Category Archives: Blog

Satu Juta Itu Statistik

Berikut kutipan perkataan Joseph Stalin mengenai mortalitas; “Seseorang mati adalah tragedi, tapi kalau sejuta, itu statistik.” Ada rasa tidak suka tatkala membaca kutipan itu, terlebih mengingat yang berucap adalah pemimpin fasis yang memiliki reputasi tak sedap. Tapi entah kenapa ada sisi lain di diri saya yang membenarkan ungkapan tak simpatik tersebut. Betapa saat ini kematian massal -baik oleh sebab bencana maupun perang- sudah sangat umum.

Adalah mengerikan, betapa kita semakin terbiasa dengan berita kematian sekelompok orang dengan wajah dingin, untuk kemudian membalik koran atau mengganti channel tivi, untuk mencari sesuatu yang lebih menarik ketimbang berita tragis itu. “50 orang sipil mati dalam serangan bom bunuh diri di Irak”, “130 pekerja tambang terjebak di kedalaman 300 m”

50 orang sipil mati… Apakah itu statistik? Ya berat untuk tidak mengatakan bahwa itu sekedar statistik laporan kematian. Kecuali coba kita susuri satu persatu wajah para korban, walau kita belum pernah bertemu. Bagaimana keluarga mereka di rumah sedang dalam aktifitas sehari-hari, tak terbayang bahwa ibu mereka yang sedang pergi ke pasar tidak akan pernah pulang lagi dalam keadaan utuh dan hidup, tapi dalam serpihan. Apa yang dirasakan anaknya yang baru 5 tahun? Apa yang dirasakan suaminya yang sedang menabung untuk memperbaiki rumah mereka? Apa yang dirasakan si anak sulung, memandangi adik-adiknya dengan kesadaran bahwa ibunya telah ‘dihapus’ paksa oleh sebuah ledakan buta?

Ketika angka 50 disebutkan begitu saja, itu akan betul-betul menjadi angka statistik belaka. Tidak ada masalah manusia yang kehilangan nyawa, tidak ada problema keluarga yang kehilangan orang terkasih, tidak ada duka istri yang kehilangan suaminya, tidak ada tragedi. Dan entah kesalahan media yang menyiarkan, atau kekurangan analitis empatif kita sebagai manusia akan bahasa, sehingga kita semakin terbiasa akan informasi semacam itu. Mungkin karena bom itu tidak meledak di samping rumah kita (na’uzubillah) atau karena tidak ada relasi kita yang masuk ke dalam ‘data statistik’ korban bom tersebut? (na’uzubillah minzalik; kami berlindung kepada Allah dari hal (buruk) tersebut)

Jadi, kalau kita dapat membaca sebuah judul “50 orang sipil tewas …” dan merasa simpati, dan segera menelusur kedukaan puluhan manusia di belakang 50 orang yang mati tersebut, lantas kita harus apa? Sekedar simpati?

Saya pribadi yang saat ini tidak punya keahlian palang merah, tidak punya dana untuk membiayai proyek kemanusiaan, tidak mempunyai pengaruh politik dan ketokohan untuk meredam pihak bertikai, dan tidak punya cukup keberanian untuk terjun ke lapangan memberi bantuan tenaga. Hanya bisa berusaha untuk mencapai potensi terbaik saya, dan mengajak orang-orang di sekitar saya juga untuk meraih potensi terbaik mereka, sambil menjaga pikiran agar tetap ‘waras’, sambil menjejalkan ‘statistik kematian’ tersebut ke dalam kepala sebagai dendam positif.

Pada zaman mana pun, kebaikan selalu terlihat kuno, yang benar seringkali terlihat terbelakang, padahal kebaikan adalah thing of the future.

Saya ingin membentuk ring of goodwill. Sebuah investasi panjang untuk masa depan yang lebih baik.

—

Setelah menulis ini, saya jadi tertunduk, memandangi kepala yang masih ada di kaki, memperhatikan jemari kaki yang masih jeblok dengan kesalahan dan dosa…

Kebahagiaan yang Menyedihkan Orang Lain

Ada satu masa di SMA yang saya sesalkan, pada masa-masa kejayaan; kelas 2 sma. Waktu itu saya dan 7 orang lainnya mengontrak satu rumah (Jl. Kampus 7 No. 10a), sebuah rumah yang nyaman, dengan 6 kamar, 1 gudang kecil, garasi yang muat untuk 2 mobil+gudang juga, 2 kamar mandi, dapur, ruang tamu yang luas, yang tempat cengkrama di bawah tangga. Saya kebetulan menempati kamar paling besar di lantai atas, jadi sekamar berdua. Room mate saya waktu itu namanya Rusdi (udah Rusydi aja), asal Bangkinang-Riau.

