Nyaman dan Tidak Nyaman

Kenyamanan secara umum selalu dikaitkan dengan kesenangan. Suatu kondisi yang baik, bagus, menyenangkan.   Suatu kondisi dan situasi yang membuat kita tenang tidak ada yg salah. Ada juga yg menghubungkan dengan aman atau keamanan (kondisi aman). 

Orang senang hidup dalam ‘wilayah nyaman’.  Bahkan istilah “Anda harus keluar dari wilayah nyaman” digunakan untuk menggambarkan perjuangan (yang cenderung berarti tidak enak) yang harus diberikan seorang penempuh enterpreneurship. 

Tapi apakah benar kondisi nyaman itu mutlak terafiliasi dengan segala pembiasaan seseorang terhadap yang enak-enak?

Seorang mahasiswa yang suka terlambat mengerjakan tugas kuliah memiliki konsekuensi dan pengalaman mulai dari teguran dosen hingga ancaman tidak lulus. Ketika dia tahu konsekuensinya, penyebabnya, dan solusinya namun tidak ada perubahan yang dia lakukan. Maka bisa dikatakan dia nyaman dengan kondisi yang salah itu.

Jadi menurut saya sangat mungkin orang dengan salah kaprahnya terus menyebut, mengeluhkan kondisi yang tidak enak, -tanpa berbuat banyak untuk merubahnya, atau malah konstan membiarkan kondisi tersebut berlangsung- dan berkata; “saya berada dalam kondisi yang tidak mengenakkan”. 

Karena sesungguhnya dia sudah nyaman dengan kondisi yang melenceng tersebut itu. Karena kemungkinan dia sangat tahu bahwa untuk merubah keadaan itu memerlukan upaya yang juga tidak enak dan dengan kemungkinan yang terbayang juga tidak enak. Dan memikirkan upaya itu saja sudah membuatnya tidak nyaman, akhirnya dia memutuskan untuk diam dalam status quo. 

Dalam istilah orang dulu itu disebut, “penyakit yang dipelihara”.
Saya tidak mengatakan itu salah atau benar, disini hanya memaparkan dengan tujuan kita menjadi sadar ketika kondisi itu terjadi pada kita. Bahkan saya yakin setiap orang punya ‘penyakit yang diperlihara’, yang sudah lewat dan sedang berlangsung. Ada yang tidak akan pernah hilang, karena itu menyangkut dengan kekurangan dan kodratny sebagai manusia. 

Saya rasa ini adalah penyakit bersama spesies yang bernama manusia. Yang terpenting adalah kesadaran apakah kita dalam ‘posisi nyaman’ yang slaah kaptah atau tidak. Karena kita akan menjadi lebih sadar manakala ‘penyakit yang dipelihara’ itu memberikan efek terhadap sisi-sisi kehidupan kita. 

Tindak lanjutnya setelah kita sadar? Saya rasa itu ada di keputusan yang kita buat. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

73 + = 79