mereka temanku
Kutertawa bersama katak

Aku orang lupa yang ingat
Aku orang mungkir yang menyebut

Aku tengadah ke atas
AKu basah

Sudah dua kali kupanggil bungaku
kau tak ada
Sudah pula kau cari aku
Aku tengah gila

Aku rasa tak mampu memandangmu
Ku ingin kau lihat aku

Kata-katamu tempi hari
Menusuk hati

Aku tidak sakit
aku sadar.

– Saat itu semua setan menertawaiku –

Aku tahu kamu
aku rasa hatimu
tapi aku malu
kutunjukkan kegilaanku depanmu

– itu bukan untukmu –

maafkan aku

Siapa tahu sesalku
siapa tahu sesakku
Aku mual

Bila ingat itu
Segera kupecahkan dengan
gelengan kepala

Di luar
Hujan berlarian dengan tangkas
Bumi dan langit menari
Tarian gaib yang padukan luka dalam pesta

– megahnya –

Aku tertawa
Kini asap dan langit tempatku bersenda
Kupeluk mereka dan menangis
“Terima kasih telah menghiburku”

– mereka terus berpesta –

Aku tergila-gila pada luka
Dalam mereka ada kata dewasa

Kamu bungaku
Maafkan aku
Seharian aku sibuk dnegan sesakku
Aku rasa tak mampu bertemu

Aku bingung dengan kata-katamu
yang ada pada diriku

– Aku tidak salahkan kamu –

Entah kau dimana
Tapi coba kau lihat langit dan bumi saat ini
Dua kekasih lama yang terus ciptakan keselarasan

Merekalah yang menghiburku sekarang
Mereka adakan seminar kilat
tentang cinta
Seminar akbar
Seminar cinta yang megah di alam raya

Pada mendung
Pelajaran luka
Pada hujan
pelajaran kasih
Pada petir
pelajaran maut
Padasemuanya
kutemukan seorang kawan

Aku lemas
Lelah tidak

DI luar
Hujan berlarian dengan tangkas
Mereda
Pesta hampir usai

Malam 2. Sabtu, tengah malam.

Malam di tengah orkestrasi gerimis
Begitu tenang
Aku tidak berpikir tentang dosa
Hampirtidak berpikir apa-apa

Seekorkumbang
Terjebakdalam kamar
Tertarik cahaya bohlam
Terpenjaralah ia

Aku juga
Sedang kucari kuncinya

Aku bertanya pada Tuhan
tentang memenjarakan hewan
yang dilahirkan bersamaku

Ia begitu licik
Berlari menyelinap kesana kemari
Seekor hewan yang begitu tua
dan aku yang begitu muda

Aku terkecoh
Tergelincir sampi ingin mati
dan iapergi sambil ngikik dalam hati

Lima puluh kali kutangkap ia
Seribu kali aku dikibuli

Aku bertanya pada Tuhan saat hujan
Aku minta tolong tangkapkan

Tuhan selalu menjawab
Tuhan selalu menolong
Hanya aku tetap keparat

Malam ditengah orkestrasi gerimis
BEgitu syahdu
Aku ditemani musik sikafir
Aku coba senang saja

Aku maju-mundur menghadapimu bungaku
Antara ingin dan tak mampu
Antara butuh dan galauku

Aku menunggumu
Tapi tak kunjung juga

Seekor kumbang
terjebak dalam kamar
Lelah ia
Merayaplah pada kakinya

Aku membayangkanmu
Orang semanis kamu
mau padaku
Hebat kupikir

Terlalu banyak kompromi terjadi
AKu menjadi takut
Aku seperti mesin perusak besar

Kupesankan hati-hati

Sering kuminta tolong-Nya
datang selalu
ku hianati selalu

Dibakarkan-Nya sebatang korek
dan kemudian kutiup kembali

– kupesankan hati-hati denganku –

Tak jarang kutemani setan
yang selalu berusahamembunuhku

Tempo hari
setanku tampak padamu
Kau tak layak dapatkan itu

Ini sulit bagiku
Tapi kejadian itu dan kata-katamu
BEgitu membekas biru

Aku harus sadar
Bila bukan untukku
Maka itu untukmu

Aku berani dan takut kehilangan
Makin banyak kenangan
Makin menakutkan dan menyakitkan

Aku gelisah
Agar kau tidak
Aku ingin ditemani

Malam hening
orkestra selesai
Tinggal kucuran-kucuran
sisa tampungan hujan bernyanyi

Si kafir masih terus bernyanyi
Dan aku terus coba senangsaja

Besok tak pasti
Aku coba tenang saja

Seharian tadi aku tertawa
dengar kisah orang-orang
coba hilangkan jijik padaku

Seekor kumbang
terjebak dalam kamar
kini kemanaia

Kurasa ia tahu
ada hewan dalamku

Bila ingat dia
aku ingin mati
aku tak ingin mati

Si Chairil gila itu salah
Dia bilang, “Hidup hanya menunda kekalahan”
Hidup adalah mencari kemenangan
atas hewan gila itu

Ia begitu tua
dan aku begitu muda

Malam 3. Minggu, malam.

