Category Archives: Puisi Nyenius

Masih Kita Coba

Masih kita coba
senyum itu
memecahkan keheningan
yang merentang
antara purnama-purnama

Masih kita coba
pandang itu
Bahasa yang bicara
melebihi sejuta surat-surat

Pundi-pundi kerinduan
Tumpah sejenak
Lantas berpura-pura kembali,
setelahnya, kita bunuh dalam-dalam

Masih kita coba
kata-kata itu
menyampaikan
yang tak tersampaikan
dari masa yang lewat

Setelah semua usaha itu
kita kembali pada kesadaran sebelumnya
kita telah pilih
jalan yang beda

23/11/0200:22 am

Ruangmu

kutepuk dada yang sakit
berat

kumuntahkan masa lalu-masa lalu
waktu-waktu bersamamu
waktu-waktu aku memandangmu

berat

ada luka yang berpijar
ada jendela yang terbuka lagi
ada gelora yang membakar lagi

tapi lelaki ini akan tersenyum
memanggil namamu dengan
satu lambaian tangan
lalu kuringkas semua masa lalu
dalam satu tarikan nafas

ia masih merindukanmu
menggambar wajahmu masih
pada langit yang kupandangi

kesadaran yang terlambat
datang tepat di jidat:
ruangmu belum tertutup juga.

11:44 02/02/03

Dalam Rindu Ini

aku harus bergulat
dengan rindu ini
melesak-lesak inginkan kau

Dalam gelap malam
dalam sepi langkah
ku sitirkan namamu perlahan
kunyanyikan lagu kepulangan

aku jatuh gandrung padamu
terlena
merindukan tawamu
merindukan sujud bersamamu

kita harus bergulat
dengan rindu ini
dan bersanding dengan waktu

kuharap sangat
jiwa kita benar bersatu
dalam Kitab Agung
sehingga karat dan mati
tak menyentuh hati

Jarak mengekalkan rindu
Tanahmu menjadi tanahku
langitmu menjadi langitku
kurindu kau sangat

dalam rindu ini
kita sama menanti

21:21 18/09/2003

Sebuah Pesan Enggan Jumpa

Sampai kau menangis
malam itu
kau lipat awan
dalam api

Marah
Lelah menahan hati yang berat
Di atas tembikar rapuh

Aku hanya mampu menatapmu
kupaksa tanganku melipat
kubalut dengan gelap
aku merasa lemah seketika

Dari jendela itu
Kesombongan langit mengangkangimu
Diam dalam bijak
Membiarkanmu menangis
Demi pedih menggurat jelas di dahi

Aku merasa lemah
aku ingin pergi dari jendela ini
menuju dunia yang tanpamu

Sudahlah,
ini kutulis pesan di pintu:
“Jangan menangis
Luka itu bukan siapa-siapa,
Ia saudara kita.
Selamat tinggal.”

1:37 PM 7/8/2003

Lagi-lagi Kita

mulut terkatup
cukup
sudah
usai

tangis menjadi
matahari sore
kejadian-kejadian memasuki
usia senja

sudah
cukup
usai

kamu impianku
benar-benar impian
terlalu rapuh kugenggam

kamu hilang
jarak memecah
wajah-wajah retak di atas kertas,
puisi-puisi, dan surat-surat lama

cukup
sudah
usai
kita selalu berkata

tetapi setelah musim-musim
berganti baju
setelah langit berganti wajah
tetap ada yang tak terpatahkan

hati kita beku
hidup dalam kabut
tersasar
dan lagi-lagi
kamu
aku

3:08 19/12/02

Kukirimkan Tidak

parah betul
kalau kuucap dua-tiga kalimat
dan semuanya selesai

kau menjadi penuh harap
sedangkan aku
sudah tak mungkin mengabulkannya

mungkin aku salah
masih bicarakan bahasa lama
kini aku gagap dalam memenggalnya

aku bukan Tuhan, ya.
bukan penentu jalan-jalan
yang rumit ini
tapi aku punya mandat mengatakan
tidak

entahlah, kelihatannya bodoh sekali
setelah lama merindu, kini ingin kutinggalkan
sama sekali

maafkan aku
sedalam-dalamnya

sekarang
ketika daun tua meregang nyawanya
kukirimkan padamu
“Tidak”

