Category Archives: Blog

Datang Lagi

Dan hujan mengguyurmerutuki kekosongan

membasahi relung hati dengan sepi
sepetik nada blues menggores dindingnya

memberikan sedikit manis pada pahit

ruang membuatku ingin pergi

ayat suci membuatku bersalah

blues menjadi masuk akal
Dan hujan mengguyur

membasahi lahan ketidakpastian baru

bukan, bukan masa depan menggundahkan

bukan pula kemalangan menggulanakan

aku kesepian
waktuku dan waktunya dan waktu mereka

tak bertemu padu

pertemuan menjadi singkat

perpisahan berasa berat
hatiku meratap

merutuk

sendirian di dalam ruang

ruang membuatku ingin pergi
mataku seluruhnya

tak sanggup memandang Tuhan

malu sangat
rasanya tidak ada dimana-mana

rasanya tidak terasa apa-apa

rasanya ruangan ini terlalu besar dan kosong

ruang membuatku ingin pergi
hatiku menjerit

dengan derit kaki lemari yang bergeser

mungkin lelah

atau entah
Rasanya rasa ini tak asing lagi

rupanya, ada waktunya dia kembali

22:13, 2 Juli 2016

Penekanan

Orang berkomunikasi awalnya dengan santai, rileks, mengalir. Kalimat per kalimat saling berbalas, sampai kemudian muncul pengulangan kalimat. Muncul pengulangan lagi di sesi komunikasi berikutnya dan berikutnya lagi. Di situ yang terjadi adalah komunikasi mandek. 

Dan bisa ditebak, penekanan selanjutnya bukan lagi melalui bahasa atau kalimat, tapi perbuatan dan tingkah laku. Itu adalah apa yang umum terjadi selanjutnya ketika komunikasi verbal menemui titik buntu, apapun sebabnya yang jelas para komunikator yang terlibat mempunyai andil atas kebuntuan tersebut. 

Tahap itu menjadi krusial karena menentukan nasib selanjutnya dari komunikasi mereka apakah terputus disitu atau terjadi pemahaman-pemahaman baru. 

Masa-masa penekanan non-verbal biasanya akan terasa sangat tidak nyaman dan emosional. Situasi yang membuat penekanan yang dilakukan hampir tidak menciptakan hasil yang diharapkan dari motivasi dasar penekanan itu terjadi. It is a matter of whom broke their ego first. 

Dan tak terbayangkan berbagai bentuk perilaku yang dibuat dengan tujuan menciptakan penekanan maksud ini. Bermacam-macam, bahkan sebagian bisa dikatakan sebagai perilaku yang anomali.

Ketika dapat kembali ke bahasa verbal, bersyukurlah. Karena pola itu yang lebih dapat diterima oleh kebanyakan manusia. Harapan akan sinergi selanjutnya meningkat ketika titik ini dicapai. Dan kuncinya, kejujuran dari semua pihak dan tentu saja; lapang dada. 

All ears!

Pencerahan

Suatu momen di dalam hidup kita ketika setitik cahaya pemahaman menghapuskan sebuah ruang gelap. Ada yang bilang hikmah atau ilham, apapun itu ketika waktunya pencerahan itu datang dia tak terbantahkan. 

Bagi saya pencerahan adalah sebuah cahaya pengetahuan yang terbangun dari beragam informasi empirik dan logika yang diterima seseorang. Bisa disebabkan oleh interaksi, informasi, situasi, dan pengalaman berkesan lainnya. Sumbernya tentu dari Yang Maha Sejati. 

Setiap orang pasti pernah berada dalam posisi ‘ingin mencerahkan’ orang lain, dalam bahasa sederhananya ingin merubah orang lain menjadi lebih baik. Namun seringkali itu gagal. Dan kegagalan itu umumnya disalahkan kepada pihak yang ingin dicerahkan. Padahal tidak begitu kerjanya sebuah pencerahan. 

