Category Archives: Puisi Nyenius

Pagi Bicara Tentangmu

Aku terharu
mendengar pagi ini
bicara tentang kamu

dalam udara membelai
senyummu menghampiri
pagi ini bertuliskan namamu

angin bermain seruling
lewat aromamu yang dibawanya

aku terharu ketika
pagi hari bercerita
tentang kamu
dia bawakan matamu yang menatap tajam

angin ini mengusir kesepian
angin ini mengandung kamu
menyegarkan, memompa debar hidupku
agar terus

aku terharu
menghirup pagi yang beraroma kamu

Dia mengantarkan kamu
agar kita bersama menikmati
hijaunya daun di pinggir kali

12:44 AM 8/14/2003

Rindu Dalam Hujan

Langit basah
Hujan melahirkan air-air
Aku diam kandas dalam rindu

Seperti kau bilang
‘Saat batin kita bersatu’
ya akupun tak bisa lupa

pundakku selalu bergerak;
gelisah

rindu ini mencekik kerah baju
padahal baru tadi kita bertemu

langit basah
hujan turun melahirkan air-air
aku diguyur bayangmu

“malam ini dingin
sudahkah kau pakai selimut?
Awas nanti masuk angin”

bumi basah
langit menyitir syair-syair perayaan
semesta bercinta

tapi kita?
Ah jauh rupanya, kau dan aku
Cuma diam dibebat rindu

jangan takut,
Besok aku datang
Akan kubalas semua rindu
Akan kubayar tanpa ragu

Langit basah
Bumi basah
Kau dan aku
legam diguyur cinta

28/1/02 11:58:42 PM

revised on : 2:03 PM 10/3/03
and 12:21 AM 10/6/03

Kau Milikku

Tak ada lagi
hembusan angin
selembut nafasmu
dalam kesepian rutinku

Tak bisa membunuh kamu
dalam cemburuku
kamu milikku
punyaku

Dedaunan talas di sawah sudah mekar
Biar nanti kita minum air hujan tadahannya
Kemudian saling bertukar rindu
dalam tatap dan kelembutan bibirmu

Aku sudah merancang bulan dan hari
tapi rusak karena takut
aku lari lagi
tinggalkan
semua yang sudah
kutulis rapi dalam hari-hari

Hancur
lalu aku tak berani
menatapmu, lagi-lagi takut
seperti kerbau besar menanduki hatiku

Kamu
Dewiku
Aku karam terbentur
pandangmu yang seperti
kapas-kaps emas yang manis

Aku sungguh retak
ragu menatapmu
ragu mengucap kata-kata
ngeri kau muak dan pergi

bajingan ini tak bisa membunuhmu
dalam cemburuku
kau milikku
punyaku

3:47 30/04/2002

Serpihan

"dari sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun"

Makin sepi saja
gambar itu.
tanpa kata-kata

kisah yang tersobek
keinginan yang terbunuh
gambar yang terbelah
hijau gunung yang hilang
akhir yang tak diharapkan

Hati yang tersisa
menggantung dilangit-langit kamar
Harus mati
Harus dibunuh

Makin sepi saja
gambar itu
dua orang di kamar gelap
terbelah
pisah
sampai akhirnya
lenyap

27/11/02

Langit Pagi Ini dan Kamu

Melihat langit yang luas
dan jernih itu
Aku teingat Jogja
dan segera juga kamu

Melihat langit fajar
yang mulai terang itu
beserta awan yang terpecah-pecah
Aku teringat pagi di Jogja
dan tak lupa senyummu juga

Ah, di langit pagi ini
begitu banyak gambaranmu
menelusup pada udara sejuk
yang mulai dewasa

Kedamaian pagi Eamadhan
adalah jelas tentangmu
tentang kedamaian
dan tempat bersandar

Fajar yangcerah adalah kamu
Fajar yang cerah
adalah senyumanmu

Dan di atap rumah ini
kupuaskan kerinduankuakanmu
Kuhirup pagi
Kuhirup kamu

*kau tahu?
Rasanya seperti menghisap
Kretek yang mahal
sembari menyeruput
secangkir kopi seleraku

