Seting Akuarium Laut

Gak kerasa udah 2 tahun gue ngelakonin hobi akuarium laut, lumayan banyak suka duka yang terjadi selama kurun waktu tersebut. Mulai dari masuk UGD gara-gara jatuh pas bersihin akuarium sampai melihat akuarium gw berjalan secara ‘auto pilot’. Yup, berjalan secara auto-pilot, itu sebutan gue buat sedikitnya keterlibatan pemilik akuarium (gue) yang diperlukan dalam merawat dan menjaga akuarium itu tetap berjalan.

Orientasi saya di hobi ini pun terus berevolusi. Awalnya didorong sebuah pemikiran bodoh -yang diyakini sepenuh hati- bahwa ‘memelihara akuarium laut itu gampang’. Kemudian juga karena mengejar keindahan ikan-ikan yang berenang di sela terumbu karang, hingga akhirnya orientasi saya sekarang adalah ‘pencapaian’. Bagaimana menciptakan sistem yang fool-proof, yang bila suatu keadaan terpaksa akuarium ini mesti dirawat oleh orang yang tidak mengerti apa-apa tentang akuarium laut. Bagaimana menciptakan sistem yang tetap berjalan meski ketika rasa bosan melanda, yang otomatis akan mengurangi tingkat perhatian pemilik terhadap akuarium. Bagaimana menciptakan akuarium yang self-supporting; menghasilkan makanan sendiri, memfilter racun kimia sendiri, membuat siklus siang-malam sendiri (beserta arusnya), bahkan menambahkan air sendiri (sesuai penguapan yang terjadi). Intinya, bagaimana menciptakan sistem akuarium laut yang hampir maintenance-free.

Walau begitu, target saya saat ini bukanlah berusaha membuat ‘sepotong lautan kecil’ di dalam rumah. Karena dengan alat yang saya punya saat ini masih jauh dari itu, baru pada tahap ‘survive‘ saja.

Auto-pilot Doesn’t Mean Neglecting
Meski sedikit sekali keterlibatan gue secara langsung didalam proses maintenance rutin, bukan berarti ditinggalkan. Sebab, sebelum tahap ini tercapai, cukup banyak proses dirty-work yang harus dikerjakan. Dan kondisi ini pun tercapai berkat pengalaman memelihara akuarium laut selama hampir 2 tahun itu.

Akuarium -dalam hal ini akuarium laut- adalah sebuah closed system atau sistem tertutup. Dalam artian semua input dan output zat (nutrisi, gizi, ekses, dsb.) hanya berputar disitu-situ saja. Dan sebagaimana di alam, segala sesuatunya mesti diolah agar ia bisa jadi bermanfaat atau tidak menjadi bahaya. Dalam akuarium pengolahan dan penambahan zat-zat ini semua bergantung pada alat, pakan, seting habitat, dan zat tambahan (additive) yang diberikan oleh user atau pemilik akuarium.

Auto-pilot yang saya bangun dapat mengurangi keterlibatan pemilik hingga aktifitas pemilik hanya memberi pakan (harian)-pemberian additive (harian dan mingguan)-penambahan air seminggu sekali (tapi salinitas harian tetap terjaga stabilitasnya)-pembersihan lumut (2 minggu sekali, atau 2 bulan sekali kalo lagi males). Wakakakakaka ‘hanya’ nya banyak juga ya, tapi pada praktiknya sangat-sangat sedikit yang saya lakukan terhadap akuarium saya sekarang, lebih banyak menikmati dan mengamati.

So What’s My Setup?

Berikut ini daftar perlengkapan setup akuarium laut saya beserta kegunaannya.

1. Akuarium utama 100x50x50. Ini adalah akuarium utama atau biasa disebut oleh para hobiis sebagai Main Tank
2. Akuarium filter 40x40x40
3. Akuarium refugium 35x30x30
4. 2x39watt T5HO (daylight dan actinic blue)
5. 1 submersible lamp warna biru (nggak direndem, ditaroh di bawah lampu utama).
6. 2 wavemaker + 2 powerhead buat sirkulasi internal main tank.
7. 1 return pump buat ngalirin air dari akuarium filter (posisi di bawah main tank).
8. DIY protein skimmer
9. DIY Coil Denitrator
10. 2 AC Fan
11. Timer analog
12. Phillips daylight untuk refugium
13. DIY water auto-top up
14. Thermometer probe
15. DIY auto-on air pump
16. Automatic pellet feeder

++Mobile

2 thoughts on “Seting Akuarium Laut”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

81 − = 75