Perlu disadari bahwa eksistensi dan kontribusi kita terhadap pencerahan seseorang hanyalah satu komponen diantara jutaan komponen lainnya. Pencerahan itu muncul dari dalam diri kita masing-masing, yang didorong semesta di sekitar kita. Dorongan tersebut baru bernilai ketika ia mendapatkan tempat di relung batin kita, ketika kita memang menyediakan ruang untuknya bersemayam dan membantu kita menyempurnakan diri. Dan ketika semua prosesnya selesai, maka munculah pencerahan itu. Membawa diri kita ke tingkat berikutnya, so we can change and say good bye to old life. 

Jadi ketika kita menyampaikan kebenaran dan itu tertolak, sesungguhnya peran kita selesai sampai disitu. Karena seperti saya sebut tadi, kita hanyalah satu komponen yang ikut berpartisipasi. Selebihnya itu proses dia untuk bisa atau tidak bisa menyerap hal tersebut. Ketika penyampaian kebenaran itu disertakan ambisi dan pemaksaan, jangan kaget ketika hasilnya memusingkan. Karena lagi-lagi itu bukan kewajiban kita, kita hanya sebatas mengerjakan dan menyampaikan apa yang memang ditugaskan Yang Maha Agung. 

Kewajiban kita sediakan ruang itu, selalu kobarkan api pencarian. Karena waktu takkan terasa berlalu. 

Keputusan

Keputusan, akar katanya adalah putus sebuah kondisi yang menyatakan tidak terhubungnya sesuatu yang seharusnya terhubung. Keputusan (ke-putus-an) adalah tindakan yang mengupayakan kondisi putus itu terjadi. 

Hidup dipenuhi keputusan-keputusan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Ketika anda ingin menyeberang jalan, secara sadar Anda akan memutuskan sambil jalan atau berlari, dan secara tidak sadar kecepatan naik turunnya kaki Anda akan menyesuaikan dengan keputusan awal tadi. Mungkin tepat dikatakan sebagai reflek. 

Keputusan apapun yang kita buat itu adalah upaya keluar dari satu kondisi ke kondisi berikutnya. Keputusan memisahkan titik garis siklus kondisi yang stagnan, menuju perubahan. 

Sebesar apapun efek sebuah keputusan, pada dasarnya keputusan adalah hal yang kecil dan terjadi dalam tenggat waktu yang singkat. Dia adalah kristalisasi dari segala pertimbangan dibelakangnya. Keajaiban lainnya dari elemen alam semesta.

Nyaman dan Tidak Nyaman

Kenyamanan secara umum selalu dikaitkan dengan kesenangan. Suatu kondisi yang baik, bagus, menyenangkan.   Suatu kondisi dan situasi yang membuat kita tenang tidak ada yg salah. Ada juga yg menghubungkan dengan aman atau keamanan (kondisi aman). 

Orang senang hidup dalam ‘wilayah nyaman’.  Bahkan istilah “Anda harus keluar dari wilayah nyaman” digunakan untuk menggambarkan perjuangan (yang cenderung berarti tidak enak) yang harus diberikan seorang penempuh enterpreneurship. 

Tapi apakah benar kondisi nyaman itu mutlak terafiliasi dengan segala pembiasaan seseorang terhadap yang enak-enak?

Seorang mahasiswa yang suka terlambat mengerjakan tugas kuliah memiliki konsekuensi dan pengalaman mulai dari teguran dosen hingga ancaman tidak lulus. Ketika dia tahu konsekuensinya, penyebabnya, dan solusinya namun tidak ada perubahan yang dia lakukan. Maka bisa dikatakan dia nyaman dengan kondisi yang salah itu.

Jadi menurut saya sangat mungkin orang dengan salah kaprahnya terus menyebut, mengeluhkan kondisi yang tidak enak, -tanpa berbuat banyak untuk merubahnya, atau malah konstan membiarkan kondisi tersebut berlangsung- dan berkata; “saya berada dalam kondisi yang tidak mengenakkan”. 

