Category Archives: Puisi Nyenius

Ya Sudah (Penghabisan Ini)

Ya sudah saja
Ini titik dari kalimat kita

Bunga tidak tumbuh di batu
Begitu pula hantu tidak bergentayangan di masjid

Ya sudah saja
Detik ini hanya peresmian
Hati kita sudah mati dari kemarin

Angin telah mencurinya
Ditambah pula kebodohanku yang tak berujung

Aku berat mengatakannya
Tapi ini titik dari kalimat kita

Mata siapa yang sembap
nanti kita segera tahu
tapi itu bukan prinsip

Setelah puisi ini abis
Rasakanlah olehmu kebebasan
dan satu rantai yang karat telah pecah

Ya sudah saja
Ini titik dari puisi singkat kita
Ini kata mati dari hidup yangkau tak suka

Ah, hari sudah larut
bulan turun
aku sudah mati
Sejarah kemerraan ditutup disini

amu nanti tegar saja
aku minta maaf

Gelap jalan, jangan limbung
tetaplah jadi kedamaian
dan jangan lagi cari bangsat sepertiku

Eh, malam makin larut
Sudah waktunya kau jalan lagi
Sudah waktunya aku jalan lagi
kembali mehyingkap kegelapan esok
entah dengan berlari atau terseok

Ya sudah saja
Ini titik dari kalimat kita
Ini titik kita buat semua tanda kutip itu

Tuesday, November 06, 2001
16:05

Rindu Kecil

aku enggan
mengucap rindu yang mendendam
takut hilang terbawa angin

tak ada yang bisa dipercaya
malam ini
kerinduan makin
kental setiap kusebut kamu

kamu adalah kopi
yang mendebarkan jantungku
mengikat lidah, dan mematikannya
dalam senyum tak jelas

ingin jumpa
tapi tak sekejap
hiruplah aku dalam-dalam
izinkan rindu ini
istirahat dirumahnya

12:33 AM 8/7/2003

Kamu

dalam sujud
kubuat gambarmu
kukirim langsung pada-Nya

Memintamu dari-Nya
mengirimkan sinyal harapan ke jagat raya
menanti jawab dalam tunduk

dan kau datang
seperti mimpi
tersenyum, dengan tenang
duduk disampingku

separuh dari jawaban
itu telah datang
bersama langkah, senyum,
dan manjamu

aku bangun
dan sujud,
tersenyum

12:58 AM 8/14/2003

Maaf, Aku Harus Pergi

Bila sinar itu telah
padam dari matamu
maaf aku harus pergi

masih ada beberapa
karang yang harus
kupecahkan

Kamu butuh kepastian?
tanyakan pada hatimu yang gemetar

-aku tak suka mengecup bibir yang dingin-

menara kita telah runtuh
dan maaf aku harus pergi

ternyata begini akhirnya
hatiku masih kukuh,
tapi bila kau tidak
maaf aku harus pergi

Aku tak mau bertahan
menjadi pemaksa
aku tak mau jalan berdampingan
dengan hati yang tak jelas arahnya

Semua yang kau bilang untukku
sekarang tidak lagi
semuanya menjadi kapas
dan menguap ke langit

mimpi-mimpi kita sudah jadi abu
pilih jalanmu, ke utara atau selatan
lontarkan salam dan seutas senyum
lalu kita berpisah di simpangan ini

semuanya sudah berubah
jangan berpura-pura.
maaf aku harus pergi

Aku harus membereskan koperku
yang terjatuh
dan terus berjalan

Sunday, June 02, 2002
3:11:06 Am

Mimpi Abadi

Mimpi itu seperti parasit
mendekam dikepala
tak mau pergi
biar tahun-tahun sudah memakannya

setiap saat ia seperti tak ada
tapi selalu pada satu waktu
ia memanggilmu seperti orang gila
berteriak-teriak tak henti
berbicara lebih cepat dari detak jantung

impian itu tak mau terhapus juga
biar waktu sudah menguburnya
selalu ada nabi yang datang
menyerunya untuk bangkit

sudahlah lupakan saja
biarkan dia tidur
biarkan dia tenang
dan damaikan hidupmu

“apa ini? bising sekali!
lebih cepat dari jantungku!”

“Dia datang lagi?”

