Tag Archives: alasan untuk terus berpuisi

Mengapa Terus Menulis Puisi?

Saya ingin dapat terus menulis puisi, dan saya bertekad untuk terus berpuisi. Profesi saya saat ini memang jauh dari dunia kesenimanan, dunia saya sekarang dunia jual-beli, dan kreatif desain interior. Di situ tempatnya menyelesaikan masalah riil dengan solusi-solusi riil. Sedangkan dalam seni, kita mencoba menguraikan segala permasalahan dalam bentuk dunia ide dan estetika (baik visual, audio, dll).

Kunci dalam terus menulis puisi selain tekad adalah ilham, inspirasi. Sulit untuk menerjemahkan masalah sehari-hari ke dalam puisi, atau dengan kata lain menjadikannya sebagai sumber ilham. Karena permukaan dari kegiatan sehari-hari adalah narasi. Dan kita secara fitrahnya sangat terbuai kepada narasi. Tantangannya adalah bagaimana memadatkan narasi tersebut ke dalam sekumpulan kata-kata berbobot dan tetap puitis.

Ya berbobot (padat, bermakna) dan tetap puitis, sebab terlalu padat akan menjadi kering, terlalu puitis akan terkesan melantur. Karena pada kompresi kata-kata yang lebih jauh lagi, banyak kata-kata pembentuk suasana puisi yang terpaksa harus dipapras habis, demi menjaga efisiensi penuturan. Contoh paling riil mengenai puisi yang berbobot adalah puisi-puisinya Chairil Anwar. Dengan metode beliau bahwa ilham itu harus dicari. Menulis puisi itu harus difikirkan seperti merumuskan campuran kimia, ilham itu harus dicari, bukan menunggu mood. Dan karena itu penyempurnaan sebuah puisi berjalan terus, tidak begitu selesai dituliskan seluruhnya lantas ia dikatakan sudah final. Ia harus terus dikoreksi sampai tercapai bentuk yang dirasa ideal. Jadilah puisi yang padat dan karenanya kebanyakan terasa kering.

Pemikiran Chairil itulah yang menginspirasi saya untuk terus menulis puisi. Bahwasannya ide atau ilham berpuisi itu harus dicari, digali, dan diuji dalam laboratorium pribadi untuk ditimbang kegagalan dan keberhasilannya. Dengan cara ini, sebuah puisi tidak menjadi ‘anak emas’ bagi penulisnya. Yang mana ketika datang kritikan atas puisi tersebut kepala dan dada terasa panas karena tersinggung. Puisi akan menjadi subjek dari penyempurnaan diri sendiri.

Dan saya pun terus menggali dari mana pun. Dari momen yang lewat sekelebatan. Dari memandangi apa yang di depan mata, akan langsung saya catat, meski hanya dapat sebaris judul. Perihal akan jadi atau tidak, itu belakangan. Ide itu seperti kuda liar, akan segera lepas jika tidak diikat (dengan ditulis).

Banyak momen-momen masa lalu yang saya peras kembali sari-sari peristiwanya, agar dapat dihadirkan dalam manis-kelamnya puisi. Meski sudah berulang-ulang, saya tak peduli, selama masih ada ruh yang bisa ditangkap, akan saya tuang ke dalam puisi.

Akan halnya dengan penampakan pada blog ini, itu merupakan upaya lain untuk membangun sebuah laboratorium pribadi mengenai puisi. Sebab itu pula saya mempersilahkan saudara-saudara saya para penulis puisi yang ingin menampilkan puisinya dalam laboratorium kecil ini.

Menjadi satu kepuasan tersendiri memerah keindahan dari segala macam momen ke dalam puisi, untuk kemudian berbagi perasaan tersebut kepada orang lain. Karena saya yakin, saya bukan manusia satu-satunya yang merasakan momen-momen tersebut. Dan kesenangan akan berlipat tatkala ada orang lain yang juga merasakan/mengalami emosi dan atmosfer dari puisi yang saya buat.

Saat ini, saya ingin membuat puisi yang seperti proklamasi kemerdekaan RI, yang membuat orang mengatakan: “Ya saya tau perasaan itu.” Saya ingin puisi saya juga mewakili perasaan manusia-manusia lainnya.