– aku merindukanmu –
-kedamaianku-

04/12/01

Menjadi Tua

Semakin tua, kita menjadi takut pada kenangan
ngeri menatap mereka dan jadi hidup lagi

karena memang kita tak mampu kembali ke sana
dan menjauh dari harapan itu

Cinta yang membara
percumbuan-percumbuan menjadi ritual
dan tujuan yang tak perlu dipikir ulang
adalah kegilaan yang dirindu

semakin tua, makin menjauh dari romantisme
kenyataan menggembleng kita begitu rupa
tangan kita, kaki kita, dipaksa membenci mimpi
dan cita-cita

seringkali keterpaksaan dan menyerah pada keadaan
menjadi pijakan untuk terus hidup
ah, kita semakin lapuk

sepertinya kita harus hijrah
melakukan langkah besar yang sepenuhnya beda
kita harus berani mati setiap waktu
kita harus berjuang hingga nafas ini habis
dan perlawanan sudah tak mungkin lagi

Tak boleh menyerah
tak boleh mengatakan cukup
Jiwa tak boleh kalah
semangat tak boleh mati

kita harus selesaikan perjanjian kita dengan Tuhan
kita memang tak diizinkan untuk bilang menyerah
karena kita telah dilahirkan

0:29 03/03/2004

Dalam Mabuk

aku pejam mata
tanganku seperti bengkok
membelai kepala

dunia terlihat bayang-bayang
ketuaannya menjadi jelas
tempat yang penuh cerita basi

kasur berbau wanita
memanjakan dagingku
sedang darah mendesirkan pening di kepala

aku pejam mata
dunia ini jadi bengkok
tubuhku menjelma cahaya
hanya pikiranku yang tinggal

Lahir kembali
memilah dan membuang rasa takut
berkekuatan penuh di tiap urat

semuanya merasuk berhimpitan
menjadi kantuk
perlahan terlihat tulisan:
Mengandung alkohol 40 %

aku jatuhkan botol itu
pecah berserakan di lantai
aku hilang

10:32 PM 10/12/2003

Waktu diluar Sini

di luar sini
waktu pergi begitu saja
seperti kaki yang bersijingkat
melangkah keluar kamar
tanpa bicara

tanpa sadar
sudah dua depa
kita melangkah

karena keramaian hidup
kita lupa
segalanya akan hilang segera
sedang Pemilik Langit akan terus
mengatur semua debu

kita menangis dan bersorak
entah menjadi apa atau kenapa
tapi waktu, di luar sini
terus habis terbakar

8 april – 3:40 PM 26 aug 2003

Sebuah Panggilan

Kepada jiwa-jiwa yang bergejolak
aku memanggilmu!
Dengan satu warna kepalan tangan
kemari
berikan aku hembus yang menggelisahkan itu

Tumpahkan!
Tumpahkan!

Biar remuk tanah pijakanku
biar hancur langit idamanku
beri aku satu bisikan
yang membangunkanku dari tidur
yang mengusik ketentramanku

Kepada jiwa-jiwa yang bergejolak
aku menyerumu
menghimpun desir-desir hati
yang menggelorakan itu

Hantam aku
dengan sorotmu yang menyala
dengan wajahmu yang membakar
hantam aku!
wahai jiwa-jiwa topan badai
hantam aku!

Kehausan ini
kegatalan ini
seperti menagih badanku
Untuk bergerak dan memanggil
Rumpuan jiwa yang gelisah

O,
Sekali aku menyeru kau
Seratus kali jiwaku bergetar

Wahai jiwa-jiwa yang bergejolak
datanglah
dan teriakkan semuanya
di telingaku!

13:47 06-04-2002

Sajak Gagal

Remuklah aku
sebelum sampai ditujuan
sebelum kusentuh
apa yang kuimpikan semalam

Mencairlah aku bersama gerimis
Jatuh satu-persatu ke tanah
menjadi bongkahan lumpur
yang mencari laut

Remuklah aku
Hilang pada akhirnya
Tertelan nafas sendiri
tertelan mimpi-mimpi tinggi

Mati
Tanpa nisan dan tangis sanak saudara
ditengah jalan ini
Ketika belum jadi apa-apa

25 Februari 2003