Tag Archives: puisi cinta

About Us

From our small window of love
We will see the sun comes up
From the edge f the God’s love

Then,
We’ll force the night
Not to show hos darkful face

And we’ll make the days
Always bright by suns
Anda the night
Always full by stars
Always in God’s blessings
Always together
Always share each other
And avoid the farewell spells

If the trees and grasses
Grown up surely on the ground
So do our love
It’ll be shining brightly from
Our hearts and our prayers

And now
I put my hands in the sky
Surrender
Surrendering
My
Heart
To
You

23/08/99
Toba.

Masih Kita Coba

Masih kita coba
senyum itu
memecahkan keheningan
yang merentang
antara purnama-purnama

Masih kita coba
pandang itu
Bahasa yang bicara
melebihi sejuta surat-surat

Pundi-pundi kerinduan
Tumpah sejenak
Lantas berpura-pura kembali,
setelahnya, kita bunuh dalam-dalam

Masih kita coba
kata-kata itu
menyampaikan
yang tak tersampaikan
dari masa yang lewat

Setelah semua usaha itu
kita kembali pada kesadaran sebelumnya
kita telah pilih
jalan yang beda

23/11/0200:22 am

Dalam Rindu Ini

aku harus bergulat
dengan rindu ini
melesak-lesak inginkan kau

Dalam gelap malam
dalam sepi langkah
ku sitirkan namamu perlahan
kunyanyikan lagu kepulangan

aku jatuh gandrung padamu
terlena
merindukan tawamu
merindukan sujud bersamamu

kita harus bergulat
dengan rindu ini
dan bersanding dengan waktu

kuharap sangat
jiwa kita benar bersatu
dalam Kitab Agung
sehingga karat dan mati
tak menyentuh hati

Jarak mengekalkan rindu
Tanahmu menjadi tanahku
langitmu menjadi langitku
kurindu kau sangat

dalam rindu ini
kita sama menanti

21:21 18/09/2003

Puisi Buat Ibu

Ibu
Saat kau terduduk
dalam lelah yang sangat
aku khawatir
aku rasakan salah bergumpal-gumpal

Ibu
saat kau menasehatiku
aku mengerti
Aku paham semua harapanmu

Ibu
saat melihatmu menangis
Aku hancur
Saat melihatmu sakit
Aku hancur

-aku tak kuat-
Karena air matamu
adalah butiran-butiran kristal
dari lelahnmya sebuah perjuangan
disitu tercetak dosaku

Karena sakitmu
adalah tumpukan beban-beban
yang kau bawa
disitu pula tercetak dosaku

Melihat itu semua
aku bisa apa?

-aku tak kuat-

aku rasakan salah amat sangat

Rasanya percuma
aku pergi mengejar cita-cita
Kalau ibu lelah dan sakit
aku diam saja

-aku rasakan salah amat sangat-

Satu hal yang menenangkanku
akan dirimu Bu’

Pada saat kau duduk kelelahan
memandangi anakmu
dengan kebahagiaan
Kurasa malaikat di langit
melimpahkan shalawatnya kepadamu
dan Tuhan berikan senyuman rahmat-Nya
khusus untukmu

10/09/00
22:00
Toba.

Anggun

Kalau bukan keanggunanmu
ini pasti mentari paagi

Kalau bukan
bening matamu
Ini pasti kelok sungai
di bawah senja

Kamu datang
mengerjapkan mataku
pada hijau Burangrang

Kalau bukan
senyummu
Ini pasti permadani
hutan Kalimantan

Sumur tenang yang dalam
kau menarikku tanpa bicara
dan menyadarkanku
setelah aku jauh didalam
tanpa mampu keluar begitu saja

aku pasrah
hilang arah
dan terus ke dalammu

23/22/2002
00:12 am

Alam Damai dan Kamu

mendung berdendang manja
saat aku lewat di bawah langit tua
kau dan segala masa lalu kita
tiba-tiba hadir bersesakkan

kedamaian ini,
seperti aku dalam pelukmu
kenyamanan ini,
seperti ketika kau memandangku

