Category Archives: Puisi Cinta Nyenius

Bajingan itu Duduk di atas bintang

Bintang itu jatuh
tepat saat kau menangis
bukan sebab duka kenabian
bukan ada rasul terbunuh
lebih karena mineral duka dari matamu

sengguk dan erang tertahan
setelah habis-habisan
berusaha,
dan dia tetap pergi, lurus-lurus
tanpa tatap kepastian

tangis-duduk di depan pintu
jadi tak guna
lelaki itu tutup kupingnya
dari segala suara yang kau hasilkan

Tak usah teriakan memohon
terdengar.
apalagi erang yang berbisik itu

Lautan hinaan kau timpakan
pada diri sendiri
masih juga merasa salah

– padahal satu masalahnya, dia memang bajingan! –


===================
Toba.
28/10/2004

==============

Kali ini dia tak (ingin) bodoh

Kepada AT

dia tak ingin menyesal lagi
dengan melepas kecintaan
yang mulai memeluknya

tak ingin menyia
jiwa yang mulai memandangnya
penuh tanya

seperti yang dulu-dulu
gadis manis mata ayu
yang gagal direngkuhnya

yang memenggal harapnya
sambil memeluk lelaki lain
dan bertanya dingin:
“Apa yang sedang kau lakukan?”

tepat di depan mata.


===================
Toba.
28/10/2004

==============

Jangan

Cukup lama kita selam-menyelam
dalam gelap dalam terang

Langit diatas kita
-kuanggap- tak pernah berubah
saat ini
dan saat yang lewat

Isi hati kita
adalah permen karet
yang nakal dan lengket

Wajahmu
sudah jadi pigura lamunanku

Berakhir disini ?!
Hatiku tak terima

Senyum pendampinganmu
selalu membayang pada pensil,
meja tulis, asbak, dan juga secangkir kopi

Dalam kematian perjumpaan kita
Aku merindukanmu


===================
08/01
Bandung
Toba.

Kamu Pergi

Di langit
mendung menggantung
melambai-lambai
dengan kesedihan di tiap ruas jalan

Aku bergidik sepi
Membayangkan kamu sudah pergi

Tak pernah terbayangkan
sedihnya begini

melihatmu pergi
Aku ingin mengejarmu
ingin berkata jangan

Mulutku terkunci
kakiku terkunci
Aku hanya bisa memandangimu
Sampai kamu tak terlihat lagi

Tapi di hatiku
Aku masih melihatmu

Setiap jalanan begitu kosong
seperti satu kota hilang isi

Pagi
Pagi
Pagi
pagi menjelang
mendung datang
dan di jembatan Macan
kau menghilang


===================
Toba.
10/12/00

Ballada Luka

Sebuah rumah di Jl. Kampus VII No. 10a

Di bawah bulan suram
dan angin kesedihan
perpisahan mencekikku
Menyeret pada kenyataan

Cahaya-cahaya di jalanan
Semuanya suram
Hilang sinarnya diserap duka

Setiap becak yang berlalu
pergi dengan air mata

Asap kretek yang kuhisap
Menarikan altar kesedihan
Diwajahku

Dengan sesaji air mata setitik
Kupinang kesedihan di langit sana

Jangkrik bernyayi memastikan
Disayapnya kepak perpisahan berdengung

-asap dan angin berdansa-

Pada kaleng susu kesehatan
Kenangan bersemayam
Pada genting sekolahan lebih lagi

Malam ini
Langit tak berhias
Disimpannya bintang
Dalam tumpukan awan-awan kelam

Dikejauhan orang tetawa nikmati kosmos lain kehidupan

-yang jelas bukan perpisahan-

Dedaunan merunduk,
Titiskan air matanya ke dada bunda
Bunga-bunga keringkan madunya
Demi suasana yang duka
Genting-genting berlompatan
Bingung hendak kemana

-asap dan angin terus berdansa-

Semuanya bertumpuk,
Paksa air mata cium dunia

Bila tujuh menjadi lima
Apakah sama !?!?

Kita semakin kehilangan warna


======================
Toba
Bandung.