11:33 PM 9/5/2003

Luka yang Kau Tinggalkan di Puncak Bukit

aku tak pernah mengerti
kenapa kau lari
kenapa kau tinggalkan aku di tengah segalanya

sekarang hilang mukamu
hanya ada suara-suara
yang memanggilku
dari tembok-tembok berlumut

kau
begitu saja lari
meninggalkan aku
tanpa menoleh, tanpa membuka bibirmu
dan berkata sesuatu

semuanya kacau hancur
aku terpuruk
bemar-benar dalam
memanggil-manggili kamu
tak kudapat jawab apapun
tidak sebuah suarapun

kemana kamu?
dimana kamu?
tidakkah kau lihat aku
tidakkah kau lihat aku tersuruk
mencakari sumur dalam yang kau sisakan

aku terbentur batu
dan kau tak disini
tanpamu
tanpa suaramu
tanpa wajahmu

hey!
aku sedang dipuncak
aku terus bicara, meracau
dan kutengok kau sudah tidak ada

aku tertusuk duri hijau
lukanya bulat kecil dengan setetes
darah manis

seperti matamu
yang menangis di balik hijab
seperti aku yang mencarimu dan gagal

sekarang aku hilang akal
tunjukkan dirimu
tunjukkan dirimu

3:40 AM 7/5/2003

Puisi Buat Ibu

Ibu
Saat kau terduduk
dalam lelah yang sangat
aku khawatir
aku rasakan salah bergumpal-gumpal

Ibu
saat kau menasehatiku
aku mengerti
Aku paham semua harapanmu

Ibu
saat melihatmu menangis
Aku hancur
Saat melihatmu sakit
Aku hancur

-aku tak kuat-
Karena air matamu
adalah butiran-butiran kristal
dari lelahnmya sebuah perjuangan
disitu tercetak dosaku

Karena sakitmu
adalah tumpukan beban-beban
yang kau bawa
disitu pula tercetak dosaku

Melihat itu semua
aku bisa apa?

-aku tak kuat-

aku rasakan salah amat sangat

Rasanya percuma
aku pergi mengejar cita-cita
Kalau ibu lelah dan sakit
aku diam saja

-aku rasakan salah amat sangat-

Satu hal yang menenangkanku
akan dirimu Bu’

Pada saat kau duduk kelelahan
memandangi anakmu
dengan kebahagiaan
Kurasa malaikat di langit
melimpahkan shalawatnya kepadamu
dan Tuhan berikan senyuman rahmat-Nya
khusus untukmu

10/09/00
22:00
Toba.

Anggun

Kalau bukan keanggunanmu
ini pasti mentari paagi

Kalau bukan
bening matamu
Ini pasti kelok sungai
di bawah senja

Kamu datang
mengerjapkan mataku
pada hijau Burangrang

Kalau bukan
senyummu
Ini pasti permadani
hutan Kalimantan

Sumur tenang yang dalam
kau menarikku tanpa bicara
dan menyadarkanku
setelah aku jauh didalam
tanpa mampu keluar begitu saja

aku pasrah
hilang arah
dan terus ke dalammu

23/22/2002
00:12 am

Alam Damai dan Kamu

mendung berdendang manja
saat aku lewat di bawah langit tua
kau dan segala masa lalu kita
tiba-tiba hadir bersesakkan

kedamaian ini,
seperti aku dalam pelukmu
kenyamanan ini,
seperti ketika kau memandangku

kau turun sebagai
lembut rintik hujan
yang menetes anggun
dan merenggut segala penat

langit yang bergelung kelabu
meniupkan kesejukanmu
membawa kembali masa tiga tahun
kebelakang

aku berbincang dengan hawa dingin
tersenyum dengan angin basah
tak habisnya bicarakan kamu

berjalan di bawah langit dingin ini
melaju dengan kesadaran ototku
yang terasa perih terkena kamu
aku butuh lebih dari sekedar jaket,
kamu lebih menusuk dari angin

kehilangan seperti ini
melumatkan isi kepala
kehilangan begini
seperti angka nol di angkasa

besar dan tak ampun menyerangku
ini rindu yang parah dan akut
menyergap jantung,
menyekat pembuluh darahku

aku haus
kelaparan akan kamu
semakin aku bertualang
semakin aku haus
dan merasa bodoh
karena tahu, kau yang kubutuhkan

1:26 AM 7/7/2003