kau turun sebagai
lembut rintik hujan
yang menetes anggun
dan merenggut segala penat

langit yang bergelung kelabu
meniupkan kesejukanmu
membawa kembali masa tiga tahun
kebelakang

aku berbincang dengan hawa dingin
tersenyum dengan angin basah
tak habisnya bicarakan kamu

berjalan di bawah langit dingin ini
melaju dengan kesadaran ototku
yang terasa perih terkena kamu
aku butuh lebih dari sekedar jaket,
kamu lebih menusuk dari angin

kehilangan seperti ini
melumatkan isi kepala
kehilangan begini
seperti angka nol di angkasa

besar dan tak ampun menyerangku
ini rindu yang parah dan akut
menyergap jantung,
menyekat pembuluh darahku

aku haus
kelaparan akan kamu
semakin aku bertualang
semakin aku haus
dan merasa bodoh
karena tahu, kau yang kubutuhkan

1:26 AM 7/7/2003

Rindu Kecil

aku enggan
mengucap rindu yang mendendam
takut hilang terbawa angin

tak ada yang bisa dipercaya
malam ini
kerinduan makin
kental setiap kusebut kamu

kamu adalah kopi
yang mendebarkan jantungku
mengikat lidah, dan mematikannya
dalam senyum tak jelas

ingin jumpa
tapi tak sekejap
hiruplah aku dalam-dalam
izinkan rindu ini
istirahat dirumahnya

12:33 AM 8/7/2003

Kamu

dalam sujud
kubuat gambarmu
kukirim langsung pada-Nya

Memintamu dari-Nya
mengirimkan sinyal harapan ke jagat raya
menanti jawab dalam tunduk

dan kau datang
seperti mimpi
tersenyum, dengan tenang
duduk disampingku

separuh dari jawaban
itu telah datang
bersama langkah, senyum,
dan manjamu

aku bangun
dan sujud,
tersenyum

12:58 AM 8/14/2003

Mimpi Abadi

Mimpi itu seperti parasit
mendekam dikepala
tak mau pergi
biar tahun-tahun sudah memakannya

setiap saat ia seperti tak ada
tapi selalu pada satu waktu
ia memanggilmu seperti orang gila
berteriak-teriak tak henti
berbicara lebih cepat dari detak jantung

impian itu tak mau terhapus juga
biar waktu sudah menguburnya
selalu ada nabi yang datang
menyerunya untuk bangkit

sudahlah lupakan saja
biarkan dia tidur
biarkan dia tenang
dan damaikan hidupmu

“apa ini? bising sekali!
lebih cepat dari jantungku!”

“Dia datang lagi?”

Tak ada mimpi yang mati
tak ada harapan yang pudar
kau hanya mengembunyikannya
tidak membunuhnya

dan kau tidak berhak membunuhnya
dia adalah bawaan tulus semenjak kau lahir
dia adalah kemurnian jiwamu
kau takkan pernah bisa membunuhnya

2:49 PM 7/5/2003

Lelaki Kecil

kata-kata itu menusukmu?

maafkan aku
pergulatan ini bagai tak bertepi
aku harus menyudahinya
aku harus memungut sebuah daun;
hidup atau mati

aku masih menginginkanmu
itu jelas,
tapi juga samar

-itu keserakahanku-
-itu keraguanku-

aku masih ingin bertualang
tulang belakangku masih tegap
keputusan bukan sahabatku sekarang

kau juga berjalanlah
tapi jangan hilang senyummu
jangan tak menoleh padaku
aku tak ingin kau hilang begitu saja

ah, tak mungkin ya
kaupun harus memilih
kaupun harus berjalan
dan bertemu dunia-dunia

tapi

kata-kata itu menusukmu?

jawablah,
atau tak perlu?
tapi jangan diam
tersenyumlah atau marahlah

kau simpan aku dalam kotak itu?
cukup?!

dalam rupanya
sumur yang tergali oleh bahasaku
hingga kau tercekat
dan menceburkan aku kedalamnya

“diam, kau sudah putuskan”
teriakmu dari atas sana.

3:18 AM 4/25/03