Tag Archives: perpisahan dengan teman

Kebahagiaan yang Menyedihkan Orang Lain

Ada satu masa di SMA yang saya sesalkan, pada masa-masa kejayaan; kelas 2 sma. Waktu itu saya dan 7 orang lainnya mengontrak satu rumah (Jl. Kampus 7 No. 10a), sebuah rumah yang nyaman, dengan 6 kamar, 1 gudang kecil, garasi yang muat untuk 2 mobil+gudang juga, 2 kamar mandi, dapur, ruang tamu yang luas, yang tempat cengkrama di bawah tangga. Saya kebetulan menempati kamar paling besar di lantai atas, jadi sekamar berdua. Room mate saya waktu itu namanya Rusdi (udah Rusydi aja), asal Bangkinang-Riau.

Kita ngontrak rumah itu selama 2 tahun (tahun pertama seharga 6 juta, tahun berikutnya 7,5 juta). Pada awal-awal ngontrak (awal kelas dua). Itu saat-saat paling menyenangkan. Pertama, kita baru saja terbebas dari kungkungan asrama (kelas 1 musti diasramakan dulu), kedua, 7 orang yang bergabung itu sebelumnya bukan teman yang saling kenal secara dekat, jadi proses perkenalan lebih jauh terjadi setelah ngontrak bareng. Salah satu kesenangan bujang, apalagi anak sma, itu ngobrolin tentang cewek inceran dan lika-liku usaha untuk mendapatkannya (yang kadang mereka terlibat juga bantuin).

Dan saya pun mendapatkan cewek yang saya taksir saat itu, berkat bantuan dan dukungan dari mereka juga. Mulailah bab berpacaran. Setiap malam saya selalu mengunjungi cewek saya. Kalau istirahat sekolah pun bersama dia juga. Pokoknya dunia saat itu hanya ada dia, dan dipenuhi dengan dia. Begitu pun ada teman lain yang juga begitu, dapet pacar, dan polanya sama seperti saya. Mulailah malam-malam di kontrakan menjadi sepi, setidaknya dari jam 7-10 sudah bisa dipastikan sepi, hanya beberapa orang yang nggak kemana-mana. Dan yang rutin ada di kontrakan pada jam segitu hanya segelintir saja, salah satunya Rusdi, room mate saya.

I’m happy, so happy. Sampai suatu malam, seorang teman menyampaikan kepada saya bahwa belakangan dia melihat Rusdi bertingkah agak aneh, dan terakhir kali terlihat sedang menangis. Menangis? Ada apa gerangan?

Sesegera mungkin saya mencari momen untuk menanyakan perihal tersebut kepada Rusdi nya langsung. Dan ternyata, dia sedih karena terancam harus keluar dari sekolah (waktu itu di bandung), kembali ke Riau, dan meneruskan disana. Dia merasa sangat enggan dan merasa sedih untuk meninggalkan sekolah yang sekarang, apalagi dia bercerita bahwa alasan dia ditarik pulang karena ayahnya yang orang Muhamadiyah merasa bahwa sekolah kami mengajarkan dan berusaha merubah muridnya jadi penganut Syi’i. Dia bingung mesti bercerita dan mencari solusi kepada siapa. Karena suasana kontrakan saat itu lebih sering sepi.

Begitu pulang pun semua kembali ke kamar dan sibuk masing-masing. Kebetulan teman saya ini orangnya pendiam, dan agak sulit untuk menceritakan sesuatu, kecuali mesti pada momen yang tepat dan itupun dengan dorongan dari lawan bicaranya.

Kiri-kanan : Rusdi, Akbar

Sejak itu saya mengajak beberapa orang yang masih sering di kontrakan untuk memikirkan jalan keluar. Solusi saat itu adalah saya menjadi juru bicara sekaligus negosiator ke ayahnya teman saya, ketika beliau datang nanti. Hari H pun tiba. Ayahnya datang, dan kami laksanakan rencana tadi. Saat itu ada saya, Rusdi dan ayahnya. Setelah bla bla bla bicara, saling mengajukan alasan dan argumen, jawabannya sudah final: Tidak, dan Rusdi musti pulang ke Bangkinang. Suasana berujung tegang dan hening. Rusdi menangis, saya cuma menunduk mengatupkan kedua tangan di atas lutut, tidak berani menatap mata tajam sang ayah.

Keadaan sudah tak tertolong, saya merasa lemas dan lemah. Dengan sopan saya berpamitan, meninggalkan mereka di ruang tamu. Beranjak perlahan ke kamar saya di atas, menapaki tangga besi satu-persatu yang dentamnya semakin memukuli hati saya.

Mata saya basah, menyadari seorang kawan akan segera meninggalkan kami semua. Mata saya basah, karena tiba-tiba semua saat-saat yang indah bersama pacar menjadi suatu gambaran yang ironis. Terbayang ketika saya sedang tertawa-tawa bersama kekasih, seorang kawan disini menangis kebingungan dilanda masalah. Malam-malam berbunga yang saya lalui berjalan paralel dengan malam-malam sepi seorang kawan yang butuh bantuan. Ada rasa sakit di ulu hati, yang tak bisa hilang dengan pembenaran yang bagaimanapun kecuali menerimanya sebagai rasa sakit dan sebuah kesalahan fatal.

Rusdi lagi iseng di atas genteng depan kamar

Saya orang yang memiliki kecenderungan untuk melupakan yang lain begitu sudah punya pacar. Dan ini menjadi semacam penyakit yang di kemudian hari selalu disesali.

So, if you really love someone, don’t make anyone else around you feels uncomfort about your relationship, don’t make them dislike him/her, by just ignoring everybody and anything else.

– dan saya belajar, kebahagiaan yang tidak bermanfaat buat orang lain (apalagi menjadi mudharat) adalah kebahagiaan semu –

++Mobile