Kita ngontrak rumah itu selama 2 tahun (tahun pertama seharga 6 juta, tahun berikutnya 7,5 juta). Pada awal-awal ngontrak (awal kelas dua). Itu saat-saat paling menyenangkan. Pertama, kita baru saja terbebas dari kungkungan asrama (kelas 1 musti diasramakan dulu), kedua, 7 orang yang bergabung itu sebelumnya bukan teman yang saling kenal secara dekat, jadi proses perkenalan lebih jauh terjadi setelah ngontrak bareng. Salah satu kesenangan bujang, apalagi anak sma, itu ngobrolin tentang cewek inceran dan lika-liku usaha untuk mendapatkannya (yang kadang mereka terlibat juga bantuin).

Dan saya pun mendapatkan cewek yang saya taksir saat itu, berkat bantuan dan dukungan dari mereka juga. Mulailah bab berpacaran. Setiap malam saya selalu mengunjungi cewek saya. Kalau istirahat sekolah pun bersama dia juga. Pokoknya dunia saat itu hanya ada dia, dan dipenuhi dengan dia. Begitu pun ada teman lain yang juga begitu, dapet pacar, dan polanya sama seperti saya. Mulailah malam-malam di kontrakan menjadi sepi, setidaknya dari jam 7-10 sudah bisa dipastikan sepi, hanya beberapa orang yang nggak kemana-mana. Dan yang rutin ada di kontrakan pada jam segitu hanya segelintir saja, salah satunya Rusdi, room mate saya.

I’m happy, so happy. Sampai suatu malam, seorang teman menyampaikan kepada saya bahwa belakangan dia melihat Rusdi bertingkah agak aneh, dan terakhir kali terlihat sedang menangis. Menangis? Ada apa gerangan?

Sesegera mungkin saya mencari momen untuk menanyakan perihal tersebut kepada Rusdi nya langsung. Dan ternyata, dia sedih karena terancam harus keluar dari sekolah (waktu itu di bandung), kembali ke Riau, dan meneruskan disana. Dia merasa sangat enggan dan merasa sedih untuk meninggalkan sekolah yang sekarang, apalagi dia bercerita bahwa alasan dia ditarik pulang karena ayahnya yang orang Muhamadiyah merasa bahwa sekolah kami mengajarkan dan berusaha merubah muridnya jadi penganut Syi’i. Dia bingung mesti bercerita dan mencari solusi kepada siapa. Karena suasana kontrakan saat itu lebih sering sepi.

Begitu pulang pun semua kembali ke kamar dan sibuk masing-masing. Kebetulan teman saya ini orangnya pendiam, dan agak sulit untuk menceritakan sesuatu, kecuali mesti pada momen yang tepat dan itupun dengan dorongan dari lawan bicaranya.

Kiri-kanan : Rusdi, Akbar

Sejak itu saya mengajak beberapa orang yang masih sering di kontrakan untuk memikirkan jalan keluar. Solusi saat itu adalah saya menjadi juru bicara sekaligus negosiator ke ayahnya teman saya, ketika beliau datang nanti. Hari H pun tiba. Ayahnya datang, dan kami laksanakan rencana tadi. Saat itu ada saya, Rusdi dan ayahnya. Setelah bla bla bla bicara, saling mengajukan alasan dan argumen, jawabannya sudah final: Tidak, dan Rusdi musti pulang ke Bangkinang. Suasana berujung tegang dan hening. Rusdi menangis, saya cuma menunduk mengatupkan kedua tangan di atas lutut, tidak berani menatap mata tajam sang ayah.

Keadaan sudah tak tertolong, saya merasa lemas dan lemah. Dengan sopan saya berpamitan, meninggalkan mereka di ruang tamu. Beranjak perlahan ke kamar saya di atas, menapaki tangga besi satu-persatu yang dentamnya semakin memukuli hati saya.