Karena sesungguhnya dia sudah nyaman dengan kondisi yang melenceng tersebut itu. Karena kemungkinan dia sangat tahu bahwa untuk merubah keadaan itu memerlukan upaya yang juga tidak enak dan dengan kemungkinan yang terbayang juga tidak enak. Dan memikirkan upaya itu saja sudah membuatnya tidak nyaman, akhirnya dia memutuskan untuk diam dalam status quo. 

Dalam istilah orang dulu itu disebut, “penyakit yang dipelihara”.
Saya tidak mengatakan itu salah atau benar, disini hanya memaparkan dengan tujuan kita menjadi sadar ketika kondisi itu terjadi pada kita. Bahkan saya yakin setiap orang punya ‘penyakit yang diperlihara’, yang sudah lewat dan sedang berlangsung. Ada yang tidak akan pernah hilang, karena itu menyangkut dengan kekurangan dan kodratny sebagai manusia. 

Saya rasa ini adalah penyakit bersama spesies yang bernama manusia. Yang terpenting adalah kesadaran apakah kita dalam ‘posisi nyaman’ yang slaah kaptah atau tidak. Karena kita akan menjadi lebih sadar manakala ‘penyakit yang dipelihara’ itu memberikan efek terhadap sisi-sisi kehidupan kita. 

Tindak lanjutnya setelah kita sadar? Saya rasa itu ada di keputusan yang kita buat. 

Life is a Joke

Ada yang bilang kesejatian itu sederhana, bahwa kebijaksanaan tertinggi itu begitu simplenya hingga ia dapat dituliskan pada sebuah batu kecil. Lantas saya bertanya untuk apa dunia yang kompleks ini. 

Literatur keagamaan kitab al-quran menyebutkan bahwa hidup ini tidak lain hanyalah senda gurau belaka. Maka kesimpulan yang menjadi jelas bagi saya adalah semua yang terlihat adalah gangguan, distraction, dari apa yang sesungguhnya.

Dari situ setiap orang dapat mengambil sikap yang berbeda-beda. Bisa bunuh diri, mencari ajaran-ajaran yang tidak umum (karena yang umum dianggap distraction semata), ada yang menikmati hidup hingga tetes terakhir tanpa batasan dan lain sebagainya. Semua sikap itu bergantung pada bangunan paradigma dan informasi yang diterimanya selama seseorang itu hidup. Yang membantuk sebuah ‘jembatan fakta’, kebenaran personal yang menjustifikasi apapun tindakan yang dia ambil berdasarkan kesimpulan awal tadi.

Itu juga yang saya rasa menimbulkan istilah ‘tidak ada kebenaran yang mutlak’. Bagaimana sesuatu yang sudah benar, belum tentu benar bagi semua orang. Tak terhitung orang yang menjabarkan ini dengan berbagai macam cara, salah satunya dalam kasus gambar kubus yang dilihat dari berbagai sisi. 

Sebuah puncak gunung terkadang sederhana, hanya sebuah lahan yang tidak begitu luas yang berada di pucuk gunung. Tapi jalan menuju puncak bukan Main rumitnya, betapa menuntutnya perjalanan itu kepada sang pendaki. 

Hidup itu sementara, sebuah selisih waktu semenjak kita lahir hingga mati. Seperti kembalian recehan yang terlihat banyak, dan akhirnya kita sadar hanya tersisa sebuah koin saja. Dan kelihatannya hidup itu adalah sekumpulan peristiwa temporer yang memerangkap kita dalam hal temporer tersebut. 