Tak ada mimpi yang mati
tak ada harapan yang pudar
kau hanya mengembunyikannya
tidak membunuhnya

dan kau tidak berhak membunuhnya
dia adalah bawaan tulus semenjak kau lahir
dia adalah kemurnian jiwamu
kau takkan pernah bisa membunuhnya

2:49 PM 7/5/2003

Mengejarmu

kepekatan malam
dalam bayang wajahmu
mengugurkan daunan ditangkal jambu

dari awal aku sudah mencarimu
dalam perjalanan ke bukit
yang kudaki dengan luka
terpuruk dikakimu dan terus berusaha
bangkit
coba meraih ujung
kerudungmu dengan
sisa tenaga

pada akhirnya

2:36 AM 11/4/02

Hey

hey
benarkah kau menungguku
seperti seorang dara di komik silat

hey aku cuma seorang keparat
baru kemarin jadi pengecut
lupa bahwa dirinya anak laki

hati-hati
jangan bermain dengan cinta
ia api
ia naga
nanti kau tertelan

tapi apakah arti cinta
bagi pemuda seusia kita

puisiku sering berbicara cinta
tapi bagiku saja
masih tipis batasnya dengan ego
dan keinginanku belaka

hehehe
aku berbicara tentang cinta?

sejujurnya
aku masih bingung di mana letak hati
aku seorang anak laki
yang baru hapal teori-teori

hey
hey
sadarlah
kau dara yang hijau
jangan tertipu olehku
atau oleh siapapun juga

kita sering terlarut dalam perasaan saja
lupa tugas sebenarnya

sudahlah kita menari
yang ringan-ringan saja
dan bekerja sekeras-kerasnya

Lelaki Kecil

kata-kata itu menusukmu?

maafkan aku
pergulatan ini bagai tak bertepi
aku harus menyudahinya
aku harus memungut sebuah daun;
hidup atau mati

aku masih menginginkanmu
itu jelas,
tapi juga samar

-itu keserakahanku-
-itu keraguanku-

aku masih ingin bertualang
tulang belakangku masih tegap
keputusan bukan sahabatku sekarang

kau juga berjalanlah
tapi jangan hilang senyummu
jangan tak menoleh padaku
aku tak ingin kau hilang begitu saja

ah, tak mungkin ya
kaupun harus memilih
kaupun harus berjalan
dan bertemu dunia-dunia

tapi

kata-kata itu menusukmu?

jawablah,
atau tak perlu?
tapi jangan diam
tersenyumlah atau marahlah

kau simpan aku dalam kotak itu?
cukup?!

dalam rupanya
sumur yang tergali oleh bahasaku
hingga kau tercekat
dan menceburkan aku kedalamnya

“diam, kau sudah putuskan”
teriakmu dari atas sana.

3:18 AM 4/25/03

Kau Selalu Datang

Tiba-tiba saja kau datang dalam hujan mengetuk hatiku dengan semena-mena dan pergi dalam petir yang menyambar. aku tangkap wajahmu, jangan pergi! sesaat seperti ini selama beberapa jam lagi akan memuaikan hatiku. aku tangkap tubuhmu! Jangan berlalu tak ingin waktu ini menjadi waktu itu nanti. Kau selalu datang di awal Ramadhan, di saat hujan menitik, di saat mendung tersenyum, dan selalu pergi begitu saja. Selama beberapa cangkir kopi dan berbatang-batang kretek kau menemaniku, tapi kau selalu meninggalkanku dalam lama yang tak tentu. Aku bosan mengungkapkanmu dalam kata; seperti. Aku ingin kau seutuhnya menjadi, aku ingin kau sebulat-bulatnya. Aku merindukan matahari yang telah kau mandulkan itu, saat kau datang, sebagai peri bergaun cokelat lembut menyapu langit. AKu merindukan dedaunan yang kau tundukkan, juga setiap kali kau datang. Perasaan kehilangan seperti ini menghadirkan kekosongan yang sangat. Kau selalu meruntuhkan bunga-bunga, kau memaksaku menghirup awan kosong.

Ketidaktetapan yang Bodoh

semuanya berputaran cepat
begitu

kau yang bergelayut manja
minuman kaleng yang berjajar rapih
senyummu merangkul pikiranku

semuanya begitu cepat
berputaran bagai roda emas
aku takut
itu adalah sebuah dosa

kau menjadi terlarang
perasaan ini di luar batas
dan aku terkatung

memang bodoh berkata mencintaimu
karena tak juga aku berketetapan
pantai mana hendak dilabuhi
laut mana hendak kulayari

jangan memandangku begitu
bilakah padam api ini jadinya

“kenapa kau mencariku sekarang?”
kau berkata

aku tidak mencarimu
hanya kaki ini menghantarku ke sana
lewat gambar-gambar yang hadir kembali
lewat suara-suara yang mendekat lagi

aku berjuang
melawan suaramu
tapi tetap kakiku merayap
ke arahmu

“bukan salahmu”
kutegaskan

hanya aku tak bisa bersabar
tertipu tiap dentum sesaat
dan jatuh pada ledakan kedua
selalu jatuh, terkubur

“kau adalah kerbau”
katamu

ya aku adalah kerbau
aku adalah kebodohan
ajarilah aku

“kau buta”

dan kaupun pergi
dalam lambai berbisik
“benarkah kau mencintaiku?”

3:05 AM 4/25/03