Mata saya basah, menyadari seorang kawan akan segera meninggalkan kami semua. Mata saya basah, karena tiba-tiba semua saat-saat yang indah bersama pacar menjadi suatu gambaran yang ironis. Terbayang ketika saya sedang tertawa-tawa bersama kekasih, seorang kawan disini menangis kebingungan dilanda masalah. Malam-malam berbunga yang saya lalui berjalan paralel dengan malam-malam sepi seorang kawan yang butuh bantuan. Ada rasa sakit di ulu hati, yang tak bisa hilang dengan pembenaran yang bagaimanapun kecuali menerimanya sebagai rasa sakit dan sebuah kesalahan fatal.

Rusdi lagi iseng di atas genteng depan kamar

Saya orang yang memiliki kecenderungan untuk melupakan yang lain begitu sudah punya pacar. Dan ini menjadi semacam penyakit yang di kemudian hari selalu disesali.

So, if you really love someone, don’t make anyone else around you feels uncomfort about your relationship, don’t make them dislike him/her, by just ignoring everybody and anything else.

– dan saya belajar, kebahagiaan yang tidak bermanfaat buat orang lain (apalagi menjadi mudharat) adalah kebahagiaan semu –

++Mobile

Mengapa Terus Menulis Puisi?

Saya ingin dapat terus menulis puisi, dan saya bertekad untuk terus berpuisi. Profesi saya saat ini memang jauh dari dunia kesenimanan, dunia saya sekarang dunia jual-beli, dan kreatif desain interior. Di situ tempatnya menyelesaikan masalah riil dengan solusi-solusi riil. Sedangkan dalam seni, kita mencoba menguraikan segala permasalahan dalam bentuk dunia ide dan estetika (baik visual, audio, dll).

Kunci dalam terus menulis puisi selain tekad adalah ilham, inspirasi. Sulit untuk menerjemahkan masalah sehari-hari ke dalam puisi, atau dengan kata lain menjadikannya sebagai sumber ilham. Karena permukaan dari kegiatan sehari-hari adalah narasi. Dan kita secara fitrahnya sangat terbuai kepada narasi. Tantangannya adalah bagaimana memadatkan narasi tersebut ke dalam sekumpulan kata-kata berbobot dan tetap puitis.

Ya berbobot (padat, bermakna) dan tetap puitis, sebab terlalu padat akan menjadi kering, terlalu puitis akan terkesan melantur. Karena pada kompresi kata-kata yang lebih jauh lagi, banyak kata-kata pembentuk suasana puisi yang terpaksa harus dipapras habis, demi menjaga efisiensi penuturan. Contoh paling riil mengenai puisi yang berbobot adalah puisi-puisinya Chairil Anwar. Dengan metode beliau bahwa ilham itu harus dicari. Menulis puisi itu harus difikirkan seperti merumuskan campuran kimia, ilham itu harus dicari, bukan menunggu mood. Dan karena itu penyempurnaan sebuah puisi berjalan terus, tidak begitu selesai dituliskan seluruhnya lantas ia dikatakan sudah final. Ia harus terus dikoreksi sampai tercapai bentuk yang dirasa ideal. Jadilah puisi yang padat dan karenanya kebanyakan terasa kering.

Pemikiran Chairil itulah yang menginspirasi saya untuk terus menulis puisi. Bahwasannya ide atau ilham berpuisi itu harus dicari, digali, dan diuji dalam laboratorium pribadi untuk ditimbang kegagalan dan keberhasilannya. Dengan cara ini, sebuah puisi tidak menjadi ‘anak emas’ bagi penulisnya. Yang mana ketika datang kritikan atas puisi tersebut kepala dan dada terasa panas karena tersinggung. Puisi akan menjadi subjek dari penyempurnaan diri sendiri.

Dan saya pun terus menggali dari mana pun. Dari momen yang lewat sekelebatan. Dari memandangi apa yang di depan mata, akan langsung saya catat, meski hanya dapat sebaris judul. Perihal akan jadi atau tidak, itu belakangan. Ide itu seperti kuda liar, akan segera lepas jika tidak diikat (dengan ditulis).

Banyak momen-momen masa lalu yang saya peras kembali sari-sari peristiwanya, agar dapat dihadirkan dalam manis-kelamnya puisi. Meski sudah berulang-ulang, saya tak peduli, selama masih ada ruh yang bisa ditangkap, akan saya tuang ke dalam puisi.