Tak jarang yang rumit terlihat mentok, yang menyedihkan terasa melumpuhkan, yang tak pasti terlihat mutlak. Karena ketidaktahuan kita akan peristiwa temporer sedetik ke depan dari detik yang sekarang ini. Dan manusia nampaknya memiliki kecenderungan untuk selalu menginginkan yang tak mungkin, yang tidak dimilikinya sekarang. Dalam kasus ini; kepastian. Kepastian bahwa dia akan sembuh, akan tidak tersakiti, akan keberhasilan, akan kepercayaan. Kontradiktif dengan ketidaktahuan kita akan peristiwa sedetik ke depan. 

Maka dari itu sepanjang hidupnya manusia membangun perangkat-perangkat yang membuat semuanya lebih mendekati kepastian. Pertanyaannya, apakah betul kita selalu membutuhkan kepastian sedemikian rupa? Apakah ‘kepastian’ yang kita kejar bukanlah sebuah objek temporer yang bertugas menjebak kita dalam kondisi temporer lainnya? Apakah sebuah kepastian kecil sebegitu terfokusnya untuk kita urusi sehingga kita ternyata jadi kurang siap terhadap serbuan momen temporer lain yang datang berbarengan?

Ketika seseorang hidup, dan menggunakan pedoman kehidupan hasil comot sana sini sepotong-sepotong tanpa melihat teks dan konteks utuhnya. Maka semesta keancuan akan segera mewarnai pikirannya. Contoh apabila kita hanya melihat tekstual Quran dalam satu sisi itu saja, hal yang paling gampang dilakukan adalah bunuh diri. Sebab buat apalagi hidup di dunia yang semua cuma omong kosong. Namun bila kita melihat pada kontekstual Quran menjadi relevan, dalam skup agama Islam,  kita segera tahu ada dalil lain yang menerangkan pernyataan tersebut. Bahkan menjabarkan how to live through it and safe to the next side. Tentang bagaimana dia selamat dari kekonyolan senda gurau. 

It is bullshit, it is a joke, but it is also a place for some of us to make the temporaries matters. 

Fuck i dont know, i dont understand myself either. 

Keahlian

Memiliki keahlian berbeda dengan memiliki keahlian yang terdokumentasi. Rntahlah apakah itu susunan kalimat udah bener apa belum. 

Saya rasa banyak orang yang memiliki keahlian husus, tapi jarang yang memiliki kemauan untuk mendokumentasikannya. 

Saat ini saya punya masalah yang mungkin solusinya adalah dengan mendokumentasikan sebagian keahlian yang saya miliki. Demi kemajuan dan keberlangsungan sebuah entiti bisnis. Yup, saya pikir bukan hanya saya yang punya masalah ini, bisa dikatakan hampir semua enterpreneur yang memulai usaha sendirian.

Di masa awal biasanya akan dimulai dengan kondisi serba minim. Minim dana, peralatan, dan terutama wawasan pengetahuan. Seiring bertumbuhnya bisnis tersebut ketiga komponen tadi akan berkembang, dan yang perkembangannya paling kaya, tidak terprediksi adalah wawasan pengetahuan. Semakin banyak masalah dalam bidang usahanya yang dapat ia pecahkan dan diketahui solusinya, baik ketika dia memiliki perangktnya maupun belum.

Masalah timbul ketik dia membutuhkan tenaga manusia tambahan agar usahanya mampu mencerna semua pekerjaan yang masuk; knowledge nya terpusat di satu orang saja. Dia tahu bagaimana menyelesaikan semua pekerjaan itu, tapi tidak mungkin mampu mengerjakan semuanya sekaligus. Karena umumnya semua pekerjaan memiliki time-frame sendiri, yang tidak jarang tenggatnya berdekatan atau bersamaan.

Peradaban manusia telah hadir  sekian lamanya dan memiliki jawaban masing-masing di tiap zaman-nya. Dan sudah seratus tahun pebih dunia menjawab tantNgan tersebut dengan sebuah entitas bernama perusahaan. Sebuah perusahaan yang baik dalam mempertahankan eksistensinya tidak bergantung kepada figur personal, dia bergantung pada rel kerangka kerja; sekumpulan pengetahuan yang diorganisir sedemikian rupa untuk mencapai tujuan-tujuannya yang menjadi sebuah sistem yang unik bagi perusahaan tersebut.