Ballada Seorang Kawan

Buat kawanku A****

Seorang lelaki gelisah
Menapaki angin
gagah dan goyah

Dengan kepala penuh bunga mati
Ditatapnya kawan sekelebatan

Ia tidak merasa menapak di tanah
Ia berada ditamannya
Sibuk mengurusi bunga mati
sendiri

Ia terus sibuk berlari
Mengais mencari kekuatannya
Bagai dewa yang marah
mencoba bangkit
Dan kekalutan bercokol nyaman
disakunya

Dengan hati tak jelas warnanya
kukejar ia
Tapi tak dapat juga

Seorang lelaki gelisah
mengapa aku harus mengejarnya?
Bila tak kuat lagi
toh ia mati sendiri

Lebih dari itu
Aku hanya tak ingin
ia berlari dan mati sendiri


======================
Toba
Bandung, 20-Oktober-2000

Elegy of a Yastribian

Ini malam
Rabu malam
Dimana langit diterangi bulan
Dan bebintangan bertaburan
bagai pasir di pantai

Kita kumpul
tertawa
hadapi esok
dengan senyum di muka

-rumah ini hangat-

Kala itu
Dedaunan sirih bergerombol
lebat dihalaman
dan hati kita bergerombol
dekat dengan nyaman

Langkah demi langkah
kita susun
demi hadapi esok
yang kita harapkan lebih ringan
dengan kebersamaan

Ini malam
Rabu malam
Dimana langit masih diterangi bulan
dan bebintangan bertaburan
tapi kali ini dengan awan

Di mana kita?

-rumah ini beku-

Tawa kehilangan nyawa
yang tampak hanya kepalsuan-kepalsuan
di muka

Karena kita semua tenggelam dalam
persoalan masing-masing

-tanpa pernah mengungkapkannya-

Aku merindukan
Tawa segar
para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Senyum tulus
para bangsat yang dulu

Aku merindukan
gurauan konyol
para bangsat yang dulu

Aku merindukan kebersamaan
hanya
dari
para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku merindukan
Para bangsat yang dulu

Aku rindu…

===========
Toba.
Bandung, 07/10/99

Cinta Orang Idiot

LELAKI :

Cinta kita
adalah cinta yang aneh
yang pepohonan pun tak mau mengakuinya

Aku hanya inginkan kamu
dan dunia kecil kita

kata-kata kita yang berbisik
melampaui semua angan-angan
dan segala kenikmatan

Kita akan berlari
bersama dunia kecil kita
dan harapan0harapan kita yan gsederhana

Aku mau mimpi-mimpi itu
Aku tak tahu bahwa aku hidup
sampai kamu muncul dalam hidupku

Aku melihatmu kemarin
kau terasa begitu jauh, begitu tinggi.

Sekarang aku melihatmu didepanku,
memelukmu, kita berbicara denan aneh
aku merasa telah menggapaimu

Tak ada yang peduli
dengan cinta kita yang aneh
dunia dan kehidupan terus berputar
tanpa menghiraukan kita

Gelap dan terang
hitam dan putih
tak pedul pada kita

Kita pun tak perlu
mempedulikan mereka
sebab kita punya dunia kecil kita

Tapi ada yang peduli pada kita,
Hidup.
dengan kepeduliannya
ia ingin memisahkan kita

Aku marah pada hidup
dia hanya peduli pada diri dan segala
skenarionya
Dia tak peuli pada keingnan kita,
pada dunia kecil kita

Dia tak mengerti
bahwa di sini bersamamu
duduk dengan segala kebodohan kita yang manis
adalah seluruh hidupku

Aku hargai seluruh dayamu
untuk melindungi aku dari hidup
– membuatku semakin mencintaimu –
– makin tak ingin meninggalkan dunia kecil kita –

Tapi aku tahu itu tak akan berhasil

Tapi itu adalah
hal termanis yang pernah aku dengar
Hal termanis yang pernah aku dengar

Kemarin,
kukira dunia kecil kita punya hidup sendiri
Hari ini kusadari, dunia kecil kita
berada dalam hidup yang lebih besar