Akan halnya dengan penampakan pada blog ini, itu merupakan upaya lain untuk membangun sebuah laboratorium pribadi mengenai puisi. Sebab itu pula saya mempersilahkan saudara-saudara saya para penulis puisi yang ingin menampilkan puisinya dalam laboratorium kecil ini.

Menjadi satu kepuasan tersendiri memerah keindahan dari segala macam momen ke dalam puisi, untuk kemudian berbagi perasaan tersebut kepada orang lain. Karena saya yakin, saya bukan manusia satu-satunya yang merasakan momen-momen tersebut. Dan kesenangan akan berlipat tatkala ada orang lain yang juga merasakan/mengalami emosi dan atmosfer dari puisi yang saya buat.

Saat ini, saya ingin membuat puisi yang seperti proklamasi kemerdekaan RI, yang membuat orang mengatakan: “Ya saya tau perasaan itu.” Saya ingin puisi saya juga mewakili perasaan manusia-manusia lainnya.

Jimat dan Asuransi: Mengapa Saya Tidak Suka Asuransi

First of all, buat para nasabah asuransi (terutama teman-teman saya yang baik), do not get offended of what I’m gonna write, this is just my humble personal opinion. Secara pribadi, saya tidak suka asuransi. Laporan, keluhan tentang beberapa kegagalan klaim asuransi terdengar terlalu menyakitkan bagi telinga saya. Betapa mereka telah menghabiskan tahunan untuk ‘menabung’ asuransi mereka, tapi pada saat yang seharusnya mereka gagal mengklaim hak mereka tersebut. Mungkin kalau menurut buku Black Swan, ketidaksukaan saya ini disebabkan oleh ‘konfirmasi yang salah’. Yaitu satu berita buruk mengenai suatu hal, mengalahkan statistik terindah yang penuh hal positif akan hal tersebut.Tapi tetap saya memang tidak suka konsep asuransi dari sejak awalnya.

Asuransi bertugas memberi assurance atau insurrance kepastian dan jaminan kepada nasabahnya. Padahal dibalik itu besar sekali ketidakpastian dalam pengelolaan dana asuransi itu sendiri. Pengelolaan yang menurut Nassem Nicholas Thaleb berada di wilayah ekstrimistan, wilayah yang sekalinya untung bisa banyak sekali, dan sekalinya merugi bisa jatuh hingga kandas. Selain itu, yang dijaminkan pun sesuatu yang ajaib, masa depan.

Percaya atau tidak, di tengah kehidupan kota yang seperti ini, ketika mata dan pikiran dipenuhi hiruk-pikuk soalan fisik dan material, posisi Tuhan dalam hidup manusia akan sangat mudah tergeser oleh apapun, terutama oleh janji rasa aman di masa depan. Dan manusia jadi merasa aman karena memiliki asuransi (misalnya kesehatan, jiwa, kendaraan dll).

Saya juga tidak suka dengan konsep penjualannya (sebagaimana konsep penjualan produk kecantikan dan sebagian besar produk-produk sekarang ini), mereka menjual rasa takut dan tidak aman, lantas berusaha memastikan merekalah yang dapat memberi kepastian itu. Mereka berusaha meyakinkan merekalah penyelamat dalam masa-masa kritis di masa yang akan datang. Mereka berusaha memastikan situasi di depan (yang sangat tidak pasti) dengan ‘tawaran kepastian’ berikut segala detil syarat dan ketentuan yang berlaku. Mereka menjual rasa aman, yang dalam beberapa hal menggeser posisi Tuhan.

Ketika seseorang sudah bergantung dan merasa yakin dan aman akan kepastian suatu momen (sekolah anak 5 tahun ke depan misalkan) kepada asuransi, di situ terjadi serangan terhadap akidah dan kesehatan hati. Tanpa disadari dia telah membeli rasa aman semu dari sebuah sindikasi ‘jual-beli rasa takut’, yang dalam terjemahan bebas saya ke dalam bahasa arab adalah ‘jual-beli iman, kepercayaan’. Yang besar kemungkinan membuat seseorang (bahkan sebuah keluarga) lupa tentang siapa Penjamin Keamanan Sejati.