Meski demikian, kondisi ‘re-inventing the wheels’ seringkali (bila tidak dibilang selalu) hinggap di kondisi enterpreneur pemula. Karena contoh sukses sistem perusahaan biasanya terlalu besar untuk diterapkan pada usaha yang baru tumbuh. Dan sekarang saya berkesimpulan kondisi tersebut adalah ‘neraka’ yang wajib dilalui enterpreneur baru. 

Stupid as it sounds, but it helps him to know the base of how bigger framework works. Selanjutnya, apakah ia akan mengadopsi sebagian atau keseluruhan sistem perusahaan yang sudah ada tidak akan menjadi salah. Karena dia mengadopsinya dengan pengetehuan yang jelas tentang mengapa tindakan itu dia ambil. He KNOWS what he do, and why.

Saya hidup dengan bisnis yang sebagian besarnya saya rancang bangun sendirian, permulaannya dan pengembangannya. Mulai dari aspek kebersihan tempat usaha, pemasaran, restocking, display, keuangan, hingga mesin-mesin pembantu pekerjaan. Dan sekarang usaha ini tumbuh lebih besar dari kapasitas saya sebagai pribadi. Saya butuh memberikan pos-pos pekerjaan tersebut kepada beberapa orang khusus, agar semua potensi dapat tergarap dan utamanya pekerjaan dan rencana bisa terealisasikan dengan baik.

Jadi pekerjaan rumah yang besar bagi saya adalah mendokumentasikan isi kepala saya, kemampuan saya menjadi dokumen yang dapat dibaca, dipelajari dan dipahami. Mudah kedengarannya, tapi tidak begitu dengan prakteknya. Dibutuhkan tenaga dan waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikan PR tersebut. But, why can’t I say it’s a new hobby ๐Ÿ˜‰

Kesulitan dan Solusi

Tahun 2015 adalah tahun yang cukup sulit bagi bisnis saya, tidak kepalang minusnya menyentuh tiga digit. Parahnya itu baru disadari setelah berjalan selama beberapa bulan. 

Tiga sampai empat bulan di penghujung tahun saya berjuang membalikkan keadaan, minimal menstabilkan kapal yang sudah parah olengnya itu. Mencari pasokan baru, program pemasaran baru dan lain sebagainya. 

Di saat itu juga, pemasukan tambahan saya sebagai penanggung jawab pemasaran distributor casing handphone terputus. Karena perusahaan itu pun terkena pemutusan kontrak dari principal.  Perusahaan saya lainnya yang bergerak di bidang IT pun tidak memiliki laba sampai penghujung tahun. 

Tuhan menolong saya dengan banyak hal pada tahun itu. Salah satunya melalui sikap yang mungkin menurut orang lain negatif; cuek dan keras kepala. Saya memang orang yang berpikiran global, bukan detail. Kekeraskepalaan saya membuat saya tidak terjerembab memikirkan kondisi yang sulit tersebut, yang saya pikirkan hanya bagaimana solusinya. Melihat sebentar ke belakang dan maju terus ke depan. 

Beberapa solusi dicoba dan gagal. Beberapa rekan bisnis baru dijalin; dan gagal. Sampai akhirnya saya melirik satu potensi solusi yang dengan sengaja saya hindari selama ini, satu rekan yang selalu saya tutup aksesnya. Yang kebanyakan sebabnya adalah karena ego dan gengsi saya pribadi. 