Karenanya aku harus meninggalkanmu
aku harus terus berlari
menjalankan hidup yang lebih besar itu
Aku akan melompat
dan berakhir

WANITA :

Jangan tinggalkan aku
ini dunia kecil kita
Begitu sempurna
sudah cukup bagiku

Jangan rusakkan
jangan pergi

Aku akan menangis
saat kau pergi dan matahari siang menyinari aku
Saat itu aku akan sadar
tak ada yang peduli pada kesedihanku
dan pada dunia kecil kita yang hancur

Aku akan marah
dan tak bisa berbuat apa-apa
– karena kita bukan apa-apa –

Aku akan merindukan
gonggongan kecilmu yang aneh

Jangan bicara
bahwa kau akan pergi
Karena aku akan marah padamu
Katakan itu bohong
dan segera peluk akau sedekap-dekapnya

Suatu hari kau akan menyesalinya
Karena aku akan datang ke kamarmu
dengan seluruh diriku
dan kau tak disana

Biarkan aku mencintaimu
Biarkan aku menyelamatkanmu

Kembalilah
Bersama kebodohan yang hanya cinta
Bersama kebodohan yang hanya cinta

LELAKI :

Tapi ada hidup yang lebih besar

WANITA :

Air mataku akan menitis
dan dia akan kesepian


==========
Toba.
Bandung, 30/09/01

Ballada Humaira, Si Kemerah-merahan

Seorang gadis
dengan cahaya seredup malam
datang depanku

Dengan mata berkaca
Ia muntahkan semua karat
didadanya

Dan demi duka tak terkira
menitiklah air matanya
– jernih dan murni –

Sudahlah! Wahai!
Sudahlah!
Demi langit yang menangis
dan daunan yang berguguran
mana kuat hatiku
melihatmu begitu

Bulan sembunyi lihat dukamu
Beburungan patahkan sayapnya
Demi matamu sembap dan hati yang luka

Apalagi aku!

Dalam sepoi angin menghulu
Dukamu manis nyusup ke kalbu

O, demi hatimu menyuram ungu
Kusadap semua getih dari lukamu
– kau tidak sendiri –

Tenang! Wahai!
Tenangkan hatimu
Curahkan semua air matamu
persetan mereka semua

Seorang gadis
dengan cahaya seredup malam
datang depanku
dan kubisikkan ke matanya
– kau tidak sendiri –


============
Toba.
Bandung, 14- Mei- 1999

Buat Lukamu

Buat kawanku F****

dari sana rupanya
luka itu bermula
pada wajah kemayu penuh senyum
dan jalan gontai seorang dara

angin yang diperkosa waktu
mengantarkankannya ke sudut hatimu

tuk!
dititikkannya sebilah luka

dari sini rupanya tangismu berasal
noda hitam yang melegamkan kemudaanmu

berusaha berulang kali
membangun benteng tinggi dan kuat
tapi selalu luruh pada akhirnya

berusaha pada tiap waktu
menghadirkan tameng terkokoh
tapi justeru kau jatuh bersamanya

bersabarlah.
Paulo Cuelho bilang:
“Berdamailah dengan hatimu”

Kenalilah,
ia luka, dan tetap namanya luka
ia tamumu saat ini
jangan kau banting pintu ke depan mukanya
karena ia akan datang lewat jendela, langit-langit,
bahkan dari lantaimu
sampai dia mengepung relung jiwamu
hingga kau sesak dan pingsan

bukakan pintu itu
dia hanya ingin menyampaikan
sepucuk surat dari hidup,
yang akan diletakkannya di ruang tamu
lantas pergi dari pintu yang tak kau ketahui

Tapi aku senang melihat deru-mu
kegagahan kecil yang lahir dari amarah merah

– kepada dia yang meninggalkanmu serta-merta –

kokok ayam jantan yang kehilangan cinta
antara parau kesedihan dan kebaikan mentari pagi
jangan lupa, itu fantastis!
itulah kau saat ini

06/10/04