Ketakutan mengenai masa depan, ketidakpastian, merupakan lahan bisnis yang basah. Karena sudah sifatnya masa depan itu samar atau tidak terlihat sama sekali. Dan sudah naluriah manusia untuk terus berspekulasi mengenai yang tak pasti. Jadi ketika bayangan masa depan dibelokkan sedikit saja dengan satu bayangan buruk, manusia lantas menjadi khawatir, bahkan cenderung menambahkan sendiri dugaan-dugaan buruk tersebut sesuai dengan kondisinya masing-masing.

Dan di saat itu masuk sebuah produk yang mengatakan “worry no more, count on us, we shall guarantee the unpredictable events in the future“. Jatuh cintalah kita, inilah yang kita tunggu, sebuah penjamin yang nyata, yang kita bisa berdialog langsung dengan customer care-nya. Yang kita dilayani (dipresentasikan tepatnya) segala seluk beluk jaminan tersebut. Yang mereka dapat menjawab pasti: Bagaimana kalau 5 tahun nanti, ketika si kecil butuh masuk sekolah, suami kita meninggal? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba kita sakit parah butuh opname, duit darimana mendadak gitu? Bagaimana kalau ini terjadi? Bagaimana kalau itu terjadi? Bagaimana kalau semuanya terjadi dan kita tidak siap? Jawabannya: asuransi.

===

Dulu, saya termasuk orang yang membela konsep ‘jimat itu halal’. Karena, meskipun itu barang sudah dibawa kemana-mana, dibela-belain menjaga pantangan demi menjaga keampuhannya. Bahkan seolah larangan mo-limo itu adalah larangan yang bersumber dari ke-jimat-an, bukan dari agama. Sang pengguna tetap berkata ‘pada akhirnya kita tetap memohon pertolongan Tuhan melalui perantara jimat ini’. Ya, setelah semua usaha tirakat pra mendapat jimat, hingga semua ‘laku soleh’ pasca jimat dibawa-bawa, yang notabene dilakukan demi si jimat, sang pengguna  tetap berkata; itu tidak musyrik. Sebelum mendapat dan sesudah mendapatkannya, sang pengguna sudah berharap dan menggantungkan harapan agar jimat itu memberikan tuah yang dititipkan Tuhan melalui barang tersebut.

Dan berjalanlah jawara itu dengan tenang ke sebuah acara ngibing*** di kampung sebelah, di pinggangnya tersemat golok dibalut kain kuning, kalung berisi rajah yang membuatnya kebal dibacok. Itu semua kalau-kalau nanti disana terjadi keributan antara dia dengan jawara lain. Dengan kalung tersebut, dia berharap beberapa jam ke depan kalau terjadi duel, lehernya tetap aman ditempatnya. Dan hakikat pun terbalik-balik, dia menggantungkan keselamatan lehernya pada kalung yang tergantung dilehernya.

***Acara nanggap jaipong, yang mana biasanya para pendekar silat dari berbagai kampung datang untuk unjuk kebolehan ngibing, atau menari dalam gaya pencak. Biasanya kalau suasana berubah memanas, tidak jarang terjadi duel atau perkelahian antar pendekar. (**sumber dari uwak di Banten)

Back To Programming?

Seorang teman belum lama ini bertanya: “Jadi kapan coding lagi Ba?” Dan saya cuma tercenung sambil nyengir mendapat todongan itu. Ada rasa tersanjung dan kaget ditanya seperti itu oleh master -king of freaks- programming yang saya kenal. Tersanjung jelas karena ditanya oleh orang yang ahli (walau agak curiga juga, soalnya dia punya kecenderungan memuji lantas menjatuhkan keras-keras :p).

Disitu tegas-tegas saya menolak untuk menyanggupinya. Saya anggap itu ajakan yang didorong keadaan kantor Xinix yang sedang membutuhkan programmer tambahan (kebetulan doi CTO (chief freaks officer) nya).

Walau saya menolak, beberapa hari kemudian saya mencoba untuk dive lagi ke dalam kode-kode php —my old love. Subjek saya saat itu adalah membongkar-bongkar dalemannya WordPress. Dan setelah beberapa jam hilir-mudik diantara file-file php wordpress, saya tertegun di antara kode yang berbunyi: “function blabla extend blublu( ){ …. } ” Sebaris kode tersebut seperti meledakkan pintu belakang gudang memori saya mengenai pemrograman php. Mulut saya yang terbuka menggumam sendiri; “WTF, I used to know these shit…” Dan langsung saya merasa senang karena tidak menyanggupi ajakan sang master. Betapa akan menjadi beban mereka kalau saya menyanggupi, saya mesti belajar lagi dari mula.

