Tag Archives: puisi cinta

Kuusahakan yang kupunya

Bung!
kau memilihnya
tegas-tegas kau nyatakan
patrian jiwa bersama

sedikit-demi-sedikit
mencicil keberanian memenuhi
janji dan kewajiban

Maaf, aku tak tahu betul
ketepatan dan kebenaran pilihan

aku akan bungkam
suara-suara sumbang
tak peduli hitam-putih pilihanmu
sebab kita dua jiwa
sama harus memilih

Biar kusumbang doa
tak mungkin terjun dalam hidupmu

tapi, seperti puisiku terdulu,
Bila pilihan itu menggigit
tanpa terduga
bila pilihan itu mematahkan
tulang-tulang lunak hati

datanglah padaku,
kita cari obat terbaik untukmu


===================
Toba.
29/10/2004

Bajingan itu Duduk di atas bintang

Bintang itu jatuh
tepat saat kau menangis
bukan sebab duka kenabian
bukan ada rasul terbunuh
lebih karena mineral duka dari matamu

sengguk dan erang tertahan
setelah habis-habisan
berusaha,
dan dia tetap pergi, lurus-lurus
tanpa tatap kepastian

tangis-duduk di depan pintu
jadi tak guna
lelaki itu tutup kupingnya
dari segala suara yang kau hasilkan

Tak usah teriakan memohon
terdengar.
apalagi erang yang berbisik itu

Lautan hinaan kau timpakan
pada diri sendiri
masih juga merasa salah

– padahal satu masalahnya, dia memang bajingan! –


===================
Toba.
28/10/2004

==============

Kali ini dia tak (ingin) bodoh

Kepada AT

dia tak ingin menyesal lagi
dengan melepas kecintaan
yang mulai memeluknya

tak ingin menyia
jiwa yang mulai memandangnya
penuh tanya

seperti yang dulu-dulu
gadis manis mata ayu
yang gagal direngkuhnya

yang memenggal harapnya
sambil memeluk lelaki lain
dan bertanya dingin:
“Apa yang sedang kau lakukan?”

tepat di depan mata.


===================
Toba.
28/10/2004

==============

Jangan

Cukup lama kita selam-menyelam
dalam gelap dalam terang

Langit diatas kita
-kuanggap- tak pernah berubah
saat ini
dan saat yang lewat

Isi hati kita
adalah permen karet
yang nakal dan lengket

Wajahmu
sudah jadi pigura lamunanku

Berakhir disini ?!
Hatiku tak terima

Senyum pendampinganmu
selalu membayang pada pensil,
meja tulis, asbak, dan juga secangkir kopi

Dalam kematian perjumpaan kita
Aku merindukanmu


===================
08/01
Bandung
Toba.

Ballada Seorang Kawan

Buat kawanku A****

Seorang lelaki gelisah
Menapaki angin
gagah dan goyah

Dengan kepala penuh bunga mati
Ditatapnya kawan sekelebatan

Ia tidak merasa menapak di tanah
Ia berada ditamannya
Sibuk mengurusi bunga mati
sendiri

Ia terus sibuk berlari
Mengais mencari kekuatannya
Bagai dewa yang marah
mencoba bangkit
Dan kekalutan bercokol nyaman
disakunya

Dengan hati tak jelas warnanya
kukejar ia
Tapi tak dapat juga

Seorang lelaki gelisah
mengapa aku harus mengejarnya?
Bila tak kuat lagi
toh ia mati sendiri

Lebih dari itu
Aku hanya tak ingin
ia berlari dan mati sendiri


======================
Toba
Bandung, 20-Oktober-2000

Elegy of a Yastribian

Ini malam
Rabu malam
Dimana langit diterangi bulan
Dan bebintangan bertaburan
bagai pasir di pantai

Kita kumpul
tertawa
hadapi esok
dengan senyum di muka

-rumah ini hangat-

Kala itu
Dedaunan sirih bergerombol
lebat dihalaman
dan hati kita bergerombol
dekat dengan nyaman

Langkah demi langkah
kita susun
demi hadapi esok
yang kita harapkan lebih ringan
dengan kebersamaan

Ini malam
Rabu malam
Dimana langit masih diterangi bulan
dan bebintangan bertaburan
tapi kali ini dengan awan

Di mana kita?

