Elegy of a Yastribian

Ini malam
Rabu malam
Dimana langit diterangi bulan
Dan bebintangan bertaburan
bagai pasir di pantai

Kita kumpul
tertawa
hadapi esok
dengan senyum di muka

-rumah ini hangat-

Kala itu
Dedaunan sirih bergerombol
lebat dihalaman
dan hati kita bergerombol
dekat dengan nyaman

Langkah demi langkah
kita susun
demi hadapi esok
yang kita harapkan lebih ringan
dengan kebersamaan

Ini malam
Rabu malam
Dimana langit masih diterangi bulan
dan bebintangan bertaburan
tapi kali ini dengan awan

Di mana kita?

-rumah ini beku-

Tawa kehilangan nyawa
yang tampak hanya kepalsuan-kepalsuan
di muka

Karena kita semua tenggelam dalam
persoalan masing-masing

-tanpa pernah mengungkapkannya-

Aku merindukan
Tawa segar
para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Senyum tulus
para bangsat yang dulu

Aku merindukan
gurauan konyol
para bangsat yang dulu

Aku merindukan kebersamaan
hanya
dari
para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku rindu…

===========
Toba.
Bandung, 07/10/99

8 thoughts on “Elegy of a Yastribian”

  1. Toba El-Yastribi (Bokep simbol pemersatu)

    Kita?? yang BERUANG itu (sampe kelakuannya kayak beruang, mendekati Gorilla di musim kawin) itu cuma elo (patkay) sendiri bangsat! yang laennya orang!

    Reply ↓
  2. Patkay El-Yastribi

    yah, apa boleh buat, kita sudah terlalu tua untuk terus mengaum tentang kenangan lama. setiap dari kita menjalani kehidupan dan menuntaskan masalah masing2. pesen gw, jangan bosen jadi bangsat…

    Reply ↓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + 2 =