Tapi meski demikian tetep saya juga gak goblok-goblok amat, masih inget lah sedikitnya soal php-apache-mysql :P, masih bisa bikin-bikin program buat kebutuhan sendiri (nepuk-nepuk dada, plok-plok-plok, kukuruyuuuk :)) ).

But still, even though I’m not a real programmer, programming world is an interesting world to me. Banyak pelajaran penting yang saya ambil dari dunia itu. Dan di dunia itu saya pun bertemu orang-orang yang menarik.

Back to programming? Not now, I prefer to go to the next step of programming, to code our life to a better if-and-elseif conditions. Like Dwan said: “We’re marching on…”

++Mobile

What’s New Toba?

Maaf ada jadwal tulisan yang diundur, karena gw ingin menulis tentang hari sabtu kemarin. Hari dan tanggal yang aneh menurut gw. Kemarin gw merasa happy and uncertain, perasaan yang aneh. Di satu sisi gw merasa ringan seperti bulu di sisi lain serasa ada awan kelabu ikut mengambang.

Sepertinya semua terjadi di hari itu. Memang ada yang ditunggu pada hari itu, 2 hal; janji ketemu Aves (dengan iming-iming dia akan menceritakan satu progress terbaru dalam kehidupannya, katanya it’s a long story), dan ulang tahun ke-2 anak gw. Ada hal lain, yaitu nikahan anaknya rekanan usaha dan kumpul-kumpul halal bihalal alumni Muthahhari seluruh angkatan. Istri mau ke dokter kulit juga. Ditambah saya dapat info gini di bbm:

‎​Sabtu ini PASTI MACET TOTAL di BANDUNG!!!
Ada Pawai Bdg Blossom jam 9 dimulainya dgn rute : Rute A: Kendaraan hias SKPD dan BUMN, start dari Gasibu-Ir Juanda-Jl Merdeka-Jl Lembong-Jl Veteran-Simpang Lima-Jl Asia Afrika-Jl Otista-Jl BKR-Jl Gatsu-Jl Ibrahim Ajie-Jl Soekarno Hatta-Bunderan Cibiru-AH Nasution-Cicaheum-Surapati, fly over Pasupati-Cihampelas-Wastukencana-Pajajaran-Cicendo-Jl Kebon Jukut-Jl Viaduct, dan berakhir di balai kota.

Rute B: motor hias, mobil hias, becak hias, start dari Jl Diponegoro, Jl Banda-Jl Merdeka-Jl Lembong-Veteran-Simpang Lima-Jl Asia Afrika-Jl Gardujati-Jl Pasirkaliki-Jl Pajajaran-Terusan Cihampelas-Jl Wastukencana-Jl Pajajaran-Jl Cicendo-Jl Kebon Jukut-Jl Viaduct, dan berakhir di Balai Kota.

Dewa manggung di lapangan Gasibu.

Ditambah pertandingan persib di stadion siliwangi dimulai pukul 7 ;
Lalu ada festival jajanan bango di tegalega ;
Trus di BSM ada Metro Big Sale…
Komplit dah….#:-s

Gw pun merasa: “sepertinya penuh banget hari ini, ada apa dengan tanggal 16?” Semuanya tampak bertumpuk di hari ini.

Jadi hari kemarin dimulai dengan bangun jam 1/2 sepuluh pagi, terkaget-kaget ngedenger telpon dari Aves, gue pun refleks segera bangkit meraih hape di meja komputer, daaaaan sontak urat betis kanan seperti ditarik paksa pake truk, alias kram! It hurt so bad, ditambah kesadaran yg belum sepenuhnya pulih. Tapi gw paksain angkat telp sambil aduh2an sesekali nahan sakit di kaki.

Rupanya si aves menelpon dalam keadaan terburu-buru, jadi sepertinya dia ga dengar juga. Setelah telpon ditutup, kram-nya itu ga ilang juga. Urat betis malah makin ngebet kayak benang layangan ditarik berulang-ulang. Ketika gw berusaha pindah posisi, gantian paha kanan ikut kram! Entah setengah sadar saya teriak tertahan; “ampuuun ampuuun” (**gak jelas) sambil liat ke sekeliling kamar dan tidak menemukan seorang pun. Rupanya istri sudah berangkat ke dokter sejak jam 9 tadi. Rupanya dia lupa udah gw pesen supaya dibangunin jam 8.