Malam datang
Hujan tumpah lagi
sepertinya bumi berpeluh
karena berdansa tiap hari
langit juga

Hujan deras menderu
Meatari jalannya waktu
yang sarat kejadian

Kulihat diriku
Memadamkan beberapa api
Dengan senyum Tuhan bantu
Berhasil!

Semua padam
Semua menyala lagi

Tapi apiku
siapa padamkan ia
Akumenjai pecundang
baginya

Kenapa begitu bodoh?
Kenapa begitu bebal?

Jangkrik puasa
Tak bernyanyi
Sarangnya tertimpa hujan

Aku seperti dokter
yang tak bisa sembuhkan
bisul di pantat sendiri

sebodoh itukah aku?
Sebebal itukah aku?

Hujan mulai lagi
awan dan petir
konser begitu gayanya

Aaha temanku datang lagi
tadi pala’ku dibelainya
Amboi begitu sayangnya ia

Mengapa aku bercumbu dengan hujan
Aku kehilangan alasan
mungkin karena dia seorang teman

Bungaku
Bungaku
Aku butuh kamu
Aku butuh kamu
tapi aku bingung

Malam 4. Senin, setelah Isya.

Malam berganti
Siang berganti
Tapi samajuga
Bulan dan bintang masih cuti
Akupun masih duduk-tidur di sini

Jangkrik betina lelah
Enggan menarik perhatianjantannya

Malam ini
Aku rasa siap
Aku dan kamu
Kita bermuka-muka
Kita bicara

Nanti jangan diam
Aku ingin dengar rajutan sutra
dari hatimu

Aku dapat kawan baru
kamarku
Mereka tidak menuding
Mereka mau menerimaku
Kamu?

Malam ini
Aku rasa siap
Kutertarawai jangkrik betina
yang enggan bicara dengan jantannya

Mendung tertawa
Lihat aku lulus dari workshop-nya

Langit hening
berikan sebuah senyum penghargaan

Kamarku sepi
Tak ada nyawa selainku
dan aku rasa siap

Mataku lelah
Aku tak mau gila
Aku masih punya Tuhan

ku senang semuanya berjalan
dinamis
AKu benci kamu diam

Ternyata sejelek-jeleknya aku
Tak ada aku lain
AKu hanya satu
Aku adalah cinta TUhan

Lihat! Asap-asap menggelembung
Berputar-putar menari berjinjit
Begitu genit!
Mereka rayakan sadarku
Mereka rayakan siapku

– mereka jamu aku –

Kulihat marah dan cinta
berdiri tegak rata
Sungguh cinta dasar segalanya!

Kemarin ingin kubuang mulutku
Bagai ular yang ingin buang taringnya
Kurasa mulutku penuh busa
Dia itu celaka!

Kini aku menulis dengan tenang
AKu berasa siap
Walau tetap bingung juga

Melihatmua terdiam biru
Kulepas egoku
Aku masih bingung

Kutinggalkan kasur lamaku
DIsitu mimpiku tak tentu
Bagi hantu!

Lihat kasur baruku
Nyaman, tenang
dan aku tahu mimpiku

Aku bosan menjadi orang bodoh
Melecehkan diri sendiri
sampai ingin mati
lupaka aku hanya satu
dan hidup hanya sekali

Aku masih punya mimpi
Hidup bersama kecintaanku
Dan melihat aku-aku kecil berlarian


===============
Sabtu, 11 Nov 2000 (malam nishfu sya’ban) – Senin, 13 Nov 2000

Tentang Seorang Gadis

Air beriak-riak
Hujan memantau-mantau
Seorang gadis berlompatan
berkejaran dengan hujan

Dalam diam yang senyum
Dia sodorkan dua kerat taman bungan
dan sepotong kata
“Sorry, cuma ini”

Lantas dia lompat dan pergi
belum sempat aku tersadar
dia sudah tembak aku bertubi-tubi
kukutuk kesadaran yang terlambat

angin berbisik dari lompatannya
megipasi bibirku yang tersenyum

Ihh!
Kutangkap nanti
Dan kau kubuat mati

Toba 2000
=====================
Revised on 23 sept 2004

Sejurus Mandang Lautan

sejurus mandang lautan
menengok luka yang tersisa
satu-dua uratnya masih berdenyut malu

Tak usah lambaikan tangan
tak usah ucapkan pisah
pandangi ia makin hanyut ke tengah
jauh dari dada kita

di pantai ini
kita hanyalah pelancong
yang mengagumi paduan
matahari sore dan keindahan luka

pelesiran ini jadi rutin
karena kita butuh romantisme
kita butuh menyerap keindahan tangis dan ratap
agar penyesalan malu

sejurus mandang lautan
wajahmu dan harap yang menggantung
terbingkai jelas berlumur matahari senja

================
18 Sept 2004