Dari sekian cara yang telah saya coba, terlihat cara itu yang belum saya lakukan.  Akhirnya dengan segala kerendahan hati, mulai saya mulai coba buka hubungan bisnis dengan rekanan tersebut. Saya terobos ketakutan, saya buka semua kelebihan dan kekurangan dalam bisnis saya. Dan hasilnya baik, melenceng dari semua ketakutan-ketakutan saya selama ini. 

Sejauh ini solusi itu berjalan dengan baik. Kapal yang tadinya oleng mulai kembali back on track dengan stabil; bahkan dengan tambahan perangkat-perangkat baru.

Yang saya dapatkan dari situasi bisnis tahun lalu adalah manajerial dan keuangan perlu untuk selalu dijaga. Dan ketika situasi tidak diinginkan terjadi, yang pertama harus dilakukan adalah ketahui posisi kita ada dimana (dalam segala hal), kenali dan terima segala kesalahan kita yg andil dalam membangun situasi tersebut. Setelah itu lihat ke depan dan bertindak. 

Jangan menyalahkan persaingan, karena dia ada untuk memperkuat kita. Dan pembuktian ulang bahwa ketakutan bukan untuk dituruti, dia hanya sekedar rambu supaya kita tahu bagaimana bersikap. 

Hujan Sore Ini

Hujan yang turun sore ini terasa sopan. Perlahan dikirimnya mendung satu jam sebelum kehadirannya. Kemudian tetesan air merintik membasahi daunan dan rumah-rumah. Membawa aroma tanah basah yang romantis. 

Langit abu-abu muda meruntuhkan semua urusan-urusan. Melambatkan detak jantung yang terus dipacu hasrat. Memaksa danau dalam jiwa berhenti meriak. 

Dunia ini penuh lapisan yang menutupi kesejatian; apa-apa yang ada dibalik hijab pandangan mata. Contohnya langit kelabu ini, aku tahu persis dibalik sana matahari masih meraja. Bahkan pada kegelapan malam pun matahari sejatinya tak pernah memadamkan apinya. 

Kita hanya berputar, diputar, diblender dalam sajian pemandangan yang kasat mata. Sampai hilang kontrol atas reflek pengolahan realitas dan data, lantas bertindak dengan bodohnya. Dengan bodohnya. 

Tanah, besi, kayu, air, api, seharusnya menjadi unsur pembentuk yang membantu. Bukan tujuan. Tetapi kekuatan yang menyentuh fisik kita selalu membutakan kota dalam takut dan takjub. 

Padahal kekuatan tak kasat mata, yang mendesak ke dalam batin jiwa jauh lebih sering mengintimidasi dan membahagiakan kita. 

Langit mendung berwarna abu-abu muda, karena diberi cahaya matahari dibaliknya. Begitu juga raga yang sehat dan bahagia, didorong batin yang kaya dan sadar. 

Kesejatian, Tuhan, bukakanlah pintu kesejatian padaku. 

Batinku, maaf sudah lama kita tidak bicara. 

Google Inbox

Google Inbox aplikasi kotak email dari google yang membantu pengguna menjaga mailboxnya selalu kosong. Yup, kosong. Sekarang ini dengan semakin maraknya pemasaran via email dan notifikasi berbagai hal via email, maka inbox pemilik email menjadi sesak dengan email-email yang sebagian besar tidak penting.
Maka dari itu aplikasi semacam ini muncul untuk memudahkan pengguna ‘membuang’ email yang tidak penting atau sudah tidak memerlukan perhatian kita lagi. Dengan inbox yang bersih membuat kita kembali awas dengan email-email baru yang lebih penting mendaoat perhatian kita.

Aplikasi semacam ini yang saya tahu diawali aplikasi iPhone keluaran Dropbox, yang pada peluncuran perdananya sampai ratusan ribu pengguna harus mengantri sebelum bisa menggunakan aplikasi tersebut. Namun disayangkan setelah setahun aplikasi tersebut ditutup. Mungkin karena ada tujuan perusahaan induk tidak tercapai dengan hadirnya aplikasi tersebut.