Dengan susah payah, gw cari posisi untuk meredakan nyeri kram ini. Mungkin gw menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk mengatasi sakitnya (bergantian kanan-kiri). Lantas nelp adek gw yang calon dokter nanya cara ngatasinnya, sebetulnya berharap dia naik ke kamar dan bantu melonggarkan urat kaki. Tapi dia cuma ngasih saran dan ga lama kemudian terdengar pergi keluar rumah.

Dengan sisa-sisa nyeri dan lemes gw mandi, siap-siap dan berangkat. Sempat bengong dulu di wc, feels awkward, alhasil gw telat sampe lokasi ketemuan (Citos).

Ga rugi berharap ini jadi jadwal ketemuan yang ditunggu, banyak hal menarik yang dibicarakan. Di sela obrolan, sesekali gw ‘izin’ untuk buka notes di BB karena merasa dapet ide untuk nulis atau menyempurnakan tulisan yang masih draft. Dapatlah gw 9 tema untuk ditulis.

++Mobile

Selamat Ulang Tahun Jati Ibrahim Toba

Selamat ulang tahun anak lakiku sayang. Sekarang genap 2 tahun usiamu, semakin banyak hal baru kamu pelajari nak, semakin tegap langkah larimu, semakin banyak ocehanmu, semakin kompleks hal yang kau mengerti, dan kamu tumbuh, tumbuh, dan terus bertumbuh. Haru, senang, kesal selalu bercampur waktu bermain denganmu, tapi yang pasti papa mama sayang banget dan bangga sama kamu nak.

Di ulang tahun kedua ini, papa hadiahin puisi, yang sudah papa buat sekian tahun yang lalu (nanti papa bacain ya sambil liat hamster 🙂 ) :

Berlarilah Anakku!

berlari dengan tangan terkepal
berlarilah anaku

biarkan angin menghapus air matamu
biarkan debu mengusapi hatimu

berlari dengan hati yang tegap
berlarilah anaku

janganlah kau berhenti
jangan biarkan kehidupan merenggut hidupmu
walau sedetik

berlari dengan kaki yang kekar
berlarilah anaku

jadilah perkasa
jadilah orang yang selalu menantang ketidakpastian
jadilah kamu

berlari dengan pikiran yang tenang
berlarilah anaku

tak peduli orang menyebutmu apa
kau harus punya cita-cita

dengan kesegaran langit
dan malaikat-malaikat malam
janganlah bersedih

jika kau jatuh saat berlari
bangun!
dan teruskan berlari

jangan berlari kosong
berlarilah demi mengejar sesuatu
berlarilah demi membangun sesuatu

ini masamu nak!
ini zamanmu!

berlari dengan segala dirimu
berlarilah anaku

kemana pun kau pernah tersesat
dalam berlari
tetaplah nak
pada akhirnya
berlarilah sebagai manusia
dan
berlarilah menuju Tuhan

===================
Toba Sr.
2:46 AM 12/9/2001

Selamat ulang tahun anakku 🙂

Coffee Maker

Ini cerita lama, kebetulan tadi pas lagi naek motor keingetan lagi.

Sebagai orang yang dari dulu senang kumpul dengan teman-teman dan kebetulan pada suka ngopi, gue pengen banget punya persediaan kopi mateng yang unlimited dan selalu hangat. Solusi untuk keinginan itu ada di coffee maker. Kebetulan banget pas nanya sama nyokap, ternyata nyokap punya dan gak dipake. Akhirnya gue yang pake, gue taruh dikamar supaya gampang digunakan ketika lagi kumpul-kumpul disini.

Sebelumnya test-drive dulu, sayangnya waktu itu filter kertasnya habis dan sulit banget cari refill filternya (kalo sekarang sih banyak di carefur atau Giant). Setelah dapet langsung baca manual dan dicoba. Semua setingan dicobain, dari yang kental, sedang, sampai yang encer. Tapi tidak ada satu pun setingan yang bisa menghasilkan kopi enak. Gue gak tau kenapa, mungkin itu disebabkan oleh kopi yang tersaring, begitu kesimpulan gue saat itu, yang jelas, it tastes like shit.