-rumah ini beku-

Tawa kehilangan nyawa
yang tampak hanya kepalsuan-kepalsuan
di muka

Karena kita semua tenggelam dalam
persoalan masing-masing

-tanpa pernah mengungkapkannya-

Aku merindukan
Tawa segar
para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Senyum tulus
para bangsat yang dulu

Aku merindukan
gurauan konyol
para bangsat yang dulu

Aku merindukan kebersamaan
hanya
dari
para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku rindu…

===========
Toba.
Bandung, 07/10/99

Ballada Humaira, Si Kemerah-merahan

Seorang gadis
dengan cahaya seredup malam
datang depanku

Dengan mata berkaca
Ia muntahkan semua karat
didadanya

Dan demi duka tak terkira
menitiklah air matanya
– jernih dan murni –

Sudahlah! Wahai!
Sudahlah!
Demi langit yang menangis
dan daunan yang berguguran
mana kuat hatiku
melihatmu begitu

Bulan sembunyi lihat dukamu
Beburungan patahkan sayapnya
Demi matamu sembap dan hati yang luka

Apalagi aku!

Dalam sepoi angin menghulu
Dukamu manis nyusup ke kalbu

O, demi hatimu menyuram ungu
Kusadap semua getih dari lukamu
– kau tidak sendiri –

Tenang! Wahai!
Tenangkan hatimu
Curahkan semua air matamu
persetan mereka semua

Seorang gadis
dengan cahaya seredup malam
datang depanku
dan kubisikkan ke matanya
– kau tidak sendiri –


============
Toba.
Bandung, 14- Mei- 1999

Tentang Seorang Gadis

Air beriak-riak
Hujan memantau-mantau
Seorang gadis berlompatan
berkejaran dengan hujan

Dalam diam yang senyum
Dia sodorkan dua kerat taman bungan
dan sepotong kata
“Sorry, cuma ini”

Lantas dia lompat dan pergi
belum sempat aku tersadar
dia sudah tembak aku bertubi-tubi
kukutuk kesadaran yang terlambat

angin berbisik dari lompatannya
megipasi bibirku yang tersenyum

Ihh!
Kutangkap nanti
Dan kau kubuat mati

Toba 2000
=====================
Revised on 23 sept 2004

Harapan

Setiap langkah kecil
yang kita bisikkan pada angin
penuh cinta

Kita akan jadi anak nakal
meninggalkan ruangan ini
tanpa izin dari angin itu sendiri

kita akan melangkah
kepada sesuatu yang hidup
kita akan membelai bunga-bunga yang terlewati
kita candai mereka hingga cemburu dan kesal

kita telah pulang,
menyingkirkan semua kebohongan
dan kembali menghimpun doa-doa

dalam hitungan tahun-tahun
kita kais rahmat Tuhan
yang tercecer satu-persatu

Dalam tiap senyum yang lepas
kita melewati angin,
membasahi hujan,
membasuh air
dalam wudhu rahasia

kita intip Kitab Penghimpun
dengan cinta

Kita akan segera jumpa
Nanti kita bunuh jarak ini.

3:38 22/12/2003

Persembahan

kerinduan
dan kenyataan yang tersentuh
seperti dua kutub
yang enggan berjumpa

Pada kita
perpisahan menjadi deru nafas
wajah-wajah yang hilang
kecemasan dalam menanti

Ini tentang sejarah,
perasaan, kecemasan, perjalanan
dan kisah kita
yang penuh tikungan

Jelas, ini
buatmu

1 Januari 2003