Walhasil, gak jadi juga gue pake itu coffee maker walau lagi kondisi kumpul-kumpul sama temen di rumah. Bahkan sampe sekarang, kalau lagi ngopi di kafe atau di manapun, gue akan segera tahu kalau kopi hitam yang disediakan itu berasal dari coffee maker. Kalo udah gitu gue akan misuh-misuh dan berkomentar “Dasar pelit!”

Mungkin kalau teman saya yang cukup cerewet bernama Tikno juga merasakan kopi produksi coffee maker, dia akan berkomentar lebih panjang lebar dan lebih pedas, bahkan kalau perlu, kebudayaan dan pabrik coffee maker juga dikomentarin… wuakakakakakakaka

Perihal Sopan Santun

Kemarin-kemarin, dalam suasana puasa, saya bermaksud menanyakan pengembalian pinjaman kepada seseorang yang usianya di bawah saya (kebetulan perempuan) via sms. Dan adegan itu berakhir berakhir dengan beberapa reply saya yang bernada marah dan menegur. Apa sebab? Bukan karena duitnya sempat ada tapi digunakan untuk hal lain, bukan sebab dia salah mengingat janji waktu pengembaliannya, bukan soal saya memang sedang butuh, tapi lebih karena bahasa dan metode penulisan reply nya yang membuat saya kesal.Dia mereply sms yang sudah saya rancang sehalus dan sesopan yang saya bisa dengan tulisan alay dan bahasa gaul abg.Ending smsnya kurang lebih; “.skali lage maav bgt .” Saya yang merasa sudah berusaha bicara halus dan membawa

Dulu ada teman saya yg menginap di rumah temannya. Karena si teman saya ini merasa sungkan, dia tidak pernah berbicara sepatah kata pun kepada orang tua (tuan rumah) temannya itu, bahkan cenderung menghindari. Setelah teman saya pulang, orang tuanya berkata kepada anaknya: “lain kali bawa teman itu yang tau sopan santun.” Teman saya itu sepertinya sampai pulang pun hanya diam saja, bahkan bilang terima kasih pun tidak.

Norma kesopanan memang sesuatu yang pasti akan bergeser dan berubah. Karena itu merupakan norma tak tertulis yang disepakati bersama oleh suatu masyarakat dalam suatu lingkungan dan dalam satu generasi. Kata-kata terakhir saya tambahkan dan garisbawahi karena satu alasan. Orang-orang dulu kerap ‘membakukan’ norma ini ke dalam adat istiadat, dengan maksud mewariskan ‘kesepakatan bersama’ tersebut dari generasi ke generasi. Sedangkan zaman sekarang, hukum adat mulai terhapus, perlahan dan pasti, terutama di kota besar, dimana peradaban modern telah meresap ke dalam urat nadi penduduknya. Proses pewarisan tersebut tinggal bergantung pada hukum agama, negara, dan keluarga (terutama keluarga).

Selain itu, sesuatu dapat dikatakan sopan atau tidak juga dipengaruhi moment, timing, usia, faktor kedekatan. Contoh: akan terasa kasar apabila ada teman yang sedang bersedih dan kita mengolok-olok kesedihannya tersebut, akan terasa kasar apabila disaat khutbah jum’at tiba-tiba seseorang berdiri, nunjuk khotib dan ketawa keras-keras. Akan terasa kasar apabila ada seorang pemuda memanggil kakek-kakek dengan namanya saja. Akan terasa kasar apabila kita baru kenal dan sudah manggil “hey bangsat, sini lu”.

Dan tidak jarang tiap-tiap hubungan seseorang memiliki klasifikasi khusus. Dengan si “A” tidak cocok kalau bicara makian, dengan si “B” jangan coba-coba ngeledek keluarganya, dengan si “C” jangan coba-coba mengolok-olok kota kelahirannya, dan lain sebagainya.

Dengan beragamnya nilai sopan-santun yang dipegang oleh masyarakat kita (dan juga masyarakat dunia, begitu kita memasuki pergaulan global) ada baiknya kita lebih cermat memilah dan memilih sikap. Dengan begitu, kekacauan yang disebabkan miskomunikasi lebih dapat dihindari.

Seperti kata grup rock Queen dalam lagunya: “because you don’t know, what it means